MODUL
MEDIA PEMBELAJARAN IPS
Disusun Oleh:
Moch. Noviadi Nugroho,
M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEPENDIDIKAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012
PERENCANAAN
PEMBELAJARAN
KONSEP PERENCANAAN
1. Perencanaan melibatkan proses penentuan tujuan tentang
keadaan masa depan yang diinginkan
2. Pemilihan dan penentuan cara yang akan ditempuh (dari
semua alternatif yang mungkin) dan
3. Usaha mencapai tujuan tersebut
Cunningham mengemukakan
bahwa perencanaan ialah menyeleksi dan menghubungkan pengetahuan, fakta,
imajinasi dan asumsi untuk masa yang akan datang dengan tujuan memvisualiasi
dan memformulasi hasil yang diinginkan, urutan kegiatan yang diperlukan, dan
perilaku dalam batas-batas yang dapat diterima yang akan digunakan dalam penyelesaian.
Dari pengertian ini menekankan pada usaha menyeleksi dan menggabungkan sesuatu
dengan kepentingan masa yang akan datang serta usaha untuk mencapainya.
Steller, perencanaan
adalah hubungan antara apa yang ada sekarang (what is) dengan bagaimana seharusnya (what should be) yang
bertalian dengan kebutuhan, penentuan tujuan, prioritas, program dan alokasi
sumber. Pada teori ini perencanaan menekankan pada usaha mengisi kesenjangan
antara keadaan sekarang dengan keadaan yang akan datang disesuaikan dengan apa
yang dicita-citakan. Pada definisi yang lain Robbins menyatakan bahwa
perencanaan adalah suatu cara untuk mengantisipasi dan menyeimbangkan
perubahan. Dalam definisi ini memiliki asumsi bahwa perubahan selalu terjadi.
KONSEP PEMBELAJARAN
Suatu Proses Kegiatan yang dilakukan guru bagaimana merekayasa anak didik
agar melakukan kegiatan belajar, hasilnya tergantung pada anak didik itu
sendiri (mengkondisikan)
Beberapa
pakar memberikan definisi tentang belajar. Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari “instruction” yang banyak dipakai dalam dunia pendidikan di
Amerika Serikat. Pembelajaran merupakan istilah yang baru dalam dunia
pendidikan. Konsep pembelajaran merupakan konversi dari istilah proses belajar
mengajar selama ini digunakan. Jadi konsep pembelajaran sendiri mengandung
unsur belajar dan mengajar.
Menurut
Witting belajar adalah perubahan yang relatif menetap, terjadi dalam segala
macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman.
Hakikat
belajar menurut Hilgard dan Brower
dalam Oemar Hamalik adalah perubahan
dalam perbuatan melalui aktivitas, praktek, dan pengalaman. Adapun menurut
Morgan dalam Ngalim Purwanto, belajar adalah setiap perubahan yang relative
menetap dalam tingkah laku yang terjadi sebagai suatu hasil dari latihan atau
pengalaman. Beberapa ciri umum kegiatan belajar sebagai berikut:
- Belajar menunjukkan suatu aktivitas pada diri seseorang yang disadari atau disengaja.
- Belajar merupakan interaksi individu dengan lingkungannya.
- Hasil belajar ditandai dengan perubahan tingkah laku
Pembelajaran
adalah pemindahan pengetahuan dari seseorang yang mempunyai pengetahuan kepada
orang lain yang belum mengetahui. Pengetahuan yang dipindahkan tersebut berasal
dari dua sumber, yakni: sumber Ilahi dan sumber manusiawi. Pemindahannya
dilakukan melalui proses pembelajaran, dimana terjadi interaksi antara pengajar
sebagai katalisator dengan pelajar sebagai katalis. Pelajar secara kontinue
menyempurnakan diri sehingga mampu menjadi katalis yang semakin meningkat
kemampuannya.
Sejalan
dengan pengertian pembelajaran sebagai suatu proses, Abdul Rachman Shaleh
mengartikan bahwa: “Proses pembelajaran adalah interaksi yang bernilai positif
antara siswa dan pendidik yang bertujuan adanya perubahan ke arah peningkatan
kemampuan siswa. Terlaksananya proses pembelajaran yang baik adalah tercapainya
efektivitas pembelajaran, dimana siswa merupakan pusat dari kegiatan
pembelajaran.
Berdasarkan
pendapat tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa belajar itu pada hakekatnya
perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang disebabkan adanya perbuatan
yang merupakan hasil dari pengalaman yang dirasakan seseorang.
Pembelajaran menurut
Dengeng adalah upaya untuk membelajarkan siswa. Secara inplisit dalam
pembelajaran terdapat kegiatan memilih, menetapkan, mengembangkan metode untuk
mencapai hasil pengajaran yang diinginkan, serta didasarkan pada kondisi
pembelajaran yang ada, kegiatan ini merupakan inti dari perencanaan
pembelajaran. Menurut Uno bahwa pembelajaran memiliki hakikat perencanaan atau perancangan
sebagai upaya untuk membelajarkan siswa.
Pembelajaran yang
akan direncanakan memerlukan berbagai teori untuk merancangnya, agar rencana
pembelajaran yang disusun benar-benar dapat memenuhi harapan dan tujuan
pembelajaran, perlunya perencanan pembelajaran dimaksudkan agar dapat dicapai
perbaikan pembelajaran. Dalam perbaikan pembelajaran diasumsikan bahwa:
Perbaikan kualitas
pembelajaran; ini haruslah diawali dengan perbaikan desain pembelajaran.
Perencanaan pembelajaran dapat dijadikan titik awal dari upaya perbaikan
kualitas pembelajaran. Hal ini dmungkinkan karena dalam desain pembelajaran,
tahapan yang akan dilakukan oleh guru dalam mengajar telah terancang dengan
baik, mulai dari mengadakan analisis dari tujuan pembelajaran sampai dengan pelaksanan
evaluasi sumatif yang tujuannya untuk mengukur ketercapaian tujuan pembelajaran
yang telah ditetapkan.
Pembelajaran
dirancang dengan pendekatan sistem; desain pembelajaran yang dilakukan haruslah
didasarkan pada pendekatan sistem. Hal ini disadari bahwa dengan pendekatan
sistim akan memberikan peluang yang lebih besar dalam mengintegrasikan semua
variable yang mempengaruhi belajar.
Desain pembelajaran
mengacu pada bagaimana seseorang itu belajar; Rancangan pembelajaran biasanya
dibuat berdasarkan pendekatan perancangnya, Hal ini biasanya muncul pendekatan
yang bersifat intuitif yang rancangan pembejalajarannya banyak diwarnai oleh
kehendak perancangnya, dan pendekan perancangan yang bersifat ilmiah yakni
diwarnai dengan berbagai teori yang dikemukakan oleh para ilmuan pembelajaran.
Jika pembuatan rancangan pembelajaran dibuat bersifat intuitif ilmiah yang
merupakan perpaduan antara keduanya, dapat menghasilkan rancangan pembelajaran
yang sesuai dengan pengalaman empiris yang pernah ditemukan pada saat melaksanakan
pembelajaran yang dikembangkan dengan teori-teori yang relavan. Pendekanatan
inilah yang akan dapat menghasilkan pembelajaran yang lebih baik.
Desain pembelajaran
diarahkan pada kemudahan belajar; Pembelajaran adalah upaya membelajarkan siswa
dan perancangan pembelajaran merupakan penataan upaya tersebut agar muncul
prilaku belajar. Dalam kondisi yang ditata dengan baik strategi yang
direncanakan akan memberikan peluang dicapainya hasil pembelajaran. Disinilah
peran guru mendesain pembelajaran secara terncana sehingga dapat mempermudah
melakukan kegiatan pembelajaran. Jika ini dilakuakn dengan baik maka sasaran
akhir adalah memudahkan belajar siswa dapat tercapai.
Desain pembelajaran
melibatkan variable pembelajaran; Desain pembelajaran haruslah mencakup semua
variable pembelajaran. Ada tiga variable yang harus dipertimbangkan dalam
merancang pembelajaran yakni (1) Variable kondisi yang mencakup semua variable
yang tidak dapat dimanipulasi oleh perencanaan pembelajaran. yang termasuk
variable ini adalah tujuan pembelajaran, karasteristik bidang studi dan
karasteristik siswa. (2) Variable metode pembelajaran yang mencakup semua cara
yang dapat dipakai untuk mencapai tujuan pembelajaran dalam kondisi tertentu.
Yang termasuk variable ini adalah strategi pengorganisasian pembelajaran,
strategi penyampaian pembelajaran, dan stratgi pengelolaan pembelajaran. (3)
Variable hasil pembelajaran mencakup semua akibat yang muncul dari pengunaan
metode pada kondisi tertentu, seperti keefektifan pembelajaran, efisiensi
pembelajaran, dan daya tarik pembelajaran.
Desain pembelajaran
penetapan metode untuk mencapai tujuan; Menetapkan metode pembelajaran yang
optimal adalah inti dari desain pembelajaran dalam mencapai hasil pembelajaran
yang diinginkan. Fokus utamanya adalah pada pemilihan, penetapan dan
pengembangan variable metode pembelajaran. Pemilihan metode pembelajaran harus
didasarkan pada analisis kondisi dari hasil pembelajaran. Ada beberapa prinsif
yang perlu dipertimbangkan dalam menetapkan metode pembelajaran antara lain;
(1) tidak ada satu metode pembelajaran yang unggul untuk semua tujuan dalam
semua kondisi, (2) Metode pembelajaran yang berbeda memiliki pengaruh yang
berbeda dan konsisten pada hasil pembelajaran, dan (3) kondisi pembelajaran
bisa memiliki pengaruh yang konsiten pada hasil pengajaran.
Desain pembelajaran
dapat dimaknai dari berbagai sudut pandang, misalnya sebagai disiplin, sebagai
ilmu, sebagai sistem, dan sebagai proses. Sebagai disiplin, desain pembelajaran
membahas berbagai penelitian dan teori tentang strategi serta proses
pengembangan pembelajaran dan pelaksanaannya. Sebagai ilmu, desain pembelajaran
merupakan ilmu untuk menciptakan spesifikasi pengembangan, pelaksanaan,
penilaian, serta pengelolaan situasi yang memberikan fasilitas pelayanan
pembelajaran dalam skala makro dan mikro untuk berbagai mata pelajaran pada
berbagai tingkatan kompleksitas. Sebagai sistem, desain pembelajaran merupakan
pengembangan sistem pembelajaran dan sistem pelaksanaannya termasuk sarana
serta prosedur untuk meningkatkan mutu belajar.
Sementara itu desain
pembelajaran sebagai proses menurut Syaiful Sagala (2005:136) adalah
pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan secara khusus
teori-teori pembelajaran unuk menjamin kualitas pembelajaran. Pernyataan
tersebut mengandung arti bahwa penyusunan perencanaan pembelajaran harus sesuai
dengan konsep pendidikan dan pembelajaran yang dianut dalam kurikulum yang
digunakan.
Dengan demikian dapat
disimpulkan desain pembelajaran adalah praktek penyusunan media teknologi
komunikasi dan isi untuk membantu agar dapat terjadi transfer pengetahuan
secara efektif antara guru dan peserta didik. Proses ini berisi penentuan
status awal dari pemahaman peserta didik, perumusan tujuan pembelajaran, dan
merancang “perlakuan” berbasis-media untuk membantu terjadinya transisi.
Idealnya proses ini berdasar pada informasi dari teori belajar yang sudah
teruji secara pedagogis dan dapat terjadi hanya pada siswa, dipandu oleh guru,
atau dalam latar berbasis komunitas.
PENTINGNYA PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. Karena suatu perencanaan meliputi usaha untuk
menetapkan tujuan atau menformalisasikan tujuan yang dipilih untuk dicapai,
maka perencanaan dapat membedakanarah dalam usaha-usaha pembelajaran agar
proses KBM berjalan dgn baik
2. Memudahkan pelaksanaan proses KBM untuk
mengidentifikasikan hambatan-hambatan apa yang mungkin timbul dalam usaha
mencapai tujuan tersebut.
3. Menghindarkan pertumbuhan dan perkembangan yang tak
terkontrol
Komponen utama dari desain pembelajaran adalah:
- Pembelajar (pihak yang menjadi fokus) yang perlu diketahui meliputi, karakteristik mereka, kemampuan awal dan pra syarat.
- Tujuan Pembelajaran (umum dan khusus) Adalah penjabaran kompetensi yang akan dikuasai oleh pembelajar.
- Analisis Pembelajaran, merupakan proses menganalisis topik atau materi yang akan dipelajari
- Strategi Pembelajaran, dapat dilakukan secara makro dalam kurun satu tahun atau mikro dalam kurun satu kegiatan belajar mengajar.
- Bahan Ajar, adalah format materi yang akan diberikan kepada pembelajar
- Penilaian Belajar, tentang pengukuran kemampuan atau kompetensi ang sudah dikuasai atau belum.
Pengertian dan Tujuan Perencanaan Pembelajaran
Proses pembelajaran bisa disebut interaksi edukatif yang sadar akan
tujuan, artinya interaksi yang telah dicangkan untuk suatu tujuan tertentu,
setidaknya adalah tercapainya tujuan instruksional atau tujaun pembelajaran
yang dirumuskan dalam satuan pelajaran. Proses pemebentukan setiap rencana
latihan maupun pembelajaran yang baik mulai dengan penentuan tujuan pelajaran
yang tepat. Hal ini berlansung dengan mengidentifikasi setiap mata pelajaran
pokok atau topik yang harus dicakup untuk mencapai tujuanini. Kemudian
pokok-pokok ini harus disesuaikan yang antara yang satu dengan yang lain untuk
membentuk pelajaran itu. Perencanaan pengajaran merupakan suatu program yang
dipersiapkan untuk mengajar peserta didik dalam mencapai tujuan yang sudah
ditentukan.
Perencanaan pembelajaran (Intructional
Design) dapat
dilihat dari berbagai sudut pandang yaitu: (1) perencanaan pengajaran sebagai
sebuah proses adalah pengembangan pengajaran secara sistematik yang digunakan
secara khusus teori-teori pembelajaran dan pengajaran untuk menjamin kualitas
pembelajran. Dalam perencanaan ini akan menganalsis kebutuhan dari proses
belajar dengan alur yang sistematik untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Termasuk di dalamnya melakkukan evaluasi terhadap materi pelajaran dan
aktivitas pengjaran; (2) perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin ilmu
pengetahuan senangtiasa memperhatikan hasil-hasil penelitian dan teori-teori
tentang strategi pengajaran dan implementasinya dalam pembelajran; (3)
perencanaan pengajaran sebagai sins (science) adalah mengkreasi secara
detail spesifikasi dari pengembangan, implementasi, evaluasi, dan pemeliharaan
terhadap situasi maupun fasilitas pembelajaran terhadap unit-unit yang luas
maupun yang lebih sempit dari materi pelajaran dengan segala tingkatan
kompleksitasnya; (4) perencanaan pengajaran sebagai realitas adalah ide
pengajaran dikembangkan dengan dengan memberikan hubungan pengajaran dari waktu
ke waktu dalam suatu proses yang kerjakan perencana mengecek secara cermat
bahwa semua kegiatan telah sesuai dengan tuntutan sains dan dilaksanakan secara
sistematik; (5) perencanaan pengajaran sebagai suatu sistem adalah sebuah
susunan dari sumber-sumber dan prosedur-prosedur untuk menggerakkan
penmbelajaran. Pengembangan sistem pembelajaran melalui proses yang sistematik
selanjutnya diimplementasikan denan mengacu pada sistem perencanaan; dan (6)
perencanaan penajaran sebagai teknologi adalah suatu perencanaan yang mendorong
penggunaan teknik-teknik yang dapat mengembangkan tingkah laku kognitif dan
teori-teori konstruktif terhadap solusi dari problem pengajaran.
Mengacu pada
berbagai sudut pandang tersebut, perencanaan pembelajaran harus
sesuai dengan konsep pendidikan dan pengajaran yang dianut dalam kurikulum.
Penyusunan perencanaan program pengajaran sebagai sebuah proses, displin ilmu
pengetahuan, realitas, sistem, dan teknologi pembelajaran bertujuan agar pelaksanaan
pengjaran berjalan lebih lancar dan hasilnya lebih baik.
Perencanaan pembelajaran juga perlu memperhatikan keadaan sekolah tempat
pembelajaran ini berlangsung. Terutama ketersediaan sarana dan prasarana,
kelengkapan dan alat bantu pelajaran menjadi pendukung terlaksananya berbagai
aktivitas belajar peserta didik. Guru tidak mungkin melaksanakan kegiatan
pembelajarnmenggunakan bak pasir jika di sekolah tersebut tidak tersedia bak
pasir yang diperlukan tersebut. Guru juga tiak akan mungkin meminta peserta
didik untuk mengamati tanaman jika di sekolah tersebut tidak ada kebun sekolah.
Dalam
menyusun perencanaan pembelajaran komponen peserta didik perlu mendapat
perhatian yang memadai. Agar bahan dan cara belajar ini sesuai dengan kondisi
peserta didik, maka penyusunan skenario program pembelajaran dan keluasan
maupun kedalaman bahan ajar perlu disesuaikan kelas yang pandai atau cepat
belajar, sedangk dan kelompok kurang atau lambat belajar. Guru dalam menyusun
rencana pelajaran harus mendasarkan pada kriteria peserta didik yang akan
menerima pelajaran itu. Untuk mengatasi kemampuan peserta didik, guru perlu
menggunakan metode atau bentuk keiatan mengajar yang bervariasi pula.
Data atau
informasi tentang peserta didik dapat dimanfaatkan untuk penyusunan dan
perencanaan penyempurnaan pengajaran. Pengajaran yang baik hendaknya disusun
dengan berpedoman kepada keadaan, kemampuan, minat dan kebutuahan peserta
didik. Hal ini secara nyata dapat diketahui melalui proses dan hasil
pengumpulan data. Sebelum menyiapkan rencana pelajaran, atau satuan pelajaran
guru hendaknya mempelajari drulu record peserta didik. Melalui
pemanfaatn record tersebut, guru akan emperoleh gambaran umum tentang
kondisi dari masalah peserta didik, dengan mengetaui kondisi tersebut guru dapat
mengadakan berbagai usahan penyesuaian pelajarn dengan perbedaan individu. Tiap
peserta didik mempunyai kemampuan, kondisi decepatan belajar, dana lain-lain
yang berbeda.
Dalam proses
pembelajaran guru dituntut memiliki kemampuan dalam segala hal yang
berkaitan dengan pelaksanaan pendidikan pengajaran. Jika seorang guru suatu
saat memiliki kekuarangan dalam hal-hal tertentu, maka guru yang bersangkutan
dituntut untuk belajar meningkatkan kompetensinya baik melalui jalur pendidikan
dan latihan maupun belajar mandiri dengan melakkukan diskusi dengan teman
sejawat secara intensif. Dalam program semester guru menyususn rencan
penyampaian bahan ajar, dab bagab ahr tersebut sudah benar-benar dikuasai oleh
guru baik pangajarn di kelas maupun suatu percobaan yang akan dilaksanakan di
laboratorium atau temapt lain yang ditunjuk sebagai tempat belajra peserta
didik.
KOMPONEN YANG PERLU ADA DALAM PERENCANAAN PEMBELAJARAN
1. EKSPLORASI
2. ELABORASI
3. KONFIRMASI
EKSPLORASI
Eksplorasi adalah upaya awal membangun pengetahuan melalui peningkatan
pemahaman atas suatu fenomena (American Dictionary).
Strategi yang digunakan memperluas dan memperdalam pengetahuan dengan
menerapkan strategi belajar aktif.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis eksplorasi :
(1)
Melibatkan peserta didik mencari informasi (topik tertentu),
(2)
Menggunakan beragam pendekatan ,media dan sumber belajar,
(3) Memfasilitasi
terjadinya interaksi antar peserta didik.
ELABORASI
Elaborasi adalah kegiatan memastikan bahwa pelajaran diorganisasikan dari
materi yang sederhana menuju pada harapan yang kompleks dengan mengembangkan
pemahaman pada konteks yang lebih bermakna sehingga berkembang menjadi ide-ide
yang terintegrasi
Menurut Reigeluth (1999), elaborasi mengandung beberapa nilai
·
Terdapat
urutan instruksi yang mencakup keseluruhan sehingga memungkinkan untuk
meningkatkan motivasi dan kebermaknaan.
·
Memberi
kemungkinan kepada pelajar untuk mengarungi berbagai hal dan memutuskan urutan
proses belajar sesuai dengan keinginannya.
·
Memfasilitasi
pelajar dalam mengembangkan proses pembelajaran dengan cepat.
·
Mengintegrasikan
berbagai variabel pendekatan sesuai dengan desain teori.
Elaborasi mengajukan tujuh komponen strategi yang
utama :
(1) urutan
elaborasi
(2) urutan
prasyarat belajar
(3)
ringkasan
(4) sintesis
(5) analogi
(6) strategi
kognitif, dan
(7) kontrol
terhadap siswa.
KONFIRMASI
Kegiatan
memberikan umpan balik terhadap yang siswa hasilkan melalui pengalaman belajar,
memberikan apresiasi terhadap kekuatan dan kelemahan hasil belajar dengan
menggunakan teori yang guru kuasi, menambah informasi yang seharusnya siswa
kuasai, mendorong siswa untuk menggunakan pengetahuan lebih lanjut dari sumber
yang terpecaya untuk lebih menguatkan penguasaan kompetensi belajar agar lebih
bermakna.
Ciri-ciri pembelajaran berbasis konfirmasi :
(1) Guru memberi umpan balik positip terhadap hasi belajar
anak didik,
(2) Guru memberi konfirmasi hasil eksplorasi peserta
didik,
(3) Guru memberi kesempatan kepada peserta didik untuk
merefleksi pengalaman belajarnya
Manfaat dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Manfaat perencanaan pembelajaran
Ada beberapa
manfaat perencanaan pembelajaran , di antaranya adalah:
- Dengan perencanaan yang matang dan akurat, akan dapat diprediksi seberapa besar keberhasilan yang akan dicapai.
- Oleh karena itu akan terhindar dari keberhasilan yang sifatnya untung-untungan sebab segala kemungkinan kegagalan sudah dapat diantisipasi oleh guru. Dalam perencanaan, guru harus paham tujuan apa yang akan dicapai, strategi apa yang tepat dilakukan sesuai dengan tujuan yang akan dicapai, dan dari mana sumber belajar yang dapat digunakan.
- Sebagai alat untuk memecahkan masalah.
- Dengan perencanaan yang matang, maka segala kemungkinan dan masalah yang akan timbul dapat diantisipasi sehingga dapat diprediksi pula jalan penyelesaiannya.
- Dengan perencanaan yang tepat, maka guru dapat menentukan sumber-sumber belajar yang dianggap tepat untuk mempelajari suatu bahan pembelajaran sebab saat ini banyak sekali sumber belajar yang ditawarkan baik melalui media cetak maupun elektronik.
- Perencanaan akan membuat pembelajaran berlangsung secara sistematis.
- Dengan perencanaan yang baik, maka pembelajaran tidak akan berlangsung seadanya, tetapi akan terarah dan terorganisir dan guru dapat memanfaatkan waktu seefektif mungkin untuk mencapai tujuan pembelajaran.
Fungsi perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran mempunyai beberapa fungsi di antaranya sebagai berikut:
a. Fungsi
kreatif
Pembelajaran dengan menggunakan perencanaan yang
matang akan dapat memberikan umpan balik yang dapat menggambarkan berbagai
kelemahan yang ada sehingga akan dapat
meningkatkan dan memperbaiki program.
b. Fungsi
Inovatif
Suatu inovasi pasti akan muncul jika direncanakan
karena adanya kelemahan dan kesenjangan antara harapan dan kenyataan.
Kesenjangan tersebut akan dapat dipahami jika kita memahami proses yang
dilaksanakan secara sistematis dan direncanakan dan diprogram secara utuh.
c. Fungsi
selektif
Melalui proses perencanaan akan dapat diseleksi
strategi mana yang dianggap lebih efektif dan efisien untuk dikembangkan.
Fungsi selektif ini juga berkaitan dengan pemilihan materi pelajaran yang
dianggap sesuai dengan tujuan pembelajaran.
d. Fungsi
Komunikatif
Suatu perencanaan yang memadai harus dapat menjelaskan
kepada setiap orang yang terlibat, baik guru, siswa, kepala sekolah, bahkan
pihak eksternal seperti orang tua dan
masyarakat. Dokumen perencanaan harus dapat mengkomunikasikan kepada setiap
orang baik mengenai tujuan dan hasil yang hendak dicapai dan strategi yang
dilakukan.
e. Fungsi
prediktif
Perencanaan yang disusun secara benar dan akurat,
dapat menggambarkan apa yang akan terjadi setelah dilakukan suatu tindakan
sesuai dengan program yang telah disusun. Melalui fungsi prediktifnya,
perencanaan dapat menggambarkan berbagai kesulitan yang akan terjadi, dan
menggambarkan hasil yang akan diperoleh.
f. Fungsi
akurasi
Melalui proses perencanaan yang matang, guru dapat
mengukur setiap waktu yang diperlukan untuk menyampaikan bahan pelajaran
tertentu, dapat menghitung jam pelajaran efektif.
g. Fungsi
pencapaian tujuan
Mengajar bukanlah sekedar menyampaikan materi, tetapi
juga membentuk manusia yang utuh yang tidak hanya berkembang dalam aspek intelektualnya
saja, tetapi juga dalam sikap dan ketrampilan. Melalui perencanaan yang baik,
maka proses dan hasil belajar dapat dilakukan secara seimbang.
h. Fungsi
kontrol
Mengontrol keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan
merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam suatu proses pembelajaran.
Melalui perencanaan akan dapat ditentukan sejauh mana materi pelajaran telah
dapat diserap oleh siswa dan dipahami, sehingga akan dapat memberikan balikan
kepada guru dalam mengembangkan program pembelajaran selanjutnya.
Karakteristik Perencanaan Pembelajaran
Bicara tentang dimensi perencanaan pengajaran, berkenaan dengan luas dan
cakupan aktivitas perencanaan yang mungkin dalam system pendidikan, yang
merupakan karakteristik perencanaan pengajaran adalah :
- Merupakan proses rasional, sebab berkaitan dengan tujuan social dan konsep-konsepnya dirancang oleh banyak orang.
- Merupakan konsep dinamik, sehingga dapat dan perlu dimodifikasi jika informasi yang masuk mengharapkan demikian.
- Perencanaan terdiri dari beberapa aktivitas, aktivitas itu banyak ragamnya namun dapat dikategorikan menjadi prosedur-prosedur dan pengarahan.
- Perencanaan pengajaran berkaitan dengan pemilihan sumber dana, sehingga harus mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah penggunaan dan salah manajemennya.
Komponen-Komponen Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran adalah proses pengambilan
keputusan hasil berpikir secara rasional tentang sasaran dan tujuan
pembelajaran tertentu, serta rangkaian kegiatan yang harus dilaksanakan sebagai
upaya pencapaian tujuan tersebut dengan memanfaatkan segala potensi dan sumber
belajar yang ada. Perencanaan pembelajaran berorientasi pada kurukulum
dan mengarah pada proses penerjemahan kurikulum yang berlaku.
Pengembangan perencanaan pembelajaran disusun berdasarkan
pendekatan sistem, oleh sebab itu didalam perencanaan pembelajaran harus
memiliki komponen-komponen yang berproses sesuai dengan fungsinya hingga tujuan
pembelajaran tercapai dengan optimal. Komponen system pembelajaran digambarkan
oleh Brown (1983) sebagai berikut:
a.
Siswa
Proses pembelajaran pada hakikatnya
diarahkan untuk membelajarkan siswa agar dapat mencapai tujuan yang ditentukan.
Dengan demikian, maka proses pengembangan proses perencanaan pembelajaran,
siswa harus dijadikan pusat dari segala kegiatan.
b.
Tujuan
Tujuan adalah komponen terpenting dalam
pembelajaran setelah komponen siswa sebagai subyek belajar. Tujuan-tujuan
khusus yang direncanakan oleh guru meliputi
1. Pengetahuan, informasi, serta pemahaman
sebagai bidang kognitif
2. Sikap dan apresiasi sebagai bidang
afektif.
3. Berbagai kemampuan sebagai bidang
psikomotorik
4. Kondisi
c.
Kondisi
Kondisi adalah berbagai pengalaman belajar
yang dirancang agar siswa dapat mencapai tujuan khusus seperti yang telah
dirumuskan. Pengalaman belajar harus mendorong agar siswa aktif belajar baik
secara fisik maupun non fisik. Merencanakan pembelajaran salah satunya adalah
menyediakan kesempatan bagi siswa uantuk belajar sesuai dengan gaya belajarnya
sendiri. Olehn karena itu, tekanan dalam menentukan kondisi belajar adalah
siswa secara individual.
d.
Sumber-sumber belajar
Sumber belajar berkaitan dengan segala
sesuatu yang memungkinkan siswa agar dapat memperoleh pengalaman belajar.
Didalamnya meliputi lingkungan fisik seperti tempat belajar, bahan dan alat
yang digunakan, personal seperti guru, petugas perpustakaan dan ahli media, dan
siapa saja yang berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung untuk
keberhasilan dalam pengalaman belajar. Dalam proses merencanakan pembelajaran,
perencanaan harus dapat menggambarkan apa yang harus dilakukan guru dan siswa
dalam memanfaatkan sumber belajar secara optimal.
e.
Hasil belajar
Hasil belajar berkaitan dengan pencapaian
dalam memperoleh kemampuan sesuai dengan tujuan khusus yang direncanakan.
Dengan demikian, tugas utama guru dalam kegiatan ini adalah merancang
instrument yang dapat mengumpulkan data tentang keberhasilan siswa mencapai
tujuan pembelajaran. Berdasarkan data tersebut guru dapat mengembangkan dan
memperbaiki program pembelajaran.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perencanaan
Pembelajaran
1. Faktor guru
Guru merupakan komponen yang menentukan,
hal ini disebabkan guru merupakan orang yang secara langsung berhadapan dengan
siswa. Disini guru bisa berperan sebagai perencana atau desainer pembelajaran
untuk mengimplikasikan sebagai implementator dan atau mungkin
keduanya. Sebagai perencana guru dituntut untuk memahami secara benar
kurikulum yang berlaku, karakteristik siswa, fasilitas dan sumber daya yang ada
sehingga semuanya di jadikan komponenen-komponen dalam rencana dan desain
pembelajaran. Menurut dunkin (1974) ada sejumlah aspek yang dapat
mempengaruhi kualitas guru yaitu :
·
Teacher formatif experience mengikuti jenis kelamin serta semua
pengalaman hidup guru yang menjadi latar belakang sosial mereka, yang termasuk
kedalam aspek ini diantaranya tempat asal kelahiran guru, termasuk suku, latar
belakang budaya dan adat istiadat, keadaan keluarga dimana guru itu berasal.
·
Teacher training experience meliputi pengalaman-pengalaman yang
berhubungan dengan aktivitas dan latar pendidikan guru, misalnya pengalaman
latihan professional, tingkatan pendidikan, pengalaman jabatan,dsb.
·
Teacher properties adalah segala sesuatu yang berhubungan
dengan sifat yang dimiliki guru terhadap siswa, sikap guru terhadap profesinya,
kemampuan atau intelegensi guru, motivasi dan kemampuan mereka baik dalam
pengelolaan pembelajaran,termasuk didalamnya kemampuan dalam merencanakan dan
evaluasi pembelajaran maupun kemampuan dalam penguasaan materi pelajaran.
2.
Faktor siswa
Siswa adalah organisme yang unik yang
berkembang sesuai dengan tahap perkembangannya. Perkembangan anak adalah
perkembangan seluruh aspek kepribadiannya, akan tetapi tempo dan irama
perkembangan masing-masing anak pada setiap aspek tidak selalu sama. Proses
pembelajaran dapat dipengaruhi oleh perkembangan anak yang tidak sama itu,
disamping karakteristik lain yang melekat pada diri anak. Menurut Dunkin
(1974) faktor-faktor yang dapat memengaruhi proses pembelajaran dilihat
dari aspek siswa meliputi:
- Aspek latar belakang meliputi jenis kelamin siswa, tempat kelahiran dan tempat tinggal siswa, tingkat social ekonomi siswa, dari keluarga yang bagaimana siswa berasal dan lain sebagainya.
- Dilihat dari sifat yang dimiliki siswa meliputi kemampuan dasar, pengetahuan dan sikap.
- Aspek sikap dan penampilan siswa dalam proses pembelajaran juga merupakan faktor yang memengaruhi proses pembelajaran. Adakalanya ditemukan siswa yang sangat aktif (hyperkinetic) dan ada pula siswa yang pendiam, tidak sedikit juga ditemukan siswa yang memiliki motivasi yang rendah dalam belajar.
3.
Faktor sarana dan prasarana
Sarana adalah segala sesuatu yang
mendukung secara langsung terhadap kelancarana proses pembelajaran misalnya
media pembelajaran, alat-alat pelajaran, perlengkapan sekolah,dsb. Sedangkan
prasarana adalah segala sesuatu yang secara tidak langsung dapat mendukung
keberhasilan proses pembelajaran misalnya, jalan menuju sekolah, penerangan
sekolah, kamar kecil,dsb.
4.
Faktor lingkungan
Faktor lingkungan meliputi:
- Faktor organisasi kelas didalamnya meliputi jumlah siswa dalam satu kelas, organisasi kelas yang terlalu besar akan kurang efektif dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kelompok belajar yang besar dalam satu kelas berkecenderungan:
- Kepuasan belajar siswa akan cenderung menurun.
- Perbedaan individidu antar anggota akan semakin tampak, sehingga akan semakin sukar mencapai kesepakatan.
- Anggota kelompok yang terlalu banyak akan cenderung semakin banyaknya siswa yang enggan berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan kelompok.
Faktor lain dari dimensi lingkungan yang dapat
memengaruhi proses pembelajaran adalah faktor iklim sosial psikologis.
Maksudnya adalah keharmonisan hubungan antara orang yang terlibat dalam proses
pembelajaran. Iklim sosial psikologis secara internal adalah hubungan antara
orang yang terlibat dalam lingkungan sekolah misalnya iklim sosial antara siswa
denga siswa; antara siswa dengan guru; antara guru dengan guru bahkan antara
guru dengan pimpinan sekolah. Iklim sosial psikologis eksternal adalah
keharmonisan hubungan antara pihak sekolah dengan dunia luar misalnya hubungan
sekolah dengan orang tua siswa, sekolah dengan lembaga-lembaga masyarakat, dsb.
PROSES PERENCANAAN
- Tahap Pra-rencana (analisis keadaan/masalah)
- Diagnosis tentang keadaan sistem (masalah dan kebutuhan)
- Formulasi tujuan
- Perkiraan sumber daya dan dana
- Perkiraan target
- Identifikasi kendala
- Formulasi rencana
- Eksplorasi , Elaborasi, Konfirmasi rencana
- Implementasi rencana
- Evaluasi, revisi dan perencanaan ulang
ARAH PERENCANAAN
Perencanaan diartikan sebagai suatu usaha sadar untuk memikirkan
alternatif-alternatif yang mungkin dapat dicapai pada masa depan, menguji
alternatif –alternatif tersebut dan memilih alternatif yang dikehendaki, agar
dapat ditentukan pula bagaimana cara mencapainya.
Ilmu yang
mempelajari tentang masa depan disebut dengan “ILMU MASA DEPAN” (Futurology). “SKENARIO MASA DEPAN SEBAGAI ARAH
PERENCANAAN”
Masa depan
dapat diramalkan dengan tiga macam cara:
- Dengan dasar pertumbuhan tetap, yaitu dengan menggunakan proyeksi sederhana dari masa lampau dan masa datang tanpa mempertimbangkan akibat perubahan-perubahan yang sengaja dilaksanakan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang
- Dengan dasar usaha perubahan yang dilaksanakan oleh genarasi sekarang dan yang akan datang sebagai usaha mereka menjawab tantangan-tantangan.
- Atas dasar kejadian-kejadian yang mungkin tumbuh misalnya bencana alam, epidemis, keadaan/gerakan politik dsb. Disini dipergunakan teori probabilitas, yang memungkinkan kita meramalkan dengan tingkat ketelitian tertentu probabilitas yang terjadinya lagi peristiwa-peristiwa yang telah lampau.
Definisi
Pakar : Perencanaan Pembelajaran
Memahami definisi Perencanaan
Pembelajaran dapat dikaji dari kata-kata yang membangunnya. Menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesia bahwa perencanaan adalah proses, cara, perbuatan
merencanakan (merancangkan), sementara pembelajaran adalah proses, cara,
perbuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar.
Begitu juga dalam Oxford Advanced
Learner’s Dictionary tertulis bahwa perencanaan adalah the act or process of making plans for something (kegiatan
atau proses merencanakan sesuatu), dan pembelajaran adalah the act of
teaching something to somebody (kegiatan mengajarkan sesuatu kepada
seseorang).
erikut
definisi tentang perencanaan pembelajaran:
- Branch (2002) Suatu sistem yang berisi prosedur untuk mengembangkan pendidikan dengan cara yang konsisten dan reliable.
- Ritchy Ilmu yang merancang detail secara spesifik untuk pengembangan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pengetahuan diantara satuan besar dan kecil persoalan pokok.
- Smith & Ragan (1993) Proses sistematis dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran. (1999) Proses sistematis dan berfikir dalam mengartikan prinsip belajar dan pembelajaran kedalam rancangan untuk bahan dan aktifitas pembelajaran, sumber informasi dan evaluasi.
- Zook (2000) Proses berfikir sistematis untuk membantu pelajar memahami (belajar)
Perencanaan
pembelajaran adalah merupakan suatu kegiatan yang direncanakan dalam
hubungannya dengan proses belajar mengajar atau pembelajaran untuk
mengembangkan, evaluasi dan pemeliharaan situasi dengan fasilitas pendidikan
guna pencapaian tujuan pembelajaran
Pengertian Perencanaan Pengajaran
Perencanan
Pengajaran adalah kegiatan pertama sebelum dimulainya proses belajar mengajar yang
meliputi rumusan tentang apa yang akan diajarkan pada siswa, bagaimana
mengajarkannya, dan seberapa besar siswa dapat menyerap semua bahan ajar ketika
mereka sudah menyelesaikan proses pembelajaran.
Perencanaan dibuat agar kegiatan belajar mengajar
dapat dioptimalkan, Oleh karena itu pengajar di lembaga pendidikan atau pelatihan
harus menyadari hal ini demi tercapainya tujuan yang telah ditetapkan.
Bagi guru pemula bermanfaat untuk melatih diri
dalam rangka mempersiapkan rencana pembelajaran yang maksimal sesuai dengan
kurikulum.
Dengan mempelajari Perencanaan Pengajaran berarti
setiap guru mampu mendesain program pengajaran yang kreatif baik untuk
pendidikan formal maupun non formal.
Sudut Pandang perencanaan pembelajaran IPS
Konsep
perencanaan pembelajaran IPS dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, yaitu :
- Perencanaan pengajaran sebagai teknologi
- Perencanaan pengajaran sebagai suatu system
- Perencanaan pengajaran sebagai sebuah disiplin.
- Perencanaan pengajaran sebagai sains (science)
- Perencanaan pengajaran sebagai sebuah proses
- Perencanaan pengajaran sebagai sebuah realitas
Dimensi - dimensi Perencanaan Perencaan Pembelajaran
Berbicara
tentang dimensi perencanaan pengajaran yakni nerkaitan dengancakupan dan
sifat-sifat dari beberapa karakteristik yang ditemukan dalam perencanaan
pengajaran. Pertimbangan terhadap dimensi-dimensi Perencanaan Pembelajaran itu
menurut Harjanto (1997 : 5) memungkinkan diadakannya perencanaan komprehensif
yang menalar dan efisien, yakni:
- Signifikansi
- Feasibilitas.
- Relevansi.
- Kepastian.
- Ketelitian.
- Adaptabilitas.
- Waktu.
- Monitoring
PRINSIP-PRINSIP PERENCANAAN PEMBELAJARAN
Sebelum
berbicara lebih jauh tentang Prinsip-prinsip perencanaan pembelajaran, alangkah
baiknya perlu kita ketahui terlebih dahulu prinsip-prinsip belajar dan mengajar
dalam rangka untuk pengembangan pembelajaran, antara lain :
1. Prinsip Kesiapan (Readiness)
Proses Belajar mengajar sanagt dipengaruhi oleh
kesiapan individu sebagai subyek yang melakukan kegiatan belajar.
Artinya kondisi fisik/psikis (jasmani/mental) individu
yang memungkinkan subyek dapat melakukan belajar.
2. Prinsip Motivasi (motivation)
Tenaga pendorong atau penarik yang menyebabkan adanya
tingkah laku ke arah suatu tutjuan tertentu (morgan,1986)
Peserta
didik memiliki motivasi :
1)
Akan bersungguh-sungguh
2)
Berusaha keras dan meluangkan waktu cukup
3)
Terus bekerja sampai tugas-tugas selesai
Sumber
motivasi :
1)
Motivasi instrinsik
2)
Motivsi ekstrensik
3. Prinsip perhatian
Merupakan strategi kognitif yang mencakup 4
Ketrampilan :
1) Berorientasi
pada suatu masalah
2) Meninjau
sepintas isi masalah
3) Memusatkan
diri pada aspek-aspek yang relevan
4) Mengabaikan
semuah yang tidak relevan
4. Prinsip persepsi
Adalah suatu proses yang bersifat komplek yang
menyebabkan orang dapat menerima /meringkas informasi yang di peroleh
lingkungannya.
5. Prinsip retensi
Adalah apa yang tertinggal dan dapat di ingat kembali
setelah seseorang mempelajari sesuatu. Prinsip-prinsip retensi :
1) Isi
pembelajaran yang bermakna akan lebih mudah di ingat di bandingkan dengan isi
pembelajaran yang tidak bermakna.
2) Benda
yang jelas dan kongkrit akan lebih mudah di ingat.
3) Isi
pembelajaran yang bersifat kontekstual atau serangkaian kata-kata yang
mempunyai kekuatan asosiatif.
4) Tidak
ada perbedaan antara retensi dengan apa yang telah di pelajari peserta didik
yang mempunyai berbagai tingkatan IQ
Cara-cara
meningkatkan retensi belajar
1. Usahakan
isi pembelajaran di susun dengan baik dan bermakna
2. Pembelajaran
dapat di bantu denganjembatan keledai ( mac monic)
3. Berikan
resitasi .
4. Susun
dan sajikan konsep yang jelas
5. Berikan
latihan pengulangan terutama untuk pembelajaran ketrampilan motorik
6. Prinsip transfer
Suatu proses di mana sesuatu yang pernah di pelajari
dapat mempengaruhi proses dalam mempelajari sesutu yang baru.
Lebih jelasnya adalah pengaitan pengetahuan yang sidah
di pelajari dengan pengatahuan yang baru di pelajari.
Bentuk-bentuk transfer
1. Transfer
positif
2. Transfer
negatif
3. Transfer
nol
Pembelajaran
dulunya pengajaran = upaya untuk mempelajarkan siswa(degeng. 1989)
Konsep
pembelajaran mengandung implikasi
I. Perlu di upayakan agar menjadi proses belajar mengajar
yang interaktif antara peserta didik dan sumber belajar yang di rencanakan
II. Di tinjau dari sudut peserta didik mengandung makna
bahwa terjadi proses internal interaksi antara seluruh potensi individu dengan
sumber-sumber belajar yang dapat berupa pesan-pesan ajaran.
III. Di tinjau dari pemberi rangsangan mengandung makna
pemilikan penetapan dan pengembangan metode pembelajran yang memberikan
kemunglki baiknan masing-masing
Adapun Kriteria dalam penyusunan
perencanaan pembelajaran harus memegang prinsip-prinsip sebagai berikut, yaitu
:
1. Signifikansi, artinya kebermaknaan, bahwa perencanaan pembelajaran
hendaknya bermakna agar proses pembelajaran berjalan efektif dan efisien.
2. Relevan, artinya sesuai, bahwa perencanaan pembelajaran yang kita susun memiliki
kesesuaian baik internal maupun eksternal.
3. Kepastian, artinya sesuatu yang dijadikan pedoman dalam
perencanaan pembelajaran bersifat pasti, tidak lagi memuat
lalternatif-alternatif yang bisa dipilih, akan tetapi berisi langkah-langkah
pasti sehingga dapat meminimalisir persoalan yang timbul secara tak terduga.
4. Adaptabilitas, artinya bersifat lentur atau tidak kaku, bahwa
perencanaan pembelajaran disusun untuk diimplementasikan dalam berbagai keadaan
dan berbagai kondisi.
5. Kesederhanaan,artinya perencanaan pembelajaran mudah diterjemahkan
dan mudah diimplementasikan.
6. Prediktif, artinya perencanaan pembelajaran memiliki daya ramal
yang sangat kuat.
Prosedur
perencanaan pembelajaran
Dalam
penyusunan perencanaan pembelajaran, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah
sebagai berikut :
- Merumuskan tujuan Pembelajaran, adapun rumusan tujuan pembelajaran, harus meliputi pengembangan aspek domain kognitif, afektif, dan domain psikomotorik.
- Pengalaman belajar
- Kegiatan belajar mengajar
- Orang-orang yang terlibat
- Bahan dan alat
- Fasilitas fisik
- Perencanaan Evaluasi dan pengembangan
Prosedur Pengembangan Rancangan Pembelajaran
Lebih jelas
di paparkan oleh Slameto (1991 : 47) bahwa prosedur pengembangan rancangan
pembelajaran meliputi :
a. Kaji
dan pahami baik-baik tujuan kurikulum.
b. Kenali dan pahami karakteristik siswa yang mengikuti
pelajaran, meliputi :
1. kemampuan awal siswa
2. karakteristik yang berkaitan dengan
perbedaan-perbedaan
3. Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang
c. Renungkan kembali dan buat analisa.
d. Rumuskan Tujuan Instruksional Umum dan
Khususnya.
e. Susun Alat Evaluasi.
f. Memanfaatkan Buku Sumber
g. Pemilihan Materi berdasarkan karakteristik tertentu.
h. Rancang Strategi Belajar mengajar
Isi / Muatan Perencanaan
Pembelajaran
Isi perencaan merujuk pada hal - hal yang akan
direncanakan. Perencanaan pengajaran yang baik perlu memuat :
1. Tujuan apa yang diinginkan, atau bagaimana cara
mengorganisasiaktivitas belajar dan layanan - layanan pendukungnya
2. Program dan layanan, atau bagaimana cara
mengorganisasi aktivitas belajar dan layanan ± layanan pendukungnya.
3. Tenaga manusia, yakni mencakup cara
mengembangkan prestasi,spesialisasi, perilaku, kompetensimaupun kepuasan
mereka.
4. Keuangan, meliputi rencana pengeluaran dan rencana
penerimaane.
5. Bangunan fisik mencakup tentang cara-cara
penggunaan pola distribusidan kaitannya dengan pengembangan psikologis.
6. Struktur organisasi, maksudnya bagaimana cara
mengorganisasi danmanajemen operasi dan pengawasan program dan aktivitas
kependidikanyang direncanakan.
7. Konteks social atau elemen-elemen lainnya
yang perlu dipertimbangkandalam perencanaan pengajaran
Hidayat
(1990 : 11) mengemukakan bahwa perangkat yang harus dipersiapkandalam perencanaan
pembelajaran antara lain :
- Memahami kurikulum
- Menguasai bahan ajar
- Menyusun program pengajaran
- Melaksanakan program pengajaran
- Menilai program pengajaran dan hasil proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.
Manfaat
Perencanaan Pembelajaran
Perencanaan pembelajaran memainkan peran penting dalam memandu guru untuk
melaksanakan tugas sebagai pendidik dalam melayani kebutuhan belajar siswanya.
Perencanaan pembelajaran juga dimaksudkan sebagai langkah awal sebelum
proses pembelajaran berlangsung. Terdapat beberapa manfaat perencanaan
pengajaran dalam proses belajar mengajar yaitu :
1. Sebagai petunjuk arah
kegiatan dalam mencapai tujuan
2. Sebagai pola dasar dalam
mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yangterlibat dalam kegiatan
3. Sebagai pedoman kerja bagi
setiap unsur, baik untuk guru maupun unsur murid
4. Sebagai alat ukur efektif
tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahuiketepatan dan
kelambatan kerja
5. Untuk bahan penyusunan data
agar erjadi keseimbangan kerja
6. Untuk menghemat waktu,
tenaga, alat ± alat dan biaya
Apa Alasan
Guru Membuat Perencanaan Pengajaran?
Perencanaan
pengajaran yang adalah membuat suatu perencanaan pembelajaran dengan
memperhatikan beberapa aspek, di antaranya: Psikologi perkembangan peserta
didik, landasan pendidikan, pengembangan kurikulum, strategi belajar mengajar,
media pendidikan, evaluasi pendidikan dan sebagainya, tentiunya tidak lepas
dari penguasaaan bidang studi sebagai bahan ajar sesuai dengan keahliannya. Hal
ini berarti bahwa perencanaan pengajaran tidak dapat dilakukan tanpa dasar dan
tidak mudah. Orang yang profesionalah yang dapat melakukannya. Dengan demikian
seorang yang Bentuk hasil perencanaan pengajaran berupa kosep, yang dalam
implementasinya dapat melibatkan guru dengan atau tanpa media, atau dengan
media tanpa keterlibatan yang berarti dari guru, (misalnya pengerjaan
berprogram modul, computer assisted instruction (CAI) dan sebagainya).
Faktor-Faktor Apa Saja yang Harus Dipertimbangkan
Dalam Membuat Perencanaan Pengajaran
Perencanaan
pengajaran hasilnya dapat bervariasi dilihat dari berbagai aspek atau berbagai
aspek mempengaruhi timbulnya variasi hasil perencanaan pengajaran. Hal tersebut
dapat terjadi oleh dua faktor. yaitu faktor perencana dan faktor luar
perencana.
Faktor-faktor
dari perencana yang berpengaruh adalah kepribadian dan penguasaaan ilmu-ilmu
yang diperlukan dalam membuat perencanaan. Kepribadian perencana yang mungkin
berpengaruh adalah pandangan/persepsi perencana tetang pendidikan, belajar,
siswa, mengajar, perencanaan pengajaran dan sebagainya, tipe kepemimpianan
(“lezzis fair, demokrasi, otoriter”).
Sementara
itu, penguasaaan perencana terhadap ilmu-ilmu atau konsep-konsep yang
diperlukan dalam membuat perencanaan pengajaran, misalnya: penguasaan bidang
studi (keluasan, kedalaman), pemahaman terhadap tujuan pendidikan dan
pengajaran, landasan-landasan pendidikan, teori belajar, psikologi
pendidikan, pengembangan kurikulum, strategi belajar, evaluasi pendidikan
dan sebagainya.
1. Pengertian perencanaan pengajaran
Perencanaan Pengajaran adalah suatu proses
yang sistematis dilakukan oleh guru dalam membimbing, membantu dan mengarahkan
peserta didik untuk memiliki pengalaman belajar serta mencapai tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan dengan langkah-langkah penyusunan materi
pelajaran, penggunaan media pengajaran, penggunaan pendekatan dan metode
pengajaran dan penilaian dalam suatu alokasi waktu yang akan dilaksanakan pada
masa tertentu.
2. Masalah-masalah pokok dalam perencanaan pengajaran
Beberapa permasalahan pokok
yang harus diperhatikan dan dicarikan solusi pemecahannya yaitu:
a. Masalah Arah atau Tujuan
Masalah yang sering terjadi dalam penentuan arah
atau tujuan pengajaran adalah : rumusan masalah yang dibuat oleh guru terlalu
luas dan tidak operasional, sehingga sulit diukur dan diobservasi yang
berakibat tujuan pengajaran tidak dipahami oleh siswa.
b. Masalah Evaluasi
Masalah yang muncul dalam evaluasi, berkisaran
antara lain : Prosedur evaluasi yang tidak dikenal oleh siswa yang berakibat
evaluasi yang dilaksanakan tidak adil, dan memuaskan para siswa. Rumusan
instrumen penilaian tidak jelas, alat penilaian di buat secara sembarang,
kurang atau tidak memenuhi syarat validitas, serta tingkat reliabilitas yang
rendah. Tingkat daya pembeda soal yang kurang baik yaitu tidak dapat membedakan
mana siswa pintar dan mana siswa yang kurang pintar.
c. Masalah Isi dan Urutan Materi Pelajaran
Masalah yang muncul adalah bagaimana
memilah-milah mana materi pelajaran yang harus didahulukan penyajiannya secara
runtun, logis dan sistematis. Lalu apabila materi pelajaran yang disajikan
tidak serasi dan tidak terorganisasi dengan baik maka akibatnya terjadi
kegagalan dalam menyampaikan uraian materi pelajaran. Penyebab kegagalan
penyampaian materi disebabkan guru membuat instrumen penilaian yang isinya
menghendaki jawaban materi pelajaran yang sebenarnya belum atau tidak
diajarkan.
d. Masalah Metode
Masalah yang berkaitan dengan metode pengajaran
adalah kurang atau tidak tepat sasaran dalam pemilahan metode yang digunakan,
bersifat monoton dan tidak sesuai dengan tujuan, strategi, model serta
pendekatan pengajaran yang digunakan.
e. Hambatan-hambatan
Hambatan-hambatan bisa datang dari siswa
(kurangmampu mengikuti pelajaran, memiliki perbedaan indvidual), dari guru
(kurang berminat mengajar), faktor institusional (terbatasnya ruang kelas,
laboratorium serta alat-alat peraga).
Langkah-langkah menyusun perencanaan pengajaran
a. Menetapkan Misi dan Tujuan
Dalam pendidikan misi dan tujuan pengajaran
mengacu kepada misi dan tujuan pendidikan mulai dari tujuan pendidikan
nasional, tujuan institusional, tujuan kurikuler, tujuan pengajaran atau tujuan
instruksional baik umum maupun khusus (standar kompetensi, kompetensi dasar dan
indikator hasil belajar).
b. Diagnosa Hambatan dan Peluang
Diagnosa hambatan dan peluang termasuk kedalam
bagian dari analisis SWOT (Strengths Weakness Opportunities Threats). Kekuatan,
kelemahan, peluang dan ancaman yang dihadapi suatu lembaga atau
organisasi. Analisis SWOT bila diterapkan secara akurat akan membawa
keberhasilan suatu program kegiatan yang direncanakan.
Peluang adalah situasi penting yang menguntungkan
dalam lingkungan madrasah. Ancaman merupakan situasi-situasi penting yang tidak
menguntungkan bagi lembaga dan merupakan gangguan terhadap eksistensi lembaga
di masa sekarang maupun di masa yang akan datang.
Ancaman terhadap lembaga pendidikan Madrasah bisa
datang dari pesaing baru, kebijakan pemerintah, kondisi makro serta mikro
ekonomi yang sulit dan kesadaran yang rendah dari masyarakat tentang pentingnya
pendidikan Madrasah.
c. Menilai Kekuatan dan Kelemahan
Kekuatan adalah sumber daya
yang dimiliki baik sumber daya personal maupun sumber daya material, maupun
sumber daya keuangan. Kelemahan adalah kekurangan atau keterbatasan-keterbatasan
yang dimiliki lembaga yang berkaitan dengan sumber daya manusia dengan kualitas
dan kapabilitasnya, sumber daya material yang terbatas baik kualitas maupun
kuantitasnya, sumber daya keuangan yang terbatas, serta kecintaan dan loyalitas
yang kurang baik dari guru, pegawai maupun siswa.
d. Mengembangkan Tindakan Alternatif
Setelah analisis SWOT maka kepala sekolah dan
guru membuat perencanaan pengajaran harus dapat memilih alternatif tindakan dan
langkah-langkah yang terbaik yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan
pengajaran yang telah ditetapkan.
e. Mengembangkan Rencana Strategi
Dalam perencanaan pengajaran strategi yang
dikembangkan adalah strategi pengajaran. Strategi pengajaran adalah tindakan
guru dalam melaksanakan rencana pengajaran dengan menggunakan berbagai komponen
pengajaran (tujuan, bahan, metode, alat, sumber serta evaluasi) agar dapat
mempengaruhi siswa untuk melakukan kegiatan belajar dalam ranga mencapai tujuan
belajar dan pengajaran yang telah ditetapkan.
f. Mengembangkan Rencana Strategi
Pengembangan rencana strategi pengajaran
dilakukan dengan membuat model pengembangan sistem pengajaran. Model
pengembangan merupakan kerangka dasar yang dijadikan acuan dalam melakukan
pengajaran yang meliputi dua dimensi yaitu dimensi rencana dan dimensi proses
yang nyata.
Dimensi rencana : prosedur dan langkah-langkah
yang seharusnya dilakukan dalam mempersiapan proses belajar mengajar. Dimensi
proses yang nyata : interaksi belajar mengajar yang berlangsung di kelas.
g. Mengembangkan Rencana Operasional
Diawali dengan melakukan analisis materi
pelajaran yang terdapat dalam kurikulum, analisis terhadap kalender pendidikan,
pembuatan program tahunan, program semester serta pembuatan silabus dan sistem
penilaian.
Macam macam perencanaan pengajaran
Perencanaan termasuk
perencanaan pengajaran dapat dilihat dari beberapa segi:
Berdasarkan jangka waktu dapat
di bedakan lagi menjadi :
1)
Perencanaan
Jangka Panjang
Rencana jangka panjang adalah perencanaan yang meliputi kurun waktu 10,
20, atau 25 tahun. Parameter atau ukuran keberhasilannya bersifat sangat umum,
global dan tidak terperinci. Namun demikian perencanaan jangka panjang dapat
memberi arah untuk jangka menengah dan jangka pendek.
2)
Perencanaan
Jangka Menegah
Perencanaan jangka menengah
adalah perencanaan yang dilaksanakan dalam kurun waktu antara 4-7 tahun.
Perencanaan jangka menengah merupakan penjabaran dari perencanaan jangka
panjang dan perlu dijabarkan dalam perencanaan jangka pendek.
3)
Perencanaan
Jangka Pendek
Merupakan perencanaan dengan
kurun waktu antara 1 sampai 3 tahun dan merupakan penjabaran dari perencanaan
jangka menengah.
Berdasarkan luas jangkauannya.
Dibedakan pula menjadi :
1)
Perencanaan Makro
Perencanaan makro adalah
perencanaan yang bersifat menyeluruh (umum) dan bersifat nasional.
2)
Perencanaan Mikro
Perencanaan mikro adalah
perencanaan yang memiliki ruang lingkup terbatas, hanya untuk satu institusi.
Perencanaan ini lebih rinci, konkrit dan operasional dengan memperhatikan
karakteristik lembaga, namun tidak boleh bertentangan dengan perencanaan makro
atau nasional.
Perencanaan
Dilihat dari Telaahnya
Dibedakan menjadi :
1) Perencanaan
Strategis
Merupakan rencana yang berkaitan dengan kegiatan menetapkan tujuan,
pengalokasian sumber-sumber untuk mencapai tujuan. Biasanya diambil oleh pucuk
pimpinan yang kadang kurang didukung oleh data-data statistik
2) Perencanaan
Manajerial
Merupakan perencanaan yang ditujukan untuk menggerakan dan mengarahkan
proses pelaksanaan agar tujuan yang telah ditetapkan dapat dicapai secara
efektif dan efisien. Dalam perencanaan ini sudah lebih terperinci dan didukung
data-data statistik.
3) Perencanaan
Operasional
Merupakan rencana apa yang akan dikerjakan dalam tingkat pelaksanaan di
lapangan. Perencanaan ini bersifat konkret dan spesifik serta berfungsi
memberikan petunjuk teknis mengenai aturan, prosedur serta ketentuan-ketentuan
lain yang telah ditetapkan.
Karakteristik perencanaan pengajaran
Menurut Banghart dan Trull
dalam Harjanto ada beberapa karakteristik perencanaan pengajaran yaitu :
a. Merupakan proses rasional.
b. Merupakan konsep dinamik.
c. Terdiri dari beberapa
aktivitas.
d. Berkaitan dengan pemilihan
sumberdana, sehingga mampu mengurangi pemborosan, duplikasi, salah pengunaan
dan salah dalam manajemennya.
Dimensi-dimensi perencanaan pengajaran
Merupakan cakupan dan
sifat-sifat dari beberapa karakteristik yang ditemukan dalam perencanaan
pengajaran. Dimensi perencanaan pengajaran meliputi :
a. Signifikansi
Merupakan tingkat kekuatan atau pengaruh serta
ketergantungan antara tujuan pendidikan yang diajukan dengan kriteria-kriteria
yang dibangun selama proses perencanaan.
b. Feasibilitas
Bahwa dalam perencanaan pengajaran harus disusun
dengan pertimbangan realitas dengan sumber-sumber pembiayaan serta
pertimbangan-pertimbangan lainnya yang bersifat realisitik untuk dicapai.
c. Relevansi
Konsep relevansi berkaitan dengan jaminan bahwa
perencanaan pengajaran memungkinkan penyelesaian masalah-masalah secara lebih
spesifik dan mendetail serta tercapai tujuan spesifik secara optimal sesuai
waktu yang telah ditetapkan.
d. Kepastian
Konsep kepastian mengarahkan agar dalam
perencanaan pengajaran perlu mempertimbangkan serta memilih hal-hal yang
sifatnya pasti dan dapat dilaksanakan.
e. Ketelitian
Yang perlu diperhatikan ialah agar perencanaan
pengajaran disusun dalam bentuk yang sederhana dengan mempertimbangkan
pengambilan keputusan dari alternatif yang terbaik dan efektif serta efisien
untuk dilaksanakan.
f. Adaptabilitas
Karena dunia pendidikan dan pengajaran bersifat
dinamis, sehingga perlu senantiasa mencari informasi yang terbaru sebagai umpan
balik
g. Waktu
Faktor yang berkaitan dengan waktu harus
diperhatikan, baik untuk prediksi jangka pendek, jangka menengah maupun jangka
panjang.
h. Monitoring
Monitoring merupakan proses mengembangkan
kriteria untuk menjamin bahwa berbagai komponen perencanaan pengajaran berjalan
dan dikembangkan secara efektif dengan berbagai variasi.
Isi Perencanaan
Perencanaan yang baik perlu
memuat :Tujuan apa yang diinginkan.
1)
Program dan layanan.
2)
Tenaga manusia.
3)
Keuangan.
4)
Bangunan fisik mencakup tentang cara-cara pengunaan pola distribusi dan
kaitannya dengan pengembangan psikologis.
5)
Struktur organisasi.
6)
Konteks sosial atau elemen-elemen lainnya yang perlu dipertimbangkan
dalam perencanaan pengajaran.
7)
Manfaat dan pentingnya perencanaan pengajaran
Banyak manfaat yang diperoleh dari perencanaan
pengajaran dalam proses belajar mengajar yaitu :
- Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
- Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
- Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur guru maupun unsur murid.
- Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan, sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
- Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan kerja.
- Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
Perencanaan memiliki arti penting sebagai berikut :
- Dengan adanya perencanaan diharapkan tumbuhnya suatu pengarahan kegiatan, adanya pedoman bagi pelaksanaan kegiatan-kegiatan yang ditujukan kepada pencapaian tujuan pembangunan.
- Dengan perencanaan, maka dapat dilakukan suatu perkiraan (fore-casting) terhadap hal-hal dalam masa pelaksanaan yang akan dilalui.
- Perencanaan memberikan kesempatan untuk memilih berbagai alternatif tentang cara terbaik (the best alternatif) atau kesempatan untuk memilih kombinasi cara yang terbaik (the best combination).
- Dengan perencanaan dilakukan penyusunan skala prioritas.
- Dengan adanya rencana, maka akan ada suatu alat pengukur atau standar untuk mengadakan pengawasan atau evaluasi kinerja usaha atau organisasi, termasuk pendidikan.
Sementara faktor luar dari perencana yang juga
mempengaruhi perencanaan meliputi:
- Tingkat lembaga pendidikan (SD, SMP. SMU).
- Macam jenis pendidikan (formal, non formal).
- Pesan-pesan yang terkandung dalam kurikulum (pembentukan karakteristik tertentu dari peserta didik).
- Kaidah-kaidah pendidikan, teori belajar yang dijadikan acuan (mementingkan produk atau mementingkan proses).
- Peserta didik (karakteristik peserta didik).
- Tingkat dan jenis tujuan (aspek dari kompetensi) yang ingin dicapai.
- Tipe-tipe materi pelajaran misalnya, teori (berupa fakta, konsep dan prinsip), hitungan, gambar atau praktek (praktek untuk mempertinggi pemahaman atau untuk menghasilkan skill).
- Tipe-tipe belajar.
- Prinsip-prinsip mengajar yang dipergunakan.
- Sarana yang tersedia.
- Kondisi umum, dan lain-lain.
Pertimbangan yang memungkinkan
diadakannya perencanaan komprehensif yang menalar dan efisien, yakni :
1. Signifikasi.
Tingkat signifikasi tergantung pada kegunaan sosial dari tujuan pendidikan yang
diajukan. Dalam mencapai tujuan itu, mengambil keputusan perlu mempunyai garis
pembimbing yang jelas dan mengajukan criteria evaluasi sekali keputusan telah
diambil dan tujuan telah ditentukan, setiap pengamat pendidikan dapat
mengadakan evaluasi kontribusi perencanaan, dan signifikasi dapat ditentukan
berdasarkan kreteria-kreteria yang dibangun sesame proses perencanaan.
2. Feasibilitas.
Maksudnya perlu dipertimbangkan feasibilitas perencanaan pengajaran. Salah satu
faktor penentu adalah otoritas political yang memadai, sebab dengan itu
feabisibilas teknik dan estimasi biaya serta aspek-aspek lainnya dapat dibuat
dalam pertimbangan yang realistic.
3. Relevansi. Konsep ini berkaitan dengan jaminan bahwa
perencanaan pengajaran memungkinkan penyelesaian persoalan secara lebih
spesifik pada waktu yang tepat agar dapat dicapai tujuan spesifik secara
opimal.
4. Kepastian atau definitiveness. Diakui bahwa tidak semua hal-hal
yang sifatnya kebutulan dapat dimasukan dalam perencanaan pengajaran, namun
perlu diupayakan agar sebanyak mungkin hal-hal tersebut dimasukan dalam
pertimbangan. Penggunaan teknik atau metode simulasi sangat menolong
mengantipasi hal-hal tersebut. Konsep kepastian menimbulkan atau mengurangi
kejadian-kejadian yang tidak terduga.
5. Ketelitian
atau parsimoniusness. Prinsip utama yang perlu diperhatikan ialah agar
perencanaan pengajaran disusun dalam bentuk sederhana, serta perlu diperhatikan
secara sensitive kaitan-kaitan yang pasti terjadi antara berbagai komponen.
Dalam penerapan prinsip ini berarti diperlukan waktu yang lebih banyak dalam
menggali beberapa alternative, sehingga perencanaan dan mengambil keputusan
dapat mempertimbangkan alternative mana yang paling efisien.
6. Adaptabilitas.
Diakui bahwa perencanaan pengajaran bersifat dinamik, sehingga perlu senantiasa
mencari informasi sebagai umpan balik atau balikan. Kalau perencanaan
pengajaran sudah lengkap, penyimpangan-penyimpangan sedah semakin berkurang dan
aktivitas-aktivitas spesifik dapat ditentukan. Penggunaan berbagai proses
memungkinkan perencanaan pengajaran yang fleksibel atau adaptable dapat
dirancang untuk menghindari hal-hal yang tidak diharapkan.
7. Waktu. Faktor-faktor yang berkaitan dengan waktu cukup banyak,
selain keterlibatan perencanaan dalam memperediksi masa depan, juga validasi
dan realibilitas analisis yang dipakai, serta kapan untuk menilai kebutuhan
pendidikan masa kini dalam kaitannya dengan masa mendatang.
8. Monitoring atau pemantauan. Termasuk di dalamnya adalah mengembangkan
kreteria untuk menjamin bahwa berbagai komponen bekerja secara efektif.
Ukurannya dibangun untuk selama pelaksanan pengajaran, namun perlu diberi
pertimbangan tentang toleransi terbatas atas penyimpangan perencanaan. Menjamin
agar pelaksanaan dapat mulus, perlu dikembangkan suatu prosedur yang
memungkinkan perencanaan pengajaran menentukan alasan-alasan mengadakan variasi
dalam perencanaan.
9. Isi
perencanaan. Dimensi terakhir adalah hal-hal yang akan direncanakan.
Perencanaan pengajaran yang terbaik perlu memuat :
i. Tujuan atau apa yang diinginkan sebagai hasil proses
pendidikan
j. Program dan layanan, atau bagaimana cara
mengorganisasi aktivitas belajar dan layanan-layanan pendukungnya.
k. Tenaga manusia, yakni mencangkup cara-cara
mengembangkan prestasi, spesialisasi, perilaku, kompetensi, maupun kepuasan
mereka.
l. Bangunan fisik mencangkup tentang cara-cara penggunaan
pola distribusi dan kaitannya dengan bangunan fisik lain.
m. Keuangan, meliputi rencana pengeluaran dan rencana
penerimaan.
n. Struktur organisasi, maksudnya bagaimana cara
mengorganisasi dan manajemen operasi dan pengawasan program dan aktivitas
kependidikan yang direncanakan.
o. Konteks sosial atau elemen-elemen lainnya yang perlu
dipertimbangkan dalam perencanaan pengajaran.
Dalam buku yang berjudul Perencanaan Pembelajaran
karya Abdul Majid bahwa perencanaan pembelajaran dibangun dari dua kata, yaitu:
Perencanaan, berarti menentukan apa yang akan dilakukan.
Pembelajaran,
berarti proses yang diatur dengan
langkah-langkah tertentu, agar pelaksanaannya mencapai hasil yang diharapkan.
Jadi,
perencanaan pembelajaran adalah rencana guru mengajar mata pelajaran tertentu,
pada jenjang dan kelas tertentu, untuk topik tertentu, dan untuk satu pertemuan
atau lebih.
Komponen
Perencanaan Pembelajaran
Menurut buku
yang berjudul “Strategi Belajar Mengajar”
karya Syaiful Bahri Djamarah &
Aswan Zain komponen perencanaan pembelajaran terdiri dari:
1. Tujuan
(Objective)
Tujuan adalah suatu cita-cita yang ingin dicapai dari
pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan dalam pembelajaran merupakan komponen yang
dapat mempengaruhi komponen pengajaran lainnya seperti bahan pelajaran,
kegiatan belajar mengajar, pemilihan metode, alat, sumber, dan elat evaluasi.
2. Bahan
Pelajaran (Material)
Bahan pelajaran adalah substansi yang akan disampaikan
dalam proses belajar mengajar. Karena itu, guru yang akan mengajar pasti
memiliki dan menguasai bahan pelajaran yang akan disampaikannya pada anak
didik.
3. Metode
(Method)
Metode adalah
suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Metode-metode mengajar mencakup:
1) Metode
Proyek; yaitu cara penyajian pelajaran yang bertitik tolak dari suatu
masalah, kemudian dibahas dari berbagai segi yang berhubungan sehingga
pemecahannya secara keseluruhan dan bermakna.
2) Metode
Eksperimen; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa melakukan
percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari.
3) Metode
Tugas dan Resitasi; yaitu metode penyajian bahan di mana guru memberikan
tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar.
4) Metode
Diskusi; yaitu cara penyajian pelajaran, di mana siswa-siswa dihadapkan
kepada suatu masalah yang bisa berupa pernyataan atau pertanyaan yang bersifat
problematis untuk dibahas dan dipecahkan bersama.
5) Metode
Sosiodrama; yaitu mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan
masalah sosial.
6) Metode
Demonstrasi; cara penyajian bahan pelajaran dengan meragakan atau
mempertunjukkan kepada siswa suatu proses, situasi, atau benda tertentu yang
sedang dipelajari, baik sebenarnya atau tiruan, yang sering disertai dengan
penjelasan lisan.
7) Metode
Problem Solving; yaitu menggunakan metode-metode lainnya yang dimulai
dengan mencari data sampai kepada menarik kesimpulan.
8) Metode
Karya Wisata; yaitu mengajak siswa belajar keluar sekolah, untuk meninjau
tempat tertentu atau objek yang lain.
9) Metode
Tanya Jawab; yaitu cara penyajian pelajaran dalam bentuk pertanyaan
yang harus dijawab, terutama dari guru kepada siswa, tetapi dapat pula dari
siswa kepada guru.
10) Metode
Latihan; yaitu suatu cara mengajar yang baik untuk menanamkan
kebiasaan-kebiasaan tertentu.
11) Metode
Ceramah; yaitu cara penyajian pelajaran yang dilakukan guru dengan
penuturan atau penjelasan lisan secara langsung terhadap siswa.
Alat (Media)
Alat adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran.
Misalnya: bagan, grafik, komputer, OHP, dan lain-lain.
Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi
adalah kegiatan mengumpulkan data seluas-luasnya, sedalam-dalamnya, yang
bersangkutan dengan kapabilitas siswa guna mengetahui sebab akibat dan hasil
belajar siswa yang dapat mendorong dan mengembangkan kemampuan belajar.
Misalnya: tes tulis, lisan, praktek, dan lain-lain.
Pentingnya
Perencanaan Pembelajaran
Meminjam kata-kata singkat tapi sangat esensial dari buku Perencanaan
Pembelajaran karya Abdul Majid bahwa inti proses pendidikan adalah
pembelajaran. Inilah aktivitas rutin yang dilakukan guru sehari-hari. Agar
program yang mereka lakukan lebih terarah, mereka musti tahu kurikulum yang
dirilis pemerintah. Informasi dari kurikulum itulah sebagai bahan mereka untuk
menyusun silabus dan rencana pembelajaran. Guru selayaknya dapat memahami
tentang semua aktivitas teknik menyangkut pembelajaran secara baik. Tidak hanya
itu, penting juga informasi tentang standar kompetensi yang seharusnya dimiliki
guru sendiri.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran, maka sudah pasti dibutuhkan perencanaan
pembelajaran yang baik. M. Sobry Sutikno dalam bukunya Pengelolaan Pendidikan
Tinjauan Umum dan Konsep Islami menegaskan bahwa perencanaan merupakan salah
satu syarat mutlak bagi setiap kegiatan pengelolaan. Tanpa perencanaan,
pelaksanaan suatu kegiatan akan mengalami kesulitan dan bahkan kegagalan dalam
mencapai tujuan yang diinginkan.
Salah satu lembaran kertas mutiara buku Perencanaan Pembelajaran
karya Abdul majid mengemukakan beberapa manfaat perencanaan pembelajaran dalam
proses belajar mengajar, yaitu:
1. Sebagai petunjuk arah kegiatan dalam mencapai tujuan.
2. Sebagai pola dasar dalam mengatur tugas dan wewenang
bagi setiap unsur yang terlibat dalam kegiatan.
3. Sebagai pedoman kerja bagi setiap unsur, baik unsur
guru maupun unsur murid.
4. Sebagai alat ukur efektif tidaknya suatu pekerjaan,
sehingga setiap saat diketahui ketepatan dan kelambatan kerja.
5. Untuk bahan penyusunan data agar terjadi keseimbangan
kerja.
6. Untuk menghemat waktu, tenaga, alat-alat dan biaya.
Melihat
manfaat di atas, maka perencanaan pembelajaran sangat perlu dilakukan oleh para
guru, sesuai tujuannya yaitu agar pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan
efektif dan efisien.
Perencanaan pengajaran adalah suatu hal yang
sangat penting yang harus dikerjakan oleh setiap guru ataupun calon guru. Jadi
perencanaan pengajaran berarti pemikiran tentang penerapan prinsip-prinsip umum
mengajar didalam pelaksanaan tugas mengajar dalam suatu situasi interaksi
pengajaran (interaksi guru-murid) tertentu yang khusus, baik yang berlangsung
di dalam kelas ataupun diluar kelas. Makin baik dipikirkan, maka makin baiklah
persiapan perencanaan pengajaran itu, sehingga bisa diharapkan makin baik pula
dalam pelaksanaannya.
Semua perencanaan yang baik adalah suatu proses
pertumbuhan. Pada mulanya suatu konsep hanya samar-samar, lambat laun berkat
pemikiran yang matang maka konsep itu makin jelas dan terperinci. Setiap
perencanaan harus bersifat fleksibel (bisa berubah-ubah) sehingga ada usaha
untuk selalu memperbaiki dan mempertinggi mutu pengajarannya.
Mengajar itu sebenarnya merupakan juga suatu
“seni” dan sebagaimana kesenian yang lain harus pula selalu dikembangkan dengan
usaha yang sungguh-sungguh dan tekun untuk mencapai taraf dan mutu yang lebih
baik.
|
Pembahasan tentang pentingnya Perencanaan Pembelajaran dapat dilihat dalam
bentuk skema berikut ini:
Peran penting perencanaan pembelajaran dapat terlihat ketika mengamati
keadaan yang mungkin terjadi ketika diterapkannya perencanaan pembelajaran oleh
seorang guru atau sebaliknya. Kemungkinan yang akan terjadi dalam proses
belajar mengajar ketika seorang guru melakukan perencanaan pembelajaran dengan
benar di antaranya:
1. Guru akan mempunyai tujuan pembelajaran yang
jelas, sehingga memungkinkan target penyampaian materi yang berdasarkan Standar
Kompetensi akan tercapai secara optimal, bahkan memungkinkan siswa lulus ujian
dengan skor yang terbaik.
2. Guru akan menguasai materi yang akan
disampaikan dengan baik dan cara penyampaiannya,
3. Guru akan mempunyai metode yang tepat dalam
pengajarannya, sehingga materi akan mudah dipahami oleh siswa.
4. Guru akan memiliki pemilihan media yang tepat,
sehingga memungkinkan siswa sangat tertarik terhadap materi yang disampaikan.
5. Guru akan memiliki standar jelas dalam memberikan evaluasi
kepada siswa, bahkan memungkinkan para siswa dapat menjawab semua soal dengan
tepat.
Berdasarkan lima kemungkinan positif di atas, secara sederhana dapat
dinyatakan bahwa proses belajar mengajar dengan perencanaan pembelajaran yang
baik akan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Keberhasilan ini
akan mendorong siswa dan guru untuk mengembangkan prestasinya di bidang
pendidikan lebih baik lagi.
Kemungkinan
yang akan terjadi dalam proses belajar mengajar ketika seorang guru tidak
melakukan perencanaan pembelajaran dengan benar di antaranya:
a. Guru tidak akan mempunyai tujuan pembelajaran
yang jelas, sehingga memungkinkan target penyampaian materi yang berdasarkan
Standar Kompetensi tidak akan tercapai, bahkan memungkinkan siswa tidak lulus
dalam ujian.
b. Guru tidak menguasai materi yang akan
disampaikan dengan baik dan cara penyampaiannya, sehingga selain materi akan
sulit dipahami oleh siswa, juga akan memungkinkan terjadinya
kesalahan-kesalahan, baik dalam materi maupun penyampaiannya.
c. Guru tidak akan mempunyai metode yang tepat
dalam pengajarannya, sehingga memungkinkan akan menghambat daya serap siswa
terhadap materi yang disampaikan.
d. Guru tidak memiliki pemilihan media yang tepat,
sehingga memungkinkan siswa mengalami kejenuhan karena kurangnya daya
kreativitas guru dalam mengajar.
e. Guru tidak akan memiliki standar jelas dalam
memberikan evaluasi kepada siswa, bahkan memungkinkan para siswa tidak
dapat menjawab soal-soal dengan tepat (mungkin juga mendapatkan skor di bawah
standar minimal).
Berdasarkan
lima kemungkinan negatif di atas, secara sederhana dapat dinyatakan bahwa
proses belajar mengajar tanpa perencanaan pembelajaran yang baik tidak akan
dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan. Kegagalan ini akan menimpa
pada siswa dan guru dalam mengembangkan prestasinya di bidang pendidikan.
Kedudukan dan Fungsi Perencanaan Pembelajaran
Salah satu instrument atau alat yang harus dipenuhi yaitu adanya
perencanaan pembelajaran yang dibuat sebelum pembelajaran dimulai. Melalui
perencanaan yang telah disiapkan, setiap guru ketika akan mengajar akan
menyesuaiakan dengan tahap-tahap kegiatan yang tertera dalam perencanaan.
Pembelajaran adalah proses yang diatur sedemikian rupa menurut langkah-langkah
atau aturan tertentu secara professional dan proporsional, sehingga
pembelajaran dapat berjalan dengan lancar, logis, wajar, sistematis, efektif
dan efisien. Oleh karena itu perencanaan pembelajaran memiliki fungsi dan
kedudukan yang sentral dalam suatu sistem pembelajaran, dan oleh karenanya
merencanakan pembelajaran termasuk kedalam salah satu tuntutan kompetensi,
terutama terkait dengan kompetensi professional yang harus dikuasai dan
dimiliki setiap guru, baik guru pemula maupun guru yang sudah senior sekalipun.
Kedudukan Perencanaan
Pembelajaran
Robert H. Davis mengidentifikasi lima tipe permasalahan pembelajaran,
sehingga oleh karenanya memerlukan perencanaan pembelajaran yang matang, yaitu:
a. Direction; yang dimaksud adalah tujuan
atau kompetensi pembelajaran yang harus dicapai oleh siswa.
b. Content and sequence; yaitu bahwa untuk mencapai setiap unsure tujuan dari masing-masing
kawasan yang menjadi sasaran pembelajaran, tentu saja diperlukan adanya materi
pembelajaran.
c. Methods; yaitu untuk mengkomunikasikan materi kepada siswa agar mencapai tujuan
sangat ditentukan pula oleh ketepatan memilih dan menggunakan metode
pembelajaran
d. Constrains; yaitu batasan yang jelas
sumber-sumber pembelajaran yang akan digunakan dan mendukung terhadap proses
pembelajaran. Robert H. Davis mengklasifikasikan sumber-sumber kedalam tiga
bidang besar yaitu: sumber-sumber manusia (human), sumber kelembagaan
(institusional), dan sumber pembelajaran (instructional).
e. Evaluation; yaitu penilaian sebagai salah
satu cara untuk memberikan harga atau nilai terhadap objek yaitu siswa.
Perencanaan pembelajaran meliputi beberapa aspek sebagi berikut:
1. Tujuan pembelajaran, mencakup unsur-unsur tujuan yang luas yaitu meliputi pengetahuan, sikap,
dan keterampilan termasuk setiap unsur yang ada di dalamnya.
2. Materi pembelajaran, yaitu meliputi cakupan
atau ruang lingkup dan urutannya, harus direncanakan secara akurat dan
terkontrol sesuai dengan unsur-unsur tujuan yang ditetapkan sebelumnya.
3. Metode dan
sumber pembelajaran, sudah diidentifikasi dengan jelas, dan dipilih serta ditetapkan metode dan
sumber pembelajaran apa selain terkait dengan tujuan dan materi, juga yang
dapat memotivasi siswa untuk aktif belajar.
4. Penilaian,
yaitu jenis, bentuk atau model penilaian yang akan digunakan harus direncanakan
secara akurat sehingga dari penilaian yang memenuhi persyaratan dapat
memberikan informasi yang akurat pula terhadap proses maupun hasil
pembelajaran.
Secara lebih spesifik fungsi
perencanaan pembelajaran dikemukakan oleh Kostelnik sebagai berikut:
1. Mengorganisir
pembelajaran; yaitu proses mengelola seluruh aspek yang terkait dengan
pembelajaran agar tertata secara teratur, logis, sistematis, untuk memudahkan
melakukan proses dan pencapaian hasil pembelajaran secara efektif dan efisien.
2. Berpikir
lebih kreatif untuk mengembangkan apa yang harus dilakukan siswa; yaitu melalui
perencanaan, proses pembelajaran dapat dirancang secara kreatif, inovatif.
Dengan demikian proses pembelajaran tidak dikesankan sebagai suatu proses yang
monoton atau terjadi secara rutinitas.
3. Menetapkan sarana dan fasilitas untuk mendukung pembelajaran; melalui
perencanaan, sarana dan fasilitas pendukung yang diperlukan akan mudah
diidentifikasi dan bagaimana mengelolanya agar terjadi kegiatan pembelajaran
yang lebih efektif.
4. Memetakan
indicator hasil belajar dan cara untuk mencapainya; yaitu melalui perencanaan
yang matang, guru sudah memiliki data tentang sejumlah indicator yang harus
dikuasai oleh siswa dari setiap pembelajaran yang dilakukannya.
5. Merancang
program untuk mengakomodasi kebutuhan siswa secara lebih spesifik; yaitu
melalui perencanaan, hal-hal penting yang terkait dengan kebutuhan,
karakteristik, dan potensi yang dimiliki siswa akan teridentifikasi dan
merencanakan tindakan yang dianggap tepat untuk meresponnya.
6. Mengkomunikasikan
proses dan hasil pembelajaran terhadap pihak-pihak terkait langsung maupun
dengan masyarakat.
Secara umum dapat disimpulkan
bahwa Perencanaan adalah :
1. Perencanaan pembelajaran
adalah proses mengatur dan mengelola setiap unsur pembelajaran (tujuan, isi,
metode, media dan sumber, serta evaluasi) sehingga menjadi suatu sistem
perencanaan pembelajaran yang utuh dan terintegrasi.
2. Perencanaan pembelajaran
adalah adalah proses proses penjabaran dari suatu kurikulum kadalam bentuk
operasional pembelajaran.
3. Perencanaan pembalajaran
berfungsi sebagai alat pengendali sekaligus kontrol dalam setiap kegiatan pembelajaran.
4. Perencanaan pembelajaran
adalah rambu-rambu untuk dijadikan dasar beraktivitas dalam setiap melaksanakan
proses pembelajaran.
5. Secara lebih luas perencanaan
pembelajaran adalah proses memprogram pengembangan pembelajaran, pelaksanaan
pembelajaran, pengelolaan pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.
Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman yang mempunyai padanan
arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan Gestalt adalah bahwa
obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai sesuatu keseluruhan yang
terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh prinsip organisasi yang
terpenting yaitu :
a. Hubungan
bentuk dan latar (figure and gound
relationship);
yaitu menganggap bahwa setiap
bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang.
Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya
membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat
samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
b. Kedekatan
(proxmity);
bahwa unsur-unsur yang saling
berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang
sebagai satu bentuk tertentu.
c. Kesamaan
(similarity);
bahwa sesuatu yang memiliki
kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
d. Arah
bersama (common direction);
bahwa unsur-unsur bidang
pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi
suatu figure atau bentuk tertentu.
e. Kesederhanaan
(simplicity);
bahwa orang cenderung menata
bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung
membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan;
dan
f. Ketertutupan
(closure)
bahwa orang cenderung akan
mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Pemberian makna
terhadap suatu rangsangan sensoris adalah merupakan suatu proses yang dinamis
dan bukan sebagai suatu reaksi yang statis. Proses pengamatan merupakan suatu
proses yang dinamis dalam memberikan tafsiran terhadap rangsangan yang
diterima. Esensi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara lain :
a. Pengalaman
tilikan (insight);
bahwa tilikan memegang peranan
yang penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik
memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur
dalam suatu obyek atau peristiwa.
b. Pembelajaran
yang bermakna (meaningful learning);
kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin
jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam
identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang
dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan
proses kehidupannya.
c. Perilaku
bertujuan (pusposive behavior);
bahwa perilaku terarah pada
tujuan. Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi
ada keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran
akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.
Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas
pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
d. Prinsip
ruang hidup (life space);
bahwa perilaku individu
memiliki keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu,
materi yang diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi
lingkungan kehidupan peserta didik.
e.
Transfer dalam Belajar (Transfer Knowledge)
pemindahan pola-pola perilaku
dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt,
transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu
konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi
konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat.
f. Penekanan
prinsip-prinsip pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun
ketentuan-ketentuan umum (generalisasi).
Transfer belajar akan terjadi apabila
peserta didik telah menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan
menemukan generalisasi untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam
situasi lain. Oleh karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik
untuk menguasai prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
Prinsip -
prinsip Pengembangan Silabus
Ada beberapa prinsip yang harus diperhatkan para pengembang silabus,
yakni:a.
- Ilmiah, yakni keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatandalam silabus harus benar dan dapat dipertanggung jawabkan secarakeilmuan.
- Relevan, yakni cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembanganfisik, intelektual, social, emosional, dan spiritual peserta didik..
- Sistematis, yakni komponen - komponen silabus saling berhubungansecara fungsional dalam mencapai kompetensi.
- Konsisten, artinya adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asa) antara kompetensi
- Memadai, maksudnya cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar
- Aktual dan kontekstual, yakni cakupan indikator , materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatkan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutakhir dalam kehidupan nyata, dan peristiwa yang terjadi.
- Fleksibel, maksudnya keseluruhan komponen silabus dapatmengakomodasi variasi peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi disekolah dan tuntutan masyarakat.
- Menyeluruh, maksudnya komponen mencakup keseluruhan ranahkompetensi (kognitif, afektif, dan psikomotorik)
Komponen dan
Format Silabus
Komponen Silabus memuat sekurang - kurangnya komponen - komponen berikut ini
:
- Identifikasi
- Standar Kompetensi
- Materi Pokok
- Pengalaman Belajar
- Indikator
- Penilaian
- Alokasi Waktu
- Media (sumber/bahan/alat)
Komponen dan
Format Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Setelah silabus tersusun, langkah berikutnya adalah penyusunan
RencanaPelaksanaan Pembelajaran (RPP). RPP merupakan penjabaran dari
silabus.RPP disusun untuk setiap kali pertemuan oleh guru. Di dalam RPP
tercerminkegiatan yang dilakukan guru dan peserta didik untuk mencapai
kompetensiyang telah ditetapkan. RPP minimal memuat komponen ±
komponensebagaimana berikut :
- Tujuan Pembelajaran
- Materi Ajar
- Metode Pembelajaran
- Sumber Belajar (Media Pembelajaran)
- Penilaian Hasil Belajar
Analisis
Sumber Belajar & Media Pembelajaran
Sumber Belajar (Media Pembelajaran)´. Pada poin ini hendaknya dilakukan
analisis terhadap pertimbangan - pertimbangan pemilihan media sebagaimana telah
dibahas pada bab terdahulu, yakni meliputi :
(1) deskripsi singkat tentang karakterisistik siswa;
(2) analisis tujuan (meliputi kognitif,afektif, psikomotorik);
(3) analisis bahan ajar yang biasanya menuntut berbagaiaktivitas siswa;
(4) ketersediaan atau pengadaan media pembelajaran.
Sifat Bahan
Ajar
Isi pelajaran atau bahan ajar memiliki keragaman dari sisi tugas yang
ingindilakukan siswa. Tugas - tugas tersebut biasanya menuntut adanya aktivitas
dari parasiswanya.Banyak jenis aktivitas yang biasa dilakukan siswa di sekolah.
Isi bahan ajar tidak cukup hanya menuntut aktivitas siswa. Ada delapan
aktivitas belajar siswa disekolah di antaranya :
1. Visual
Activities
yang termasuk di dalamnya
adalah membaca,memperhatikan demonstrasi, percobaan dan pekerjaan orang lain
2. Oral
Activities,
seperti menyatakan,
bertanya, member saran,mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi,
interupsi
3. Listening
Activities,
sebagai contoh mendengarkan
uraian, diskusi
4. Writing
Activities,
seperti menulis poin ± poin
yang penting di dengarnya,menulis karangan
5. Drawing
Activities,
seperti menggambar, membuat
grafik, peta
6. Motor
Activities
antara lain melakukan
percobaan, membuat kontruksimodel, mereparasi, beternak, berkebun
7. Mental
Activities
menanggapi, mengingat, memecahkan soal
8. Emotional
Activities
seperti merasa bosan,
berani, tenang, gugu
Bahan Ajar
disusun untuk :
- Membantu siswa dalam mempelajari sesuatu.
- Memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran
- Agar kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik
Menyediakan
berbagai jenis pilihan bahan ajar Bahan Ajar dapat dikelompokan menjadi
beberapa kategori :
- Bahan Ajar cetak (Printed) yang meliputi : handout, buku, modul, lembar kerja siswa.
- Bahan Ajar gambar (Audio) mencakup : kaset / piringan hitam.
- Bahan Ajar pandang dengar (Audio Visual) yang meliputi : video, film, orang /nara sumber .
- Bahan Ajar interaktif yaitu multimedianya merupakan kombinasi dari dua atau lebihmedia yang penggunaannya dimanipulasi untuk mengendalikan perintah atau perilakualami dari suatu presentasi
Fungsi & Manfaat Media Pembelajaran
Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media
pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan
dan minat yang baru,membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan
bahkan membawa pengaruh - pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan
media pembelajaran padatahap orientasi pembelajaran akan sangat membantu
keeftifan proses belajar mengajar.
Levie & Lentz (1982) mengemukakan empat fungsi
media pembelajaran, khususnya media visual, yaitu :
a. Fungsi Atensi
b. Fungsi Afektif
c. Fungsi Kognitif
d. Fungsi Kompensatori
1. Fungsi atensi
media visual merupakan inti,
yaitu menarik dan mengarahkan perhatiansiswa untuk berkonsentrasi kepada isi
pelajaran yang berkaitan dengan makna visual yangditampilkan atau menyertai
teks materi pelajaran. Seringkali pada awal pelajaran siswa tidak tertarik
dengan materi pelajaran atau mata pelajaran itu oleh mereka sehingga mereka
tidak memperhatikan.Media gambar, khususnya gambar yang diproyeksikan melalui overhead projector dapat menenangkan dan mengarahkan
perhatian mereka kepada pelajaran yang akanmereka terima. Dengan demikian,
kemungkinan untuk memperoleh dan mengingat isi pelajaransemakin besar.
2. Fungsi afektif
media visual dapat terlihat
dari tingkat kenikmatan siswa ketika belajar (atau membaca) teks yang
bergambar. Gambar atau lambing visual dapat menggugah emosi dansikap siswa,
misalnya informasi yang menyangkut masalah social atau ras
3. Fungsi kognitif
media visual terlihat dari
temuan ± temuan penelitian yangmengungkapkan bahwa lambing visual atau gambar
memperlancar pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau
pesan yang terkandung dalam gambar.
4. Fungsi kompensatoris
media pembelajaran terlihat
dari hasil penelitian bahwa mediavisual yang memberikan konteks untuk memahami
teks membantu siswa yang lemah dalammembaca untuk mengorganisasikan informasi
dalam teks dan mengingatnya kembali. Dengankata lain, media pembelajaran
befungsi untuk mengakomodasikan siswa yang lemah dan lambatmenerima dan
memahami isi pelajaran yang disajikan dengan teks atau disajikan secara verbal.
Ciri - Ciri
Media Pembelajaran :
- Ciri Fiksatif (Fixative Property)
- Ciri Manipulatif (Manipulatif Property)
- Ciri Distributif (Distributif Property)
Teori
Pembelajaran
Guru sebagai
pengembang media pembelajaran harus mengetahui perbedaan pendekatan-pendekatan
dalam belajar agar dapat memilih strategi pembelajaran yang tepat. Strategi
pembelajaran harus dipilih untuk memotivasi para pembelajar, memfasilitasi
proses belajar, membentuk manusia seutuhnya, melayani perbedaan individu,
mengangkat belajar bermakna, mendorong terjadinya interaksi, dan memfasilitasi
belajar kontekstual, Jika menelaah literatur psikologi, kita akan menemukan
banyak teori belajar yang bersumber dari aliran-aliran psikologi. Dalam tautan
di bawah ini akan dikemukakan empat jenis teori belajar, yaitu: (A) teori
belajar behaviorisme; (B) teori belajar kognitivisme; (C) teori belajar
konstruktivisme; (D) teori belajar humanisme dan (E) teori belajar gestalt
1. Teori
Belajar Behaviorisme
Behaviorisme
merupakan salah aliran psikologi yang memandang individu hanya dari sisi
fenomena jasmaniah, dan mengabaikan aspek-aspek mental. Dengan kata lain,
behaviorisme tidak mengakui adanya kecerdasan, bakat, minat dan perasaan
individu dalam suatu belajar. Peristiwa belajar semata-mata melatih
refleks-refleks sedemikian rupa sehingga menjadi kebiasaan yang dikuasai
individu. Beberapa hukum belajar yang dihasilkan dari pendekatan behaviorisme
ini, diantaranya :
a. Connectionism
( S-R Bond) menurut Thorndike.
Dari
eksperimen yang dilakukan Thorndike terhadap kucing menghasilkan hukum-hukum
belajar, diantaranya:
- Law of Effect; artinya bahwa jika sebuah respons menghasilkan efek yang memuaskan, maka hubungan Stimulus – Respons akan semakin kuat. Sebaliknya, semakin tidak memuaskan efek yang dicapai respons, maka semakin lemah pula hubungan yang terjadi antara Stimulus- Respons.
- Law of Readiness; artinya bahwa kesiapan mengacu pada asumsi bahwa kepuasan organisme itu berasal dari pemdayagunaan satuan pengantar (conduction unit), dimana unit-unit ini menimbulkan kecenderungan yang mendorong organisme untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu.
- Law of Exercise; artinya bahwa hubungan antara Stimulus dengan Respons akan semakin bertambah erat, jika sering dilatih dan akan semakin berkurang apabila jarang atau tidak dilatih.
b. Classical
Conditioning menurut Ivan Pavlov
Dari
eksperimen yang dilakukan Pavlov terhadap seekor anjing menghasilkan
hukum-hukum belajar, diantaranya :
- Law of Respondent Conditioning yakni hukum pembiasaan yang dituntut. Jika dua macam stimulus dihadirkan secara simultan (yang salah satunya berfungsi sebagai reinforcer), maka refleks dan stimulus lainnya akan meningkat.
- Law of Respondent Extinction yakni hukum pemusnahan yang dituntut. Jika refleks yang sudah diperkuat melalui Respondent conditioning itu didatangkan kembali tanpa menghadirkan reinforcer, maka kekuatannya akan menurun.
c. Operant
Conditioning menurut B.F. Skinner
Dari
eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap
burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya :
- Law of operant conditining yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.
- Law of operant extinction yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.
Reber
(Muhibin Syah, 2003) menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan operant
adalah sejumlah perilaku yang membawa efek yang sama terhadap lingkungan.
Respons dalam operant conditioning terjadi tanpa didahului oleh stimulus,
melainkan oleh efek yang ditimbulkan oleh reinforcer. Reinforcer itu
sendiri pada dasarnya adalah stimulus yang meningkatkan kemungkinan timbulnya
sejumlah respons tertentu, namun tidak sengaja diadakan sebagai pasangan
stimulus lainnya seperti dalam classical conditioning.
d. Social
Learning menurut Albert Bandura
Teori
belajar sosial atau disebut juga teori observational learning adalah
sebuah teori belajar yang relatif masih baru dibandingkan dengan teori-teori
belajar lainnya. Berbeda dengan penganut Behaviorisme lainnya, Bandura memandang
Perilaku individu tidak semata-mata refleks otomatis atas stimulus (S-R Bond),
melainkan juga akibat reaksi yang timbul sebagai hasil interaksi antara
lingkungan dengan skema kognitif individu itu sendiri. Prinsip dasar belajar
menurut teori ini, bahwa yang dipelajari individu terutama dalam belajar sosial
dan moral terjadi melalui peniruan (imitation) dan penyajian contoh
perilaku (modeling). Teori ini juga masih memandang pentingnya conditioning.
Melalui pemberian reward dan punishment, seorang individu akan
berfikir dan memutuskan perilaku sosial mana yang perlu dilakukan.
Kajian
konsep dasar belajar dalam Teori Behaviorisme didasarkan pada pemikiran bahwa
belajar merupakan salah satu jenis perilaku (behavior) individu atau
peserta didik yang dilakukan secara sadar. Individu berperilaku apabila ada
rangsangan (stimuli), sehingga dapat dikatakan peserta didik di SD/MI
akan belajar apabila menerima rangsangan dari guru. Semakin tepat dan intensif
rangsangan yang diberikan oleh guru akan semakin tepat dan intensif pula
kegiatan belajar yang dilakukan peserta didik. Dalam belajar tersebut kondisi
lingkungan berperan sebagai perangsang (stimulator) yang harus direspon
individu dengan sejumlah konsekuensi tertentu. Konsekuensi yang dihadapi
peserta didik, ada yang bersifat positif (misalnya perasaan puas, gembira,
pujian, dan lain-lain sejenisnya) tetapi ada pula yang bersifat negatif
(misalnya perasaan gagal, sedih, teguran, dan lain-lain sejenisnya).
Konsekuensi positif dan negatif tersebut berfungsi sebagai penguat (reinforce)
dalam kegiatan belajar peserta didik.
Seringkali
guru mengaplikasikan konsep belajar menurut teori behaviorisme secara tidak
tepat, karena setiap kali peserta didik merespon secara tidak tepat atau tidak
benar suatu tugas, guru memarahi atau menghukum peserta didik tersebut.
Tindakan guru seperti ini (memarahi atau menghukum setiap kali peserta didik
merespon secara tidak tepat) dapat disebut salah atau tidak profesional apabila
hukuman (negative consequence) tidak difungsikan sebagai penguat atau reinforce.
Peserta
didik seringkali melakukan perilaku tertentu karena meniru apa yang dilihatnya
dilakukan orang lain di sekitarnya seperti saudara kandungnya, orangtuanya,
teman sekolahnya, bahkan oleh gurunya. Oleh sebab itu dapat dikatakan, apabila
lingkungan sosial di mana peserta didik berada sehari-hari merupakan lingkungan
yang mengkondisikan secara efektif memungkinkan suasana belajar, maka peserta
didik akan melakukan kegiatan atau perilaku belajar yang efektif.
Sebetulnya
masih banyak tokoh-tokoh lain yang mengembangkan teori belajar behavioristik
ini, seperti : Watson yang menghasilkan prinsip kekerapan dan prinsip kebaruan,
Guthrie dengan teorinya yang disebut Contiguity Theory yang menghasilkan
Metode Ambang (the treshold method), metode meletihkan (The Fatigue
Method) dan Metode rangsangan tak serasi (The Incompatible Response
Method), Miller dan Dollard dengan teori pengurangan dorongan.
2. Teori
Belajar Kognitivisme
Teori
belajar kognitivisme mengacu pada wacana psikologi kognitif, yang didasarkan
pada kegiatan kognitif dalam belajar. Para ahli teori belajar ini berupaya
menganalisis secara ilmiah proses mental dan struktur ingatan atau cognition
dalam aktifitas belajar. Cognition diartikan sebagai aktifitas
mengetahui, memperoleh, mengorganisasikan, dan menggunakan pengetahuan
(Lefrancois, 1985). Tekanan utama psikologi kognitif adalah struktur kognitif,
yaitu perbendaharaan pengetahuan pribadi individu yang mencakup ingatan jangka
panjangnya (long-term memory). Psikologi kognitif memandang manusia
sebagai makhluk yang selalu aktif mencari dan menyeleksi informasi untuk
diproses. Perkatian utama psikologi kognitif adalah upaya memahami proses
individu mencari, menyeleksi, mengorganisasikan, dan menyimpan informasi.
Belajar kognitif berlangsung berdasar schemata atau struktur mental
individu yang mengorganisasikan hasil pengamatannya.
Struktur
mental individu tersebut berkembangan sesuai dengan tingkatan perkembangan
kognitif seseorang. Semakin tinggi tingkat perkembangan kognitif seseorang
semakin tinggi pula kemampuan dan keterampilannya dalam memproses berbagai
informasi atau pengetahuan yang diterimanya dari lingkungan, baik lingkungan
phisik maupun lingkungan sosial. Itulah sebabnya, teori belajar kognitivisme
dapat disebut sebagai (1) teori perkembangan kognitif, (2) teori kognisi
sosial, dan (3) teori pemrosesan informasi.
a. Perkembangan Kognitif menurut Piaget
Piaget merupakan salah seorang tokoh yang disebut-sebut sebagai pelopor
aliran konstruktivisme. Salah satu sumbangan pemikirannya yang banyak digunakan
sebagai rujukan untuk memahami perkembangan kognitif individu yaitu teori
tentang tahapan perkembangan individu. Menurut Piaget bahwa perkembangan
kognitif individu meliputi empat tahap yaitu :
(1) sensory
motor;
(2) pre
operational;
(3) concrete
operational dan
(4) formal
operational.
Pemikiran lain dari Piaget tentang proses rekonstruksi pengetahuan individu
yaitu asimilasi dan akomodasi. James Atherton (2005) menyebutkan bahwa
asisimilasi adalah “the process by which a person takes material into their
mind from the environment, which may mean changing the evidence of their senses
to make it fit” dan akomodasi adalah “the difference made to one’s mind
or concepts by the process of assimilation”
Asimilasi
ditempuh ketika individu menyatukan informasi baru ke perbendaharaan informasi
yang sudah dimiliki atau diketahuinya kemudian menggantikannya dengan informasi
terbaru. Individu mengorganisasikan makna informasi itu ke dalam ingatan jangka
panjang (long-term memory). Ingatan jangka panjang yang terorganisasikan
inilah yang diartikan sebagai struktur kognitif. Struktur kognitif berisi
sejumlah coding yang mengadung segi-segi intelek yang mengatur atau
memerintah perilaku individu; perubahan perilaku mendasari penetapan tahap-tahap
perkembangan kognitif. Tiap tahapan perkembangan menggambarkan isi struktur
kognitif yang khas sesuai perbedaan antar tahapan.
Tahapan perkembangan belajar menurut Piaget :
1.
Sensorimotor inteligence (lahir s.d
usia 2 tahun): perilaku
terikat pada panca indera dan gerak motorik. Bayi belum mampu berpikir
konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati
2.
Preoperation thought (2-7
tahun): tampak
kemampuan berbahasa, berkembang pesat penguasaan konsep. Bayi belum mampu
berpikir konseptual namun perkembangan kognitif telah dapat diamati
3.
Concrete Operation (7-11 tahun): berkembang daya mampu anak berpikir logis untuk
memecahkan masalah konkrit. Konsep dasar benda, jumlah waktu, ruang, kausalitas
4.
Formal Operations (11-15 tahun): kecakapan kognitif mencapai puncak perkembangan. Anak
mampu memprediksi, berpikir tentang situasi hipotesis, tentang hakekat berpikir
serta mengapresiasi struktur bahasa dan berdialog. Sarkasme, bahasa gaul,
mendebat, berdalih adalah sisi bahasa remaja cerminan kecakapan berpikir
abstrak dalam/melalui bahasa
Dikemukakannya pula, bahwa belajar akan lebih berhasil
apabila disesuaikan dengan tahap perkembangan kognitif peserta didik. Peserta
didik hendaknya diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen dengan obyek
fisik, yang ditunjang oleh interaksi dengan teman sebaya dan dibantu oleh
pertanyaan tilikan dari guru. Guru hendaknya banyak memberikan rangsangan
kepada peserta didik agar mau berinteraksi dengan lingkungan secara aktif,
mencari dan menemukan berbagai hal dari lingkungan.
Implikasi teori perkembangan
kognitif Piaget dalam pembelajaran adalah :
1) Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang
dewasa. Oleh karena itu guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai
dengan cara berfikir anak.
2) Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat
menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat
berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.
3) Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan
baru tetapi tidak asing.
4) Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap
perkembangannya.
5) Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang
untuk saling berbicara dan diskusi dengan teman-temanya.
b. Kognisi Sosial oleh L.S. Vygotsky
L.S.
Vygotsky, mendasari pemikiran bahwa budaya berperan penting dalam belajar seseorang.
Budaya adalah penentu perkembangan, tiap individu berkembang dalam konteks
budaya, sehingga proses belajar individu dipengaruhi oleh lingkungan utama
budaya keluarga. Budaya lingkungan individu membelajarkannya apa dan bagaimana
berpikir. Konsep dasar teori ini diringkas sebagai berikut:
- Budaya memberi sumbangan perkembangan intelektual individu melalui 2 cara, yaitu melalui (i) budaya dan (ii) lingkungan budaya. Melalui budaya banyak isi pikiran (pengetahuan) individu diperoleh seseorang, dan melalui lingkungan budaya sarana adaptasi intelektual bagi individu berupa proses dan sarana berpikir bagi individu dapat tersedia.
- Perkembangan kognitif dihasilkan dari proses dialektis (proses percakapan) dengan cara berbagi pengalaman belajar dan pemecahan masalah bersama orang lain, terutama orangtua, guru, saudara sekandung dan teman sebaya.
- Awalnya orang yang berinteraksi dengan individu memikul tanggung jawab membimbing pemecahan masalah; lambat-laun tanggung jawab itu diambil alih sendiri oleh individu yang bersangkutan.
- Bahasa adalah sarana primer interaksi orang dewasa untuk menyalurkan sebagian besar perbendaharaan pengetahuan yang hidup dalam budayanya.
- Seraya bertumbuh kembang, bahasa individu sendiri adalah sarana primer adaptasi intelektual; ia berbahasa batiniah (internal language) untuk mengendalikan perilaku.
- Internalisasi merujuk pada proses belajar. Menginternalisasikan pengetahuan dan alat berpikir adalah hal yang pertama kali hadir ke kehidupan individu melalui bahasa.
- Terjadi zone of proximal development atau kesenjangan antara yang sanggup dilakukan individu sendiri dengan yang dapat dilakukan dengan bantuan orang dewasa.
- Karena apa yang dipelajari individu berasal dari budaya dan banyak di antara pemecahan masalahanya ditopang orang dewasa, maka pendidikan hendaknya tidak berpusat pada individu dalam isolasi dari budayanya.
- Interaksi dengan budaya sekeliling dan lembaga-lembaga sosial sebagaimana orangtua, saudara sekandung, individu dan teman sebaya yang lebih cakap sangat memberi sumbangan secara nyata pada perkembangan intelektual individu.
c. Pemprosesan Informasi dari Robert Gagne
Asumsi yang
mendasari teori ini adalah bahwa pembelajaran merupakan faktor yang sangat
penting dalam perkembangan. Perkembangan merupakan hasil kumulatif dari
pembelajaran. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan
informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk
hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara
kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi
internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil
belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi
eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam
proses pembelajaran.
Model belajar pemrosesan informasi ini (kognitif information
processing), karena dalam proses belajar ini tersedia tiga taraf struktural
sistem informasi, yaitu:
1) Sensory atau intake
register: informasi
masuk ke sistem melalui sensory register, tetapi hanya disimpan untuk
periode waktu terbatas. Agar tetap dalam sistem, informasi masuk ke working
memory yang digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2) Working
memory: pengerjaan
atau operasi informasi berlangsung di working memory, dan di sini
berlangsung berpikir yang sadar. Kelemahan working memory sangat
terbatas kapasitas isinya dan memperhatikan sejumlah kecil informasi secara
serempak.
3) Long-term
memory, yang secara potensial tidak terbatas kapasitas isinya
sehingga mampu menampung seluruh informasi yang sudah dimiliki peserta didik.
Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang tersimpan di
dalamnya.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4)
penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan
balik.
3. Teori Belajar Konstruktivisme
Konsep
belajar menurut teori belajar konstruktivisme yaitu pengetahuan baru
dikonstruksi sendiri oleh peserta didik secara aktif berdasarkan pengetahuan
yang telah diperoleh sebelumnya. Pendekatan konstruktivisme dalam proses
pembelajaran didasari oleh kenyataan bahwa tiap individu memiliki kemampuan
untuk mengkonstruksi kembali pengalaman atau pengetahuan yang telah
dimilikinya. Oleh sebab itu dapat dikatakan bahwa pembelajaran konstruktivisme
merupakan satu teknik pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk membina
sendiri secara aktif pengetahuan dengan menggunakan pengetahuan yang telah ada
dalam diri mereka masing-masing.
Guru hanya
sebagai fasilitator atau pencipta kondisi belajar yang memungkinkan peserta
didik secara aktif mencari sendiri informasi, mengasimilasi dan mengadaptasi
sendiri informasi, dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang baru berdasarkan
pengetahuan yang telah dimiliki masing-masing. Berikt tabel peranan peserta
didik dan guru dalam pembelajaran konstruktivisme
Tasker
(1992:30)
mengemukakan tiga penekanan dalam teori belajar konstruktivisme sebagai
berikut. Pertama adalah peran aktif peserta didik dalam mengkonstruksi
pengetahuan secara bermakna. Kedua adalah pentingya membuat kaitan antara
gagasan dalam pengkonstruksian secara bermakna. Ketiga adalah mengaitkan antara
gagasan dengan informasi baru yang diterima.
Wheatley
(1991:12) mendukung
pendapat di atas dengan mengajukan dua prinsip utama dalam pembelajaran dengan
teori belajar konstrukltivisme. Pertama, pengetahuan tidak dapat diperoleh
secara pasif, tetapi secara aktif oleh struktur kognitif peserta didik. Kedua,
fungsi kognisi bersifat adaptif dan membantu pengorganisasian melalui
pengalaman nyata yang dimiliki anak.
Dalam upaya mengimplementasikan teori belajar
konstruktivisme, Tytler (1996:20) mengajukan beberapa saran yang berkaitan
dengan rancangan pembelajaran, sebagai berikut: (1) memberi kesempatan kepada
peserta didik untuk mengemukakan gagasannya dengan bahasa sendiri, (2) memberi
kesempatan kepada peserta didik untuk berfikir tentang pengalamannya sehingga
menjadi lebih kreatif dan imajinatif, (3) memberi kesempatan kepada peserta
didik untuk mencoba gagasan baru, (4) memberi pengalaman yang berhubungan
dengan gagasan yang telah dimiliki peserta didik, (5) mendorong peserta didik
untuk memikirkan perubahan gagasan mereka, dan (6) menciptakan lingkungan
belajar yang kondusif.
Diharapkan melalui pembelajaran konstruktivisme,
peserta didik dapat tumbuh kembang menjadi individu yang penuh kepercayaan diri
yang memiliki sifat-sifat antara lain:
- Bersikap terbuka dalam menerima semua pengalaman dan mengembangkannya menjadi persepsi atau pengetahuan yang baru dan selalu diperbaharui;
- Percaya diri sehingga dapat berperilaku secara tepat dalam menghadapi segala sesuatu;
- Berperasaan bebas tanpa merasa terpaksa dalam melakukan segala sesuatu tanpa mengharapkan atau tergantung pada bantuan orang lain;
- Kreatif dalam mencari pemecahan masalah atau dalam melakukan tugas yang dihadapinya.
Teori Belajar Humanisme
Teori belajar humanisme memandang kegiatan belajar
merupakan kegiatan yang melibatkan potensi psikis yang bersifat kognitif, afektif,
dan konatif. Ibu, yang dicontohkan di atas hanya melihat kegiatan belajar
anaknya dari sisi afektif semata tanpa menyadari bahwa sisi afektif (perasaan)
dan konatif (psikomotorik) turut pula berperan dalam belajar.
Salah seorang tokoh teori belajar humanisme adalah Carl Ransom Rogers (1902- 1987) yang lahir di Oak Park, Illinois, Chicago, Amerika
Serikat. Rogers terkenal sebagai seorang tokoh psikologi humanis, aliran
fenomenologis-eksistensial, psikolog klinis dan terapis. Ide dan konsep
teorinya banyak didapatkan dalam pengalaman-pengalaman terapeutiknya yang
banyak dipengaruhi oleh teori kebutuhan (needs) yang diperkenalkan
Abraham H. Maslow.
Menurut teori kebutuhan Maslow, di dalam diri tiap
individu terdapat sejumlah kebutuhan yang tersusun secara berjenjang, mulai
dari kebutuhan yang paling rendah tetapi mendasar (physiological needs)
sampai pada jenjang paling tinggi (self actualization). Setiap individu
mempunyai keinginan untuk mengaktualisasi diri, yang oleh Carl R. Rogers
disebut dorongan untuk menjadi dirinya sendiri (to becoming a person).
Peserta didik pun memiliki dorongan untuk menjadi dirinya sendiri, karena di
dalam dirinya terdapat kemampuan untuk mengerti dirinya sendiri, menentukan
hidupnya sendiri, dan menangani sendiri masalah yang dihadapinya. Itulah
sebabnya, dalam proses pembelajaran hendaknya diciptakan kondisi pembelajaran
yang memungkinkan peserta didik secara aktif mengaktualisasi dirinya.
Aktualisasi diri merupakan suatu proses menjadi diri
sendiri dan mengembangkan sifat-sifat dan potensi-potensi psikologis yang unik.
Proses aktualisasi diri seseorang berkembang sejalan dengan perkembangan
hidupnya karena setiap individu, dilahirkan disertai potensi tumbuh-kembang
baik secara fisik maupun secara phisik masing-masing. Proses tumbuh-kembang
pada setiap individu mengikuti tahapan, arah, irama, dan tempo sendiri-sendiri,
yang ditandai oleh berbagai ciri atau karakteristiknya masing-masing. Ada
individu yang tempo perkembangannya cepat tetapi iramanya tidak stabil dan
arahnya tidak menentu, dan ada pula individu yang tempo perkembangannya tidak
cepat tetapi irama dan arahnya jelas.
Dalam kaitannya dengan proses
pendidikan formal (sekolah), Slavin (1994:70- 110) mengelompokkan Tahapan perkembangan anak, yaitu (1)
tahapan early childhood, (2) tahapan middle childhood, dan (3)
tahapan adolescence, dengan dimensi utama perkembangan
mencakup (a) dimensi kognitif, (b) dimensi fisik, dan (c) dimensi sosioemosi.
Tiap dimensi perkembangan tersebut memiliki karakteristik yang berbeda antara
tahapan perkembangan yang satu dengan tahapan perkembangan yang lainnya.
Pada tahapan early
childhood, perkembangan individu dalam dimensi perkembangan
kognitif lebih ditandai oleh penguasaan bahasa (language aquisition).
Individu pada tahapan perkembangan ini mendapatkan banyak sekali perbendaharaan
bahasa. Sejak lahir sampai pada usia 2 tahun biasanya individu (bayi) mencoba
memahami dunia sekitarnya melalui penggunaan rasa (senses). Pengetahuan
atau apa yang diketahuinya lebih banyak didasarkan pada gerakan fisik, dan apa
yang dipahaminya terbatas pada kejadian yang baru saja dialaminya.
Pada tahapan perkembangan middle childhoods, perkembangan kognitif seseorang
mulai bergeser ke perkembangan proses berpikir. Pada awalnya, proses berpikir
individu pada tahapan perkembangan ini dimulai dengan hal-hal konkrit
operasional, dan selanjutnya ke hal-hal abstrak konseptual. Apabila individu
gagal dalam perkembangan proses berpikir dalam hal-hal konkrit operasional,
maka besar kemungkinan mengalami kesulitan dalam proses berpikir abstrak
konseptual.
Pada tahapan perkembangan adollescence, perkembangan kognitif lebih ditandai
oleh perkembangan fungsi otak (brain) sebagai instrumen berpikir.
Berpikir formal operasional atau berpikir abstrak konseptual mulai berkembang;
di samping itu mulai berkembang pola pikir reasoning (penalaran) baik
secara induktif (khusus=>umum) maupun secara deduktif (umum=>khusus).
Dalam menghadapi segala kejadian atau pengalaman tertentu, individu mengajukan
hipotesis atau jawaban sementara yang menggunakan pola pikir deduktif.
Teori Belajar Gestalt
Gestalt berasal dari bahasa Jerman
yang mempunyai padanan arti sebagai “bentuk atau konfigurasi”. Pokok pandangan
Gestalt adalah bahwa obyek atau peristiwa tertentu akan dipandang sebagai
sesuatu keseluruhan yang terorganisasikan. Menurut Koffka dan Kohler, ada tujuh
prinsip organisasi yang terpenting yaitu :
- Hubungan bentuk dan latar (figure and gound relationship); yaitu menganggap bahwa setiap bidang pengamatan dapat dibagi dua yaitu figure (bentuk) dan latar belakang. Penampilan suatu obyek seperti ukuran, potongan, warna dan sebagainya membedakan figure dari latar belakang. Bila figure dan latar bersifat samar-samar, maka akan terjadi kekaburan penafsiran antara latar dan figure.
- Kedekatan (proxmity); bahwa unsur-unsur yang saling berdekatan (baik waktu maupun ruang) dalam bidang pengamatan akan dipandang sebagai satu bentuk tertentu.
- Kesamaan (similarity); bahwa sesuatu yang memiliki kesamaan cenderung akan dipandang sebagai suatu obyek yang saling memiliki.
- Arah bersama (common direction); bahwa unsur-unsur bidang pengamatan yang berada dalam arah yang sama cenderung akan dipersepsi sebagi suatu figure atau bentuk tertentu.
- Kesederhanaan (simplicity); bahwa orang cenderung menata bidang pengamatannya bentuk yang sederhana, penampilan reguler dan cenderung membentuk keseluruhan yang baik berdasarkan susunan simetris dan keteraturan; dan
- Ketertutupan (closure) bahwa orang cenderung akan mengisi kekosongan suatu pola obyek atau pengamatan yang tidak lengkap.
Aplikasi teori Gestalt dalam proses pembelajaran antara
lain :
- Pengalaman tilikan (experienced insight);
bahwa tilikan memegang peranan yang
penting dalam perilaku. Dalam proses pembelajaran, hendaknya peserta didik
memiliki kemampuan tilikan yaitu kemampuan mengenal keterkaitan unsur-unsur
dalam suatu obyek atau peristiwa.
- Pembelajaran yang bermakna (meaningful learning);
kebermaknaan unsur-unsur yang
terkait akan menunjang pembentukan tilikan dalam proses pembelajaran. Makin
jelas makna hubungan suatu unsur akan makin efektif sesuatu yang dipelajari.
Hal ini sangat penting dalam kegiatan pemecahan masalah, khususnya dalam
identifikasi masalah dan pengembangan alternatif pemecahannya. Hal-hal yang
dipelajari peserta didik hendaknya memiliki makna yang jelas dan logis dengan
proses kehidupannya.
- Perilaku bertujuan (pusposive behavior);
bahwa perilaku terarah pada tujuan.
Perilaku bukan hanya terjadi akibat hubungan stimulus-respons, tetapi ada
keterkaitannya dengan dengan tujuan yang ingin dicapai. Proses pembelajaran
akan berjalan efektif jika peserta didik mengenal tujuan yang ingin dicapainya.
Oleh karena itu, guru hendaknya menyadari tujuan sebagai arah aktivitas
pengajaran dan membantu peserta didik dalam memahami tujuannya.
- Prinsip ruang hidup (life space);
bahwa perilaku individu memiliki
keterkaitan dengan lingkungan dimana ia berada. Oleh karena itu, materi yang
diajarkan hendaknya memiliki keterkaitan dengan situasi dan kondisi lingkungan
kehidupan peserta didik.
- Transfer Pengetahuan dalam Belajar (transfer Knowledge);
yaitu pemindahan pola-pola perilaku
dalam situasi pembelajaran tertentu ke situasi lain. Menurut pandangan Gestalt,
transfer belajar terjadi dengan jalan melepaskan pengertian obyek dari suatu
konfigurasi dalam situasi tertentu untuk kemudian menempatkan dalam situasi
konfigurasi lain dalam tata-susunan yang tepat.
Judd menekankan pentingnya penangkapan prinsip-prinsip
pokok yang luas dalam pembelajaran dan kemudian menyusun ketentuan-ketentuan
umum (generalisasi). Transfer belajar akan terjadi apabila peserta didik telah
menangkap prinsip-prinsip pokok dari suatu persoalan dan menemukan generalisasi
untuk kemudian digunakan dalam memecahkan masalah dalam situasi lain. Oleh
karena itu, guru hendaknya dapat membantu peserta didik untuk menguasai
prinsip-prinsip pokok dari materi yang diajarkannya.
DAFTAR
PUSTAKA
1. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi
Belajar Mengajar. Jakarta: Rineka Cipta
2. Djuharie, O. Setiawan. 2001. Pedoman Penulisan
Skripsi, Tesis, Disertasi. Bandung: Yrama Widya
3. Hornby, A S. 2000. Oxford Advanced Learner’s
Dictionary of Current English, Sixth Edition. New York: Oxford University
Press
4.
Sanjaya Wina, Perencanaan dan Desain Sistem
Pembelajaran, 2008, Kencana Prenada Media Group. Jakarta
5.
Scriven, M., The methodology of evaluation, 1967.
In R. W. Tyler, R. M.
6.
Gagné, & M. Scriven (Eds.), Perspectives of
curriculum evaluation, 39-83. Chicago, IL: Rand McNally.
7.
Seels, B. B., & Richey, R. C., Instructional
Technology: the definition and domains of the field, 1994, Association for
Educational Communications and Technology, Bloomington, IN.
8.
Seels, Barbara & Glasgow, Exercise in
Instructional Design, 1990, Merii Publishing Company
9.
Tyler, R.W., Basic Principles of Curriculum and
Instruction, 1949, University of Chicago Press, Chicago.
10. Uno,
Hamzah B., Perencanaan Pembelajaran, 2006, Bumi Aksara PT, Jakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar