Sabtu, 09 Februari 2013

Modul Konsep Dasar IPS

MODUL
KONSEP DASAR IPS








Disusun Oleh:
Moch. Noviadi Nugroho, M.Pd




JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEPENDIDIKAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012


Ruang lingkup dan cakupan konsep dasar IPS dapat dikemukakan sebagi berikut:
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis, melainkan lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam kerangka kerja pengkajian Ilmu Pngetahuan Sosial (IPS) mengunakan bidang-bidang keilmuan yang termasuk bidang-bidang ilmu sosial.

Kerangka kerja Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tidak menekankan pada bidang teoretis, tetapi lebih pada bidang-bidang praktis dalam mempelajari gejala dan masalah-masalah sosial yang terdapat di lingkungan masyarakat. Studi Sosial tidak perlu akademis teoretis, namun merupakan satu pengetahuan praktis yang dapat di ajarkan pada tingkat persekolahan,yaitu mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi. Demikian pula pendekatan yang digunakan Ilmu  Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berbeda dengan pendekatan yang biasa digunakan dalam Ilmu Sosial.

Pendekatan Ilmu Pengetahuan Sosial
Bersifat interdisipliner atau bersifat multidisiplinerdengan menggunakan berbagai bidang keilmuan, sedangkan pendekatan yang digunakan Ilmu Sosial (Sosial Sciences) bersifat disipliner dari bidang ilmunya masing-masing. Demikian pula pada tingkat yang taraf yang lebih rendah pendekatan studi Sosial lebih bersifat multidimensional, yaitu meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek kehidupan.

Hakikat Pendidikan IPS
Bidang studi IPS, pada hakikatnya merupakan perpaduan pengetahuan sosial. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD) intinya merupakan perpaduan antara giografi dan sejarah. Untuk Sekolah Lanjut Menengah Pertama (SLTP) intinya merupakan perpaduan antara geografi, sejarah dan ekonomi koperasi. Sedangkan untuk Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA) intinya adalah perpaduan antara geografi, sejarah dan ekonomi koperasi dan Antropologi.di tingkat perguruan tinggi, bidang studi IPS ini dikenal sebagai studi sosial. IPS atau studi Sosial ini, merupakan perpaduan dari berbagai bidang keilmuan Ilmu Sosial. Studi Sosial memiliki perbedaan yang prinsipiil dengan ilmu-ilmu sosial. IPS yang meliputi; Rasional, Sejarah, Definisi, dan Tujuan mempelajari IPS serta Sub PB Konsep-konsep Dasar IPS, Ilmu-ilmu Sosial dan Bidang Studi lain, dalam hubungannya dengan IPS. Namun sebelumnya akan di perjelas istilah kata hakikat IPS.
Hakikat IPS dapat diartikan sebagai kebenaran, kenyataan yang sebenarnya (Poerwadarminta, 1985). Jadi IPS adalah suatu kebenaran IPS, atau kenyataan IPS, menurut NCSS (National Council for Social Studies) :
1.     IPS Perwujudan dari satu pendekatan Interdisipliner dari pelajaran Ilmu-ilmu Integrasi dari berbagai cabang Ilmu Sosial seperti: Sejarah, Geografi, Ekonomi,Sosiologi, Antropologi, Ilmu Politik dan Psykologi sosial.
2.       IPS Menampilkan permasalahan sehari-hari masyarakat sekeliling.
3.       IPS bukan Ilmu Sosial walaupun bidang perhatiannya sama yaitu hubungan
4.       IPS hanya terdapat pada program pengajaran di sekolah.
5.       IPS merupakan penyederhanaan Ilmu sosial untuk pengajaran di sekolah.

Proses Pendidikan IPS
Proses pembelajaran pendidikan IPS dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan tingkat usia peserta didik masing-masing. Ragam pembelajarannya pun harus disesuaikan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Secara formal, proses pembelajaran dan membelajarkan itu terjadi di sekolah, baik di dalam kelas maupun diluar kelas.
IPS sebagai satu program pendidikan tidak hanya menyajikan tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus pula mampu membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang tahu akan hak dan kewajibannya, yang juga memiliki tanggung jawab atas kesejahteraan bersama yang seluas-luasnya.

Tujuan Pendidikan IPS
Sebagai bidang pengetahuan, ruang lingkup IPS dapat terlihat nyata dari tujuannya. Di sepanjang sejarahnya IPS memiliki lima tujuan yaitu:

  • IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut di bidang sosial sciences jika nantinya masuk ke perguruan tinggi.
  • IPS yang tujuannya mendidik kewarganegaraan yang baik.
  • IPS yang hakikatnya merupakan suatu kompromi antara 1 dan 2 tersebut di atas.
  • IPS yang mempelajari closed areas atau masalah-masalah sosial yang pantang untuk dibicarakan di muka umum.
  • IPS dipilih, disaring dan disingkronkan kembali maka sasaran seluruh kegiatan belajar dan pembelajaran IPS mengarah kepada 2 hal, Pembinaan warga egara Indonesia atas dasar moral Pancasila / UUD 1945. - Sikap sosial yang rasional dalam kehidupan.
             IPS merupakan terjemahan dari studi sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. Para ahli pendidikan di Amerika Serikat pada waktu itu berkesimpulan bahwa pengajaran Ilmu-ilmu sosial yang diajarkan secara sendiri-sendiri dalam bentuk disiplin ilmu, seperti: Sejarah, geografi, ekonomi, dan lain-lain tidak akan mampu membekali para subyek didik untuk dapat mengenal dan mengerti masalah sosial yang ada disekitarnya.

             
Dengan demikian diintroduksikannya social studies yang diharapkan dapat Kelahiran Bidang Studi IPS dalam Kurikulum sekolah di Indonesia, banyak-banyak di ilhami oleh pengajaran social studies di Amerika Serikat. Bahkan istilah Ilmu pengetahuan sosial (IPS), adalah terjemahan dari apa yang dinamakan Social studies dalam dunia pendidikan dasar dan menengah di Amerika Serikat (N. Daljuni 1981).

Perkembangan IPS Indonesia        
            Pengajaran IPS di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh pakar IPS pada tahun 1969 yaitu oleh Ibu Prof Dr. Soepartina Pakasi pada SD PPSP IKIP Malang. Pada tahun 1971 IPS dimasukkan dalam buku induk Depdikbud. Pada tahun 1972 sudah ramai diperbincangkan dalam rencana pembaharuan Kurikulum sekolah di Indonesia. Bidang studi IPS resmi di cantumkan dalam kurikulum pada tahun 1974. Pada tahun 1975 nama bidang studi IPS sudah tercantum dalam kurikulim SD, SMP, SMU. Pelaksanaannya dilaksanakan secara bertahap dimulai pada tahun 1976.
            Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Indonesia kelahirannya bersamaan dengan lahirnya kurikulum Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini, dimana dunia pengajaran sekolah pada umumnya selalu tertinggal, maka IPS diperlukan sebagai wadah pengetahuan yang mengharmoniskan laju perkembangan ilmu dan kehidupan dalam dunia pengajaran sekolah. Sebab IPS mampu melakukan lompatan-lompatan ilmu secara konsepsional untuk kepentingan praktis kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan dan zaman. Maka melihat jenis dan susunan konsep/topik dalam IPS sungguh sangat banyak bervariasi dari berbagai ilmu sosial serta dari tuntutan-tuntutan persoalan kehidupan praktis.
            Oleh karena itu, untuk memudahkan pemahaman terhadap IPS perlu dikemukakan terlebih dahulu Pengertian Social Studies (IPS) dari beberapa :
1.   Arthur G. Binning and David H.Binning (1982)
     Studi Sosial adalah mata pelajaran yang berhubungan langsung dengan perkembangan dan organisasi masyarakat manusia dan manusia sebagai
2.   Edgar B. Wesley (1980),
Studi Sosial adalah Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pengajaran di sekolah.
3.   Willian B. Ragam (1982),
Program Studi Sosial mencerminkan bahan-bahan dari berbagai ilmu Sosial, tetapi ia juga mempergunakan bahan-bahan dari masyarakat setempat.
4.   John Jarolimek (1967)
Studi Sosial merupakan bagian dari kurikulum pendidikan dasar yang materi pelajarannya terdiri dari ilmu- ilmu social seperti; Sejarah, Geografi, Ekonimi, Antropologi, Soiologi, Politik, Jadi Studi Sosial dapat pula dikatakan sebagai bagian-bagian dari ilmu sosial


Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram Jarolemek sebagai berikut:

SOCIOLOGY
ANTROPOLOGY
ECONOMIC
POLITICAL
SOCIAL STUDIES
PHILOSOPHY
SOCIAL

Selanjutnya akan dikemukakan pula pengertian IPS menurut para pakar

1.   Nasution.D,Prof,Dr M.A (1975)
IPS adalah suatu program Pendidikan yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya mempersoalkan manusia dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti: geografi,sejarah, ekonomi, antropologi, sosiologi, politik dan psikologi sosial. Dapat juga dikatakan bahwa IPS pelajaran yang merupakan fusi atau paduan dari sejumlah mata pelajaran Ilmu-ilmu sosial. Atau IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial.

2.   Nu’man Sumantri (1973)
IPS sebagai bahan pelajaran ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. IPS adalah suatu bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran

3.   A. Kosasi Djahiri (1983)
IPS adalah merupakan ilmu pengetahuan ang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya serta kemudian diolah berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan dan didaktik untuk dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.

Berdasarkan pada uraian tentang pengertian IPS, maka guru IPS diharapkan selain memahami orientasi dan pendekatan kurikulum, juga memahami konsep-konsep dan generalisasi yang terdapat dalam kurikulum maupun dari buku paket dan buku teks lainnya yang dianggap tepat untuk diajarkan.
Upaya itu dimaksudkan agar konsep dan generalisasi dapat diajarkan sebagai jawaban terhadap tuntutan kebutuhan yang beranggapan bahwa pengajaran fakta selama ini sudah tidak memadai lagi, seperti dikatakan Edwin Fenton (1976) bahwa: fakta semata tidaklah berarti apa-apa untuk dirinya sendiri. Fakta akan memiliki arti dalam fikiran orang yang mempelajarinya. Suatu fakta yang sama akan mempunyai arti yang berbeda

            Dapat juga dikatakan bahwa pelajaran IPS ini diharapkan bukan hanya penanaman, pembinaan pengetahuan konsepsional belaka, melainkan ialah :
pembinaan pengerian sikap terhadap nilai-nilai praktis (operasional) dari pada konsep tersebut serta kemahiran penerapannya sebagai insan sosial. Oleh karena pengajaran IPS bukan sekadar menyedorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan kemampuan guru dan siswa menarik nilai/arti yang terkandung dalam IPS

            Kardiyono Mertodihardjo (1984) mengemukakan bahwa untuk mendapatkan gambaran tentang, fakta, konsep generalisasi dan teori, maka secara jelas akan diuraikan dan berurutan melalui Hirarki Konsep seperti pada bagang berikut :
1.        Persepsi
adalah pengamatan melalui indra, penafsiran terhadap suatu persepsi dipengaruhi pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki seluruhnya oleh seseorang. Persepsi ini merupakan proses penyaringan berdasarkan pengalaman-pengalaman. Persepsi merupakan produk mental dari hasil pengalaman ia merupakan bahan mental untuk berfikir melalui daya persepsi dan daya mengingat, seseorang mengumpulkan informasi tentang kejadian
2.        Fakta
adalah kejadian, obyek atau gejala-gejala yang sudah atau dapat dibenarkan oleh indera. Fakta yang diperoleh berdasarkan observasi tidakmempunyai arti sendiri, ia sekedar alat. Ilmu dibentuk dari fakta, sebagaimana halnya batu bata sebagai alat pembentuk gedung. Kumpulan fakta bukan gedung, kumpulan fakta bukan ilmu. Fakta merupakan data mentah bagi pembentukan konsep. Sebagai contoh: Bumi beredar mengelilingi matahari
3.        Konsep
adalah suatu abstraksi (hanya dalam ingatan dan pikiran) dari fakta dan persepsi. Merupakan gambaran dikepala (inpresi, visualisasi, representasi gejala-gejala) konsep memberikan arti keteraturan dan pengalaman. Konsepsi merupakan pembedaan/pemilikan secara sadar dari pengalaman persepsi yang pernah dieroleh. Konsep tidak dapat dipelajari tanpa pengalaman yang relevan dengan gejala/kejadian yang akan di”konsep”kan. Salah konsep (misconception) terjadi karena adanya penghilangan atau penambahan dari apa yang esensil ada didalam konsep. Akibatnya: kekeliruan dalam penyamaan terhadap gejala-gejala lain, ini dinamakan “over generalization”. Jenis konsep yang dikembangkan oleh anak didik terbatas pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh sebelumnya, konsep berguna untuk menggolong-golongkan benda, ide, kejadian, konsep harus dapat di abstraksikan, ini sangat esensiil. Perlu diberikan catatan penting bahwa, Konsep merupakan abstraksi dari sekumpulan fakta yang memiliki ciri-ciri yang sama. Konsep itu terwujud dari bentuk konkrit ke bentuk abstrak. Proses ini dilakukan oleh anak-anak

4.        Stereotipe
ialah konsep tentang orang/obyek, tempat, kejadian yang belum terwujud berdasarkan pengalaman-pengalaman yang cukup. Sedangkan fungsi konsep disini adalah (1) sebagai unsur respon terhadap sesuatu kejadian atau maksud, (2) sebagai perantara kejadian dan perbuatan dan perbuatan/kelakuan, (3) membantu kita untuk membedakan, menggolongkan, memperhitungkan fakta-fakta di sekeliling kita.
5.      Generalisasi
berfungsi dalam pengajaran IPS antara lain adalah (1) membantu dalam pemilihan bahan pelajaran, (2) sebagai tujuan umum IPS, (3) mengorganisasi kegiatan belajar mengajar, (4) membantu dalam membangun hubungan pengertian atau artikulasi bahan-bahan pengajaran dalam kurikulum IPS. Selain hal tersebut juga generalisasi memiliki beberapa ciri-ciri, antara lain (a) generalisasi menunjukkan hubungan dua konsep atau lebih, (b) generalisasi lebih bersifat umum dan merupakan abstraksi yang menunjukkan pada keseluruhan dan bukan bagian atau contoh, (c) generalisasi adalah tingkat abstraksi yang lebih tinggi dan bukan sekedar konsep, (d) generalisasi didasarkan pada proses. Generalsasi dikembangkan atas dasar penalaran dan bukan hanya berdasarkan pengamatan semata (e) generalisasi berisi pernyataan-pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya, (f) generalisasi bukanlah sekedar pernyataan yang diverbalkan atau penegasan
6.      Teori
adalah bentuk pengetahuan dalam tingkat tertinggi, merupakan salah satu dari tujuan pokok didalam perkembangan setiap disiplin/ilmu.Terdiri dari suatu proposisi (generalisasi) yaitu: prinsip, dalil, hukum, dan sebagainya yang saling terkait

            Oleh karena itu setiap disiplin ilmu sosial memiliki dan mengembangkan konsep-konsep masing-masing yang dilakukan oleh para ahlinya seperti jenis-jenis konsep yang perlu dikembangakan oleh para guru IPS adalah (a) konsep konjungtif, (b) konsep disjungtif, (c) konsep 4. Generalisasi adalah merupakan paduan dari dua atau lebih dari konsep-konsep: dapat sederhana (kian besar keluarga, kian besar biaya), dan dapat kompleks (setiap masyarakat memiliki kebuadayaan masing-masing). Kumpulan dari generalisasi atau biasanya berupa prinsip, dalil, hukum, pernyataan dapat membentuk teori.

Bahan Pelajaran IPS
Bahan pelajaran IPS pada konsep-konsep dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti: sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik psykologi sosial dan ekologi. Disamping lingkungan alam dan masyarakat sekeliling juga memberikan bahan berupa fakta-fakta (M. Abduh, 1990). Oleh karena itu guru IPS wajib mengetahui konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial dan fakta-fakta sekitar dengan baik.

 Ruang Lingkup IPS
            Ruang lingkup IPS ialah keseluruhan lapangan ilmu sosial. Dalam pengajaran IPS baik konsep maupun generalisasi diupayakan agar ditemukan sendiri oleh siswa melalui pendekatan induktif. Namun untuk kepentingan pengajaran ada baiknya bila guru sendiri telah memiliki konsep-konsep dan generalisasi, yang dapat digunakan untuk menguji konsep-konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa. Tidak berarti bahwa rumusan konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa harus sama persis Setiap cabang ilmu sosial mempunyai titik berat perhatian yang berbeda-beda, misalnya: Sejarah sangat memperhatikan aspek waktu, Geografi sangat memperhatikan aspek keruangan, Ekonomi sangat memperhatikan aspek kelangkakaan sumber kebutuhan hidup, Sosiologi aspek masyarakat dan seterusnya.

            Adanya titik berat perhatian yang berbeda-beda itu, maka setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep dan generalisasi masing-masing sesuai dengan titik berat perhatiannya. Setiap siswa perlu menguasai pengertian tentang konsep dasar dan generalisasi berbagai cabang ilmu sosial yang dapat dipergunakan untuk mempelajari persoalan kemasyarakatan, mencoba menyelami prosesnya dan mencoba ikut memecahkannya.
           
            Mempelajari konsep dan generalisasi IPS sangat penting karena: (a) siswa mudah memahami proses-proses yang terjadi dalam masyarakat, (b) konsep dan generalisasi tidak mudah dilupakan, Karena diperoleh melalui pemahaman dan bukan melalui hafalan. (c) konsep dan generalisasi yang dipahami membuat sesuatu peristiwa menjadi lebih jelas kaitannya satu dengan
           
            Pengajaran IPS sifat menyeluruh penting untuk diketahui dan dipahami, karena IPS menangani bahan pelajaran dalam hubungan tali temali, kait berkait atau “Integrated” atau “Interdisipliner”. Program IPS harus mengembangkan; pengertian, sikap, dan keterampilan. Pengertian; menyangkut perkembangan fakta, konsep dan generalisasi yang merupakan isi dasar IPS. Hal ini dapat diambil dari ilmu- ilmu sosial dan dari pengalaman dalam masyarakat sendiri. Sikap; menyangkut nilai, apresiasi, dan ide-ide yang diperoleh anak didik melalui program IPS. Sedangkan keterampilan; menyangkut kemampuan tehnis dan fisik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan dan perlu dikembangkan pada setiap program IPS sesuai dengan tujuan IPS.
            Setiap program IPS hendaknya berorientasi kepada Negara, bangsa dan Mulyono Tj (1982) mengemukakan bahwa pengajaran IPS perlu pula memperhatikan bagaimana cara memilih dan menyusun konsep, agar pelaksanaan dan pengembangan materi pelajaran tidak bermasalah, artinya tidak terjadi kesalahan dalam memilih konsep atau salah konsep maka perlu diperhatikan cara memilih konsep hendaknya dipilih berdasarkan prinsip-prinsip seperti berikut yaitu:
(a) perinsip keperluan, (b) perinsip ketepatan, (c) perinsip mudah dipahami, dan (d) perinsip kegunaan.


Tujuan pengajaran IPS

Menurut Edwin fenton (1986) yaitu :
Tujuan Pembelajaran IPS : (a) mempersiapkan anak didik menjadi warga Negara yang baik, (b) mengajar anak didik berkemampuan berpikir dan (c) agar anak dapat melanjutkan kebudayaan bangsanya.

Menurut L.H. Clark (1983)
Titik berat studi sosial adalah perkembangan individu yang dapat memahami lingkungan sosialnya, serta manusia dengan kegiatan intraksi antar mereka, dan anak didik diinginkan agar dapat menjadi anggota yang produktif dan dapat memberikan andilnya dalam masayarakat.

            Dalam buku “Teaching Social studies” (1962) dari Departemen of Instructions Fairfax Country Schools Virginia, mengemukakan bahwa program studi sosial hendaknya menyajikan kesempatan yang banyak setra beraneka ragam untuk membentuk warga Negara yang efektif, termasuk kesadaran

Tujuan pengajaran IPS di Indonesia,
M. Abduh (1990)
            IPS bertujuan seperti tersebut di atas yang merupakan tujuan yang bersifat universal yang dapat berlaku bagi anak didik di negara manapun di dunia ini. Selain tujuan yang umum itu, maka pada setiap Negara mempunyai tujuan khusus yang khas, berdasarkan filsafat, sejarah, watak, dan keadaan geografis yang berbeda-beda.
           
            IPS di Indonesia merupakan wahana pencapaian tujuan pendidikan nasional. Yang harus dimiliki oleh anak didik yaitu:
(a) Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) cerdas dan terampil, (c) berbudi pekerti yang luhur, (d) memiliki keperibadian yang kuat, dan (e) memiliki semangat kebangsaan dan cinta tanah air yang tebal. Bagi bangsa Indonesia, karakteristik warganegara yang baik tentu saja harus mengacu kepada dasar Negara.


Secara khusus tujuan pengajaran IPS di sekolah dapat dikelompokkan menjadi :

  1. Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa datang.
  2. Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk mencari pekerjaan
  3. Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap (values) demokrasi
  4. Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta

Keempat tujuan tersebut tidak terpisahkan atau berdiri sendiri, melainkan merupakan kesatuan dan saling berhubungan. Keempat tujuan tersebut sesuai dengan perkembangan pendidikan IPS sampai pada saat sekarang.

Chaping, J.R
            Bahan pelajaran IPS bersumber dari masyarakat dan alam sekeliling kita. Bahan tersebut disusun dalam topik-topik yang berisikan konsep-konsep dan generalisasi yang harus disajikan kepada siswa-siswa sesuai dengan perumusan arti IPS. Konsep dan generalisasi berasal dari berbagai cabang ilmu sosial

Kadiyono Mertodihardjo (1984).
            Lingkungan sosial dan alam siswa perlu pula digunakan berbagai pedoman dalam penyusunan bahan sehingga apa yang akan disajikan ada kaitannya dengan masyarakat tempat tinggalnya. Namun perkembangan penduduk yang amat cepat mengakibatkan pertumbuhan kehidupan masyarakat yang amat kompleks.

            Perkembangan teknologi dan ilmu membawa timbulnya beraneka ragam peralatan sehingga pemilihan dan penyajian bahan peralatan yang tepat merupakan masalah pula. Jelas sekali bahwa kini makin banyak pengertian yang harus diketahui oleh siswa. Hal ini tidak akan terlaksana melalui proses tradisional dengan menghafal dan mengingat meluluh. Proses penguasaan bahan harus dirombak dengan cara penguasaan konsep dan generalisasi, karena dengan penguasaan konsep dan generalisasi amat penting dan dapat memudahkan pemahaman siswa tentang masyarakat.

            Berikut akan diuraikan satu persatu tentang konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu-ilmu sosial menurut Mulyono Tj (1982) adalah seperti berikut:
Konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial adalah (a) sejarah, (b) geografi, (c) ekonomi, (d) sosiologi, (e) antropologi, (f) politik,dan (g) psykologi sosial. Berikut akan  diuraikan lebih rinci tentang pengertian dan bagian-bagiannya, beserta contoh

 Sejarah
adalah ilmu yang mengkaji kisah perbuatan-perbuatan manusia pada masa lampau dan masa sekarang. Unsur pokoknya adalah: manusia, ruang dan waktu. Sifat obyek adalah: perbuatan/peristiwa-peristiwa terpilih yang mempunyai arti bagi manusia. Sedangkan sumber bahan adalah bahan tertulis dan bahan tidak tertulis. Konsep pokok atau main Concepts seperti: perubahan, kontinuitas, waktu, dan lain-lain. Bahan kajiannya adalah kejadian peristiwa manusiawi yang mempunyai impact terhadap manusia, bangsa dalam gerak perkembangan atau sejarahnya seperti: (1) usaha/perjuangan usaha manusia mengatasi tantangan alam, (2) kehidupan bernegara, (3) kegiatan beragama dan berkebudayaan dengan pasang surutnya, (4) ide-ide dan paham-paham: feodalisme, imperialisme, kapitalisme, nasionalisme, Internasionalisme dan sebagainya. Semuanya dipertautkan dengan konsep-konsep, karakteristik sejarah dan disiplin-disiplin yang lain. Sifat-sifat karakteristik yang perlu diperhatikan dalam sejarah antara lain adalah (1) kejadian / data itu bersifat hanya sekali saja terjadi dan tak mungkin terjadi lagi, (2) perkembangan peristiwa/ kejadian histories itu bersifat kausal, (3) subyektivitas dalam penilaian

Geografi
adalah suatu studi tentang hubungan keruangan, meliputi aspek- aspek fisik, biotic, dan sosial, tetapi dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu lain karena geografi memusatkan perhatiannya/studinya pada penyebaran atau distribusi, gejala/penomena serta hubungan dengan gejala-gejala dengan tempat atau ruang. Contoh konsep-kosep geografi antara lain: distribusi, ruang, lokasi, wilayah, bentangan alam, sumber alam, lingkungan hidup, globalisasi, penduduk, sungai, laut, gunung dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut dapat terbagi-bagi lagi kepada konsep yang lebih khusus. Misalnya: bentangan alam dapat berupa konsep tentang gunung, lembah, sungai dan seterusnya.
a.  Distribusi keruangan (spatial distribution). Untuk dapat melihat distribusi keruangan diperlukan ,fakta yang cukup banyak. Fakta tersebut memiliki tiga unsur yang bersamaan ialah waktu, lokasi, dan kesamaan ciri-ciri.
b.      Wilayah atau region adalah suatu daerah yang ditandai dengan adanya keseragaman atas satu atau lebih fenomena/kenampakan. Wilayah dapat dibedakan atas: 1) Wilayah Formal, ialah yang ditandai dengan adanya asosiasi areal, yang dapat berupa biotik atau physik, 2) Wilayah Fungsional yang ditandai dengan adanya interaksi ruang misalnya kota sebagai pusat dengan kota-kota satelit yang mengitarinya yang dihubungkan oleh adanya
c.  Asosiasi areal adalah suatu areal yang memungkinkan terjadi suatu wilayah Formal, misalnya adanya dataran rendah didaerah pantai, mungkin dapat
d.    Intraksi keruangan yaitu adanya hubungan antara fakta dengan fakta lain di dalam satu ruang antar ruang dapat berwujud intraksi. Dengan adanya intraksi biasanya akan timbul fakta baru. Misalnya: karena adanya intraksi antara manusia dengan lingkungannya terjadilah disuatu tempat, sawah,


Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Menengah Atas
A.  Latar Belakang

Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang disusun dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi dan diberikan mulai dari SD sampai SMA. Pada satuan pendidikan SMA mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memuat kajian sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah secara terintegrasi dan terpadu. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), peserta didik diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang efektif.

Menjadi warga negara Indonesia dan warga dunia yang fungsional akan menghadapi tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan setiap saat. Oleh karenanya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang untuk membangun dan membina peserta didik dalam memasuki kehidupan bermasyarakat pada masa yang akan datang yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.

Pada hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi  suatu mata pelajaran yang dapat mengantarkan peserta didik untuk  dapat menjawab masalah-masalah mendasar tentang individu, masyarakat, pranata sosial, problem sosial, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat berbangsa, dari waktu ke waktu.

Peserta didik diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas melalui substansi Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah dirancang secara sistematis dan komprehensif. Dengan demikian, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diperlukan bagi peserta didik dalam proses menuju kedewasaan dan mencapai keberhasilan dalam kehidupan di masyarakat di kelak kemudian hari. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan dengan isu sosial.


B.  Tujuan Pembelajaran IPS

Mata pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.

  1. Menginformasikan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah, melalui pendekatan pedagogis dan psikologis
  2. Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial
  3. Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
  4. Meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara lokal nasional maupun global.
C.  Ruang LingkupPembelajaran IPS

Ruang lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek aspek sebagai berikut.
1.       Sistem Sosial dan Budaya
2.       Manusia, Tempat, dan Lingkungan
3.       Perilaku Ekonomi dan Kesejahteraan
4.       Waktu, Keberlanjutan, dan Perubahan.

D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD


E. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP


F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA
 
Kelas X, Semester 1


Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar

1.   Memahami kondisi geografis, permasalahan kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
1.1
Mendeskripsikan permasalahan kependudukan di  Indonesia

1.2
Mendeskripsikan upaya penanggulangannya. permasalahan kependudukan di Indonesia

2.   Memahami bentuk-bentuk hubungan antar kelompok sosial
2.1
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat.

2.2
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial

3.   Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan kegiatan ekonomi masyarakat
3.1
Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai sumber daya dalam kegiatan ekonomi

3.2
Mendeskripsikan peranan pemerintah dalam upaya penanggulangan angkatan kerja dan tenaga kerja

4.   Memahami sebab akibat Perang Dunia I dan II di Indonesia serta usaha persiapan kemerdekaan Indonesia

4.1
Mengidentifikasi hubungan sebab akibat Perang Dunia I dengan keadaan politik dan ekonomi di Indonesia

4.2
Mengidentifikasi hubungan sebab akibat Perang Dunia II  dengan keadaan politik dan ekonomi di Indonesia, serta usaha mempersiapkan kemerdekaan Indonesia






 Kelas X, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5.  Memahami kondisi geografis, permasalahan kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
5.1
Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup di Indonesia
5.2
Mendeskripsikan upaya penanggulangannya permasalahan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
6.   Memahami bentuk-bentuk hubungan antar kelompok sosial
6.1
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
6.2
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial
7.   Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan kegiatan ekonomi masyarakat
7.1
Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian Indonesia.
7.2
Mendeskripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional
8.   Memahami perjalanan bangsa Indonesia sejak  pendudukan Jepang sampai dengan persiapan kemerdekaan Indonesia
8.1
Mendeskripsikan pendudukan militer Jepang di Indonesia dan pengaruhnya terhadap pergerakan kebangsaan Indonesia
8.2
Mendeskripsikan usaha persiapan kemerdekaan Indonesia

Kelas XI, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.   Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan negara maju
1.1
Mendeskripsikan  bentuk dan pola  muka bumi
1.2
Mendeskripsikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
2.   Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
2.1
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
2.2
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
3.   Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
3.1
Mendeskripsikan  uang
3.2
Mendeskripsikan lembaga keuangan
4.  Memahami perkembangan  kehidupan bangsa Indonesia  pada saat sekitar  proklamasi  dan usaha mempertahankan kemerdekaan 
4.1
Mendeskripsikan peristiwa proklamasi dan proses terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia
4.2
Mengidentifikasi usaha perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia

 Kelas XI, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5.   Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan negara maju
5.1
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara berkembang
5.2
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara maju
6.   Memahami perilaku Masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
6.1
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
6.2
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
7.   Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
7.1
Mendeskripsikan  kebijaksanaan moneter
7.2
Mendeskripsikan  dampak kebijakan moneter terhadap perekonomian Indonesia
8.  Memahami perkembangan  kehidupan bangsa Indonesia  pasca pengakuan kedaulatan internasional
8.1
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa politik Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
8.2
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa ekonomi Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional


Kelas XII, Semester 1

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
1.   Memahami kondisi fisik dan manusia Kawasan Asia Tenggara
1.1
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Asia Tenggara
1.2
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Asia Tenggara
2.   Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
2.1
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
2.2
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
3.   Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
3.1
Mendeskripsikan perdagangan internasional terhadap perekonomian  Indonesia
3.2
Mendeskripsikan dampak perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia
4.  Memahami perjalanan bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan dalam  perjuangan pengembalian Irian Barat, sampai dengan G 30 S PKI

4.1

Mendeskripsikan peristiwa perjuangan pengembalian Irian Barat ke NKRI
4.2
Mendeskripsikan peristiwa G 30 S PKI

 Kelas XII, Semester 2

Standar Kompetensi
Kompetensi Dasar
5.   Memahami kondisi fisik dan manusia kawasan Ausralia-Oceania
5.1
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Australia-Oceania
5.2
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Australia-Oceania
6.   Memahami perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
6.1
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
6.2
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
7.   Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
7.1
Mendeskripsikan kerjasama antar negara di bidang ekonomi dan peran Indonesia dalam dunia internasional
7.2
Mendeskripsikan peran Indonesia dalam bidang ekonomi di dunia internasional
8.  Memahami perjalanan bangsa Indonesia pada masa Orde Baru dan Era Reformasi serta bentuk kerjasama Indonesia dengan dunia internasional
8.1
Mendeskripsikan perkembangan sosial, ekonomi, politik masa Orde Baru
8.2
Mendeskripsikan  perkembangan sosial, ekonomi, politik Era Reformasi
8.3
Mengidentifikasi  kerjasama antar negara dan peran Indonesia dalam dunia internasional

 E.      Arah Pengembangan Pembelajaran IPS

      Standar kompetensi dan kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian. Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar Proses dan Standar Penilaian.



     

      




Tidak ada komentar: