MODUL
KONSEP DASAR IPS
Disusun Oleh:
Moch. Noviadi Nugroho, M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEPENDIDIKAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012
Ruang
lingkup dan cakupan konsep dasar IPS dapat dikemukakan sebagi berikut:
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
bukan merupakan suatu bidang keilmuan atau disiplin bidang akademis, melainkan
lebih merupakan suatu bidang pengkajian tentang gejala dan masalah sosial. Dalam
kerangka kerja pengkajian Ilmu Pngetahuan Sosial (IPS) mengunakan bidang-bidang
keilmuan yang termasuk bidang-bidang ilmu sosial.
Kerangka
kerja Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
Tidak menekankan pada bidang teoretis, tetapi lebih pada
bidang-bidang praktis dalam mempelajari gejala dan masalah-masalah sosial yang
terdapat di lingkungan masyarakat. Studi Sosial tidak perlu akademis teoretis,
namun merupakan satu pengetahuan praktis yang dapat di ajarkan pada tingkat
persekolahan,yaitu mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan
Tinggi. Demikian pula pendekatan yang digunakan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) sangat berbeda dengan
pendekatan yang biasa digunakan dalam Ilmu Sosial.
Pendekatan
Ilmu Pengetahuan Sosial
Bersifat interdisipliner atau
bersifat multidisiplinerdengan menggunakan berbagai bidang keilmuan, sedangkan
pendekatan yang digunakan Ilmu Sosial (Sosial Sciences) bersifat disipliner
dari bidang ilmunya masing-masing. Demikian pula pada tingkat yang taraf yang
lebih rendah pendekatan studi Sosial lebih bersifat multidimensional, yaitu
meninjau satu gejala atau masalah sosial dari berbagai dimensi atau aspek
kehidupan.
Hakikat
Pendidikan IPS
Bidang studi IPS, pada hakikatnya
merupakan perpaduan pengetahuan sosial. Untuk tingkat Sekolah Dasar (SD)
intinya merupakan perpaduan antara giografi dan sejarah. Untuk Sekolah Lanjut
Menengah Pertama (SLTP) intinya merupakan perpaduan antara geografi, sejarah
dan ekonomi koperasi. Sedangkan untuk Sekolah Lanjut Tingkat Atas (SLTA)
intinya adalah perpaduan antara geografi, sejarah dan ekonomi koperasi dan
Antropologi.di tingkat perguruan tinggi, bidang studi IPS ini dikenal sebagai
studi sosial. IPS atau studi Sosial ini, merupakan perpaduan dari berbagai
bidang keilmuan Ilmu Sosial. Studi Sosial memiliki perbedaan yang prinsipiil
dengan ilmu-ilmu sosial. IPS
yang meliputi; Rasional, Sejarah, Definisi, dan Tujuan mempelajari IPS serta
Sub PB Konsep-konsep Dasar IPS, Ilmu-ilmu Sosial dan Bidang Studi lain, dalam
hubungannya dengan IPS. Namun sebelumnya akan di perjelas istilah kata hakikat
IPS.
Hakikat
IPS dapat diartikan sebagai kebenaran, kenyataan yang sebenarnya
(Poerwadarminta, 1985). Jadi IPS adalah suatu kebenaran IPS, atau kenyataan
IPS, menurut NCSS (National Council for Social Studies) :
1.
IPS
Perwujudan dari satu pendekatan Interdisipliner dari pelajaran Ilmu-ilmu Integrasi
dari berbagai cabang Ilmu Sosial seperti: Sejarah, Geografi, Ekonomi,Sosiologi,
Antropologi, Ilmu Politik dan Psykologi sosial.
2.
IPS
Menampilkan permasalahan sehari-hari masyarakat sekeliling.
3.
IPS
bukan Ilmu Sosial walaupun bidang perhatiannya sama yaitu hubungan
4.
IPS
hanya terdapat pada program pengajaran di sekolah.
5.
IPS
merupakan penyederhanaan Ilmu sosial untuk pengajaran di sekolah.
Proses
Pendidikan IPS
Proses pembelajaran pendidikan IPS
dilakukan secara bertahap dan berkesinambungan sesuai dengan kebutuhan dan
tingkat usia peserta didik masing-masing. Ragam pembelajarannya pun harus
disesuaikan dengan apa yang terjadi dalam kehidupan. Secara formal, proses
pembelajaran dan membelajarkan itu terjadi di sekolah, baik di dalam kelas
maupun diluar kelas.
IPS sebagai satu program pendidikan
tidak hanya menyajikan tentang konsep-konsep pengetahuan semata, namun harus
pula mampu membina peserta didik menjadi warga negara dan warga masyarakat yang
tahu akan hak dan kewajibannya, yang juga memiliki tanggung jawab atas
kesejahteraan bersama yang seluas-luasnya.
Tujuan
Pendidikan IPS
Sebagai bidang pengetahuan, ruang
lingkup IPS dapat terlihat nyata dari tujuannya. Di sepanjang sejarahnya IPS
memiliki lima tujuan yaitu:
- IPS mempersiapkan siswa untuk studi lanjut di bidang sosial sciences jika nantinya masuk ke perguruan tinggi.
- IPS yang tujuannya mendidik kewarganegaraan yang baik.
- IPS yang hakikatnya merupakan suatu kompromi antara 1 dan 2 tersebut di atas.
- IPS yang mempelajari closed areas atau masalah-masalah sosial yang pantang untuk dibicarakan di muka umum.
- IPS dipilih, disaring dan disingkronkan kembali maka sasaran seluruh kegiatan belajar dan pembelajaran IPS mengarah kepada 2 hal, Pembinaan warga egara Indonesia atas dasar moral Pancasila / UUD 1945. - Sikap sosial yang rasional dalam kehidupan.
IPS merupakan terjemahan dari studi
sosial (social studies) yang mulai diterapkan dalam dunia pendidikan dasar dan
menengah di Amerika Serikat sejak tahun 1915 setelah perang dunia pertama. Para
ahli pendidikan di Amerika Serikat pada waktu itu berkesimpulan bahwa
pengajaran Ilmu-ilmu sosial yang diajarkan secara sendiri-sendiri dalam bentuk
disiplin ilmu, seperti: Sejarah, geografi, ekonomi, dan lain-lain tidak akan
mampu membekali para subyek didik untuk dapat mengenal dan mengerti masalah
sosial yang ada disekitarnya.
Dengan demikian diintroduksikannya
social studies yang diharapkan dapat Kelahiran Bidang Studi IPS dalam Kurikulum
sekolah di Indonesia, banyak-banyak di ilhami oleh pengajaran social studies di
Amerika Serikat. Bahkan istilah Ilmu pengetahuan sosial (IPS), adalah
terjemahan dari apa yang dinamakan Social studies dalam dunia pendidikan dasar
dan menengah di Amerika Serikat (N. Daljuni 1981).
Perkembangan IPS Indonesia
Pengajaran IPS di Indonesia pertama
kali diperkenalkan oleh pakar IPS pada tahun 1969 yaitu oleh Ibu Prof Dr.
Soepartina Pakasi pada SD PPSP IKIP Malang. Pada tahun 1971 IPS dimasukkan
dalam buku induk Depdikbud. Pada tahun
1972 sudah ramai diperbincangkan dalam rencana pembaharuan Kurikulum sekolah di
Indonesia. Bidang studi IPS resmi di cantumkan dalam kurikulum pada tahun 1974.
Pada tahun 1975 nama bidang studi IPS sudah tercantum dalam kurikulim SD, SMP,
SMU. Pelaksanaannya dilaksanakan secara bertahap dimulai pada tahun 1976.
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di
Indonesia kelahirannya bersamaan dengan lahirnya kurikulum Perkembangan ilmu
pengetahuan dan teknologi dewasa ini, dimana dunia pengajaran sekolah pada
umumnya selalu tertinggal, maka IPS diperlukan sebagai wadah pengetahuan yang
mengharmoniskan laju perkembangan ilmu dan kehidupan dalam dunia pengajaran
sekolah. Sebab IPS mampu melakukan lompatan-lompatan ilmu secara konsepsional
untuk kepentingan praktis kehidupan baru yang sesuai dengan keadaan dan zaman.
Maka melihat jenis dan susunan konsep/topik dalam IPS sungguh sangat banyak
bervariasi dari berbagai ilmu sosial serta dari tuntutan-tuntutan persoalan
kehidupan praktis.
Oleh
karena itu, untuk memudahkan pemahaman terhadap IPS perlu dikemukakan terlebih
dahulu Pengertian Social Studies (IPS) dari beberapa :
1. Arthur
G. Binning and David H.Binning (1982)
Studi Sosial adalah mata pelajaran yang
berhubungan langsung dengan perkembangan dan organisasi masyarakat manusia dan
manusia sebagai
2. Edgar
B. Wesley (1980),
Studi Sosial adalah
Ilmu-ilmu Sosial yang disederhanakan untuk tujuan pengajaran di sekolah.
3. Willian
B. Ragam (1982),
Program Studi Sosial mencerminkan
bahan-bahan dari berbagai ilmu Sosial, tetapi ia juga mempergunakan bahan-bahan
dari masyarakat setempat.
4. John
Jarolimek (1967)
Studi Sosial merupakan bagian dari
kurikulum pendidikan dasar yang materi pelajarannya terdiri dari ilmu- ilmu
social seperti; Sejarah, Geografi, Ekonimi, Antropologi, Soiologi, Politik, Jadi
Studi Sosial dapat pula dikatakan sebagai bagian-bagian dari ilmu sosial
Untuk
lebih jelasnya dapat dilihat pada diagram Jarolemek sebagai berikut:
SOCIOLOGY
ANTROPOLOGY
ECONOMIC
POLITICAL
SOCIAL STUDIES
PHILOSOPHY
SOCIAL
Selanjutnya
akan dikemukakan pula pengertian IPS menurut para pakar
1. Nasution.D,Prof,Dr
M.A (1975)
IPS adalah suatu program Pendidikan
yang merupakan suatu keseluruhan, yang pada pokoknya mempersoalkan manusia
dalam lingkungan alam fisik, maupun dalam lingkungan sosialnya yang bahannya
diambil dari berbagai ilmu-ilmu sosial seperti: geografi,sejarah, ekonomi,
antropologi, sosiologi, politik dan psikologi sosial. Dapat juga dikatakan
bahwa IPS pelajaran yang merupakan fusi atau paduan dari sejumlah mata
pelajaran Ilmu-ilmu sosial. Atau IPS merupakan mata pelajaran yang menggunakan
bagian-bagian tertentu dari ilmu-ilmu sosial.
2. Nu’man
Sumantri (1973)
IPS sebagai bahan pelajaran
ilmu-ilmu sosial yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan. IPS adalah suatu
bidang studi yang merupakan paduan sejumlah mata pelajaran
3. A.
Kosasi Djahiri (1983)
IPS adalah merupakan ilmu pengetahuan
ang memadukan sejumlah konsep pilihan dari cabang ilmu sosial dan ilmu lainnya
serta kemudian diolah berdasarkan prinsip-prinsip pendidikan dan didaktik untuk
dijadikan program pengajaran pada tingkat persekolahan.
Berdasarkan
pada uraian tentang pengertian IPS, maka guru IPS diharapkan selain memahami
orientasi dan pendekatan kurikulum, juga memahami konsep-konsep dan
generalisasi yang terdapat dalam kurikulum maupun dari buku paket dan buku teks
lainnya yang dianggap tepat untuk diajarkan.
Upaya
itu dimaksudkan agar konsep dan generalisasi dapat diajarkan sebagai jawaban
terhadap tuntutan kebutuhan yang beranggapan bahwa pengajaran fakta selama ini
sudah tidak memadai lagi, seperti dikatakan Edwin Fenton (1976) bahwa: fakta
semata tidaklah berarti apa-apa untuk dirinya sendiri. Fakta akan memiliki arti
dalam fikiran orang yang mempelajarinya. Suatu fakta yang sama akan mempunyai
arti yang berbeda
Dapat juga dikatakan bahwa pelajaran
IPS ini diharapkan bukan hanya penanaman, pembinaan pengetahuan konsepsional
belaka, melainkan ialah :
pembinaan
pengerian sikap terhadap nilai-nilai praktis (operasional) dari pada konsep
tersebut serta kemahiran penerapannya sebagai insan sosial. Oleh karena pengajaran
IPS bukan sekadar menyedorkan serentetan konsep-konsep saja, melainkan
kemampuan guru dan siswa menarik nilai/arti yang terkandung dalam IPS
Kardiyono Mertodihardjo (1984)
mengemukakan bahwa untuk mendapatkan gambaran tentang, fakta, konsep
generalisasi dan teori, maka secara jelas akan diuraikan dan berurutan melalui
Hirarki Konsep seperti pada bagang berikut :
1.
Persepsi
adalah pengamatan
melalui indra, penafsiran terhadap suatu persepsi dipengaruhi
pengalaman-pengalaman yang sudah dimiliki seluruhnya oleh seseorang. Persepsi
ini merupakan proses penyaringan berdasarkan pengalaman-pengalaman. Persepsi
merupakan produk mental dari hasil pengalaman ia merupakan bahan mental untuk
berfikir melalui daya persepsi dan daya mengingat, seseorang mengumpulkan
informasi tentang kejadian
2.
Fakta
adalah kejadian, obyek
atau gejala-gejala yang sudah atau dapat dibenarkan oleh indera. Fakta yang
diperoleh berdasarkan observasi tidakmempunyai arti sendiri, ia sekedar alat.
Ilmu dibentuk dari fakta, sebagaimana halnya batu bata sebagai alat pembentuk
gedung. Kumpulan fakta bukan gedung, kumpulan fakta bukan ilmu. Fakta merupakan
data mentah bagi pembentukan konsep. Sebagai contoh: Bumi beredar mengelilingi
matahari
3.
Konsep
adalah
suatu abstraksi (hanya dalam ingatan dan pikiran) dari fakta dan persepsi.
Merupakan gambaran dikepala (inpresi, visualisasi, representasi gejala-gejala)
konsep memberikan arti keteraturan dan pengalaman. Konsepsi merupakan
pembedaan/pemilikan secara sadar dari pengalaman persepsi yang pernah dieroleh.
Konsep tidak dapat dipelajari tanpa pengalaman yang relevan dengan
gejala/kejadian yang akan di”konsep”kan. Salah konsep (misconception) terjadi
karena adanya penghilangan atau penambahan dari apa yang esensil ada didalam
konsep. Akibatnya: kekeliruan dalam penyamaan terhadap gejala-gejala lain, ini
dinamakan “over generalization”. Jenis konsep yang dikembangkan oleh anak didik
terbatas pada pengalaman-pengalaman yang diperoleh sebelumnya, konsep berguna
untuk menggolong-golongkan benda, ide, kejadian, konsep harus dapat di
abstraksikan, ini sangat esensiil. Perlu diberikan catatan penting bahwa, Konsep
merupakan abstraksi dari sekumpulan fakta yang memiliki ciri-ciri yang sama.
Konsep itu terwujud dari bentuk konkrit ke bentuk abstrak. Proses ini dilakukan
oleh anak-anak
4.
Stereotipe
ialah konsep tentang
orang/obyek, tempat, kejadian yang belum terwujud berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang cukup. Sedangkan fungsi konsep disini adalah (1)
sebagai unsur respon terhadap sesuatu kejadian atau maksud, (2) sebagai
perantara kejadian dan perbuatan dan perbuatan/kelakuan, (3) membantu kita
untuk membedakan, menggolongkan, memperhitungkan fakta-fakta di sekeliling
kita.
5. Generalisasi
berfungsi dalam
pengajaran IPS antara lain adalah (1) membantu dalam pemilihan bahan pelajaran,
(2) sebagai tujuan umum IPS, (3) mengorganisasi kegiatan belajar mengajar, (4)
membantu dalam membangun hubungan pengertian atau artikulasi bahan-bahan
pengajaran dalam kurikulum IPS. Selain hal tersebut juga generalisasi memiliki
beberapa ciri-ciri, antara lain (a) generalisasi menunjukkan hubungan dua
konsep atau lebih, (b) generalisasi lebih bersifat umum dan merupakan abstraksi
yang menunjukkan pada keseluruhan dan bukan bagian atau contoh, (c) generalisasi
adalah tingkat abstraksi yang lebih tinggi dan bukan sekedar konsep, (d)
generalisasi didasarkan pada proses. Generalsasi dikembangkan atas dasar
penalaran dan bukan hanya berdasarkan pengamatan semata (e) generalisasi berisi
pernyataan-pernyataan yang dapat dibuktikan kebenarannya, (f) generalisasi
bukanlah sekedar pernyataan yang diverbalkan atau penegasan
6. Teori
adalah bentuk
pengetahuan dalam tingkat tertinggi, merupakan salah satu dari tujuan pokok
didalam perkembangan setiap disiplin/ilmu.Terdiri dari suatu proposisi
(generalisasi) yaitu: prinsip, dalil, hukum, dan sebagainya yang saling terkait
Oleh karena itu setiap disiplin ilmu
sosial memiliki dan mengembangkan konsep-konsep masing-masing yang dilakukan
oleh para ahlinya seperti jenis-jenis konsep yang perlu dikembangakan oleh para
guru IPS adalah (a) konsep konjungtif, (b) konsep disjungtif, (c) konsep 4.
Generalisasi adalah merupakan paduan dari dua atau lebih dari konsep-konsep: dapat
sederhana (kian besar keluarga, kian besar biaya), dan dapat kompleks (setiap
masyarakat memiliki kebuadayaan masing-masing). Kumpulan dari generalisasi atau
biasanya berupa prinsip, dalil, hukum, pernyataan dapat membentuk teori.
Bahan Pelajaran IPS
Bahan
pelajaran IPS pada konsep-konsep dari berbagai cabang ilmu-ilmu sosial seperti:
sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, politik psykologi sosial
dan ekologi. Disamping lingkungan alam dan masyarakat sekeliling juga memberikan
bahan berupa fakta-fakta (M. Abduh, 1990). Oleh karena itu guru IPS wajib
mengetahui konsep dasar dari ilmu-ilmu sosial dan fakta-fakta sekitar dengan baik.
Ruang Lingkup IPS
Ruang lingkup IPS ialah keseluruhan
lapangan ilmu sosial. Dalam pengajaran IPS baik konsep maupun generalisasi
diupayakan agar ditemukan sendiri oleh siswa melalui pendekatan induktif. Namun
untuk kepentingan pengajaran ada baiknya bila guru sendiri telah memiliki
konsep-konsep dan generalisasi, yang dapat digunakan untuk menguji
konsep-konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa. Tidak berarti bahwa
rumusan konsep dan generalisasi yang ditemukan siswa harus sama persis Setiap
cabang ilmu sosial mempunyai titik berat perhatian yang berbeda-beda, misalnya:
Sejarah sangat memperhatikan aspek waktu, Geografi sangat memperhatikan aspek
keruangan, Ekonomi sangat memperhatikan aspek kelangkakaan sumber kebutuhan
hidup, Sosiologi aspek masyarakat dan seterusnya.
Adanya titik berat perhatian yang
berbeda-beda itu, maka setiap cabang ilmu sosial mengembangkan konsep dan
generalisasi masing-masing sesuai dengan titik berat perhatiannya. Setiap siswa
perlu menguasai pengertian tentang konsep dasar dan generalisasi berbagai
cabang ilmu sosial yang dapat dipergunakan untuk mempelajari persoalan
kemasyarakatan, mencoba menyelami prosesnya dan mencoba ikut memecahkannya.
Mempelajari konsep dan generalisasi
IPS sangat penting karena: (a) siswa mudah memahami proses-proses yang terjadi
dalam masyarakat, (b) konsep dan generalisasi tidak mudah dilupakan, Karena
diperoleh melalui pemahaman dan bukan melalui hafalan. (c) konsep dan
generalisasi yang dipahami membuat sesuatu peristiwa menjadi lebih jelas
kaitannya satu dengan
Pengajaran IPS sifat menyeluruh
penting untuk diketahui dan dipahami, karena IPS menangani bahan pelajaran
dalam hubungan tali temali, kait berkait atau “Integrated” atau
“Interdisipliner”. Program IPS harus mengembangkan; pengertian, sikap, dan
keterampilan. Pengertian; menyangkut perkembangan fakta, konsep dan
generalisasi yang merupakan isi dasar IPS. Hal ini dapat diambil dari ilmu- ilmu
sosial dan dari pengalaman dalam masyarakat sendiri. Sikap; menyangkut nilai, apresiasi,
dan ide-ide yang diperoleh anak didik melalui program IPS. Sedangkan keterampilan;
menyangkut kemampuan tehnis dan fisik. Ketiga aspek tersebut saling berkaitan
dan perlu dikembangkan pada setiap program IPS sesuai dengan tujuan IPS.
Setiap program IPS hendaknya
berorientasi kepada Negara, bangsa dan Mulyono Tj (1982) mengemukakan bahwa
pengajaran IPS perlu pula memperhatikan bagaimana cara memilih dan menyusun konsep,
agar pelaksanaan dan pengembangan materi pelajaran tidak bermasalah, artinya
tidak terjadi kesalahan dalam memilih konsep atau salah konsep maka perlu
diperhatikan cara memilih konsep hendaknya dipilih berdasarkan prinsip-prinsip
seperti berikut yaitu:
(a)
perinsip keperluan, (b) perinsip ketepatan, (c) perinsip mudah dipahami, dan
(d) perinsip kegunaan.
Tujuan pengajaran IPS
Menurut Edwin fenton (1986) yaitu :
Tujuan
Pembelajaran IPS : (a) mempersiapkan anak didik menjadi warga Negara yang baik,
(b) mengajar anak didik berkemampuan berpikir dan (c) agar anak dapat
melanjutkan kebudayaan bangsanya.
Menurut L.H. Clark (1983)
Titik
berat studi sosial adalah perkembangan individu yang dapat memahami lingkungan sosialnya,
serta manusia dengan kegiatan intraksi antar mereka, dan anak didik diinginkan
agar dapat menjadi anggota yang produktif dan dapat memberikan andilnya dalam
masayarakat.
Dalam buku “Teaching Social studies” (1962)
dari Departemen of Instructions Fairfax Country Schools Virginia, mengemukakan bahwa
program studi sosial hendaknya menyajikan kesempatan yang banyak setra beraneka
ragam untuk membentuk warga Negara yang efektif, termasuk kesadaran
Tujuan pengajaran IPS di Indonesia,
M. Abduh (1990)
IPS bertujuan seperti tersebut di
atas yang merupakan tujuan yang bersifat universal yang dapat berlaku bagi anak
didik di negara manapun di dunia ini. Selain tujuan yang umum itu, maka pada setiap
Negara mempunyai tujuan khusus yang khas, berdasarkan filsafat, sejarah, watak,
dan keadaan geografis yang berbeda-beda.
IPS di Indonesia merupakan wahana
pencapaian tujuan pendidikan nasional. Yang harus dimiliki oleh anak didik yaitu:
(a) Taqwa
kepada Tuhan Yang Maha Esa, (b) cerdas dan terampil, (c) berbudi pekerti yang
luhur, (d) memiliki keperibadian yang kuat, dan (e) memiliki semangat kebangsaan
dan cinta tanah air yang tebal. Bagi bangsa Indonesia, karakteristik warganegara
yang baik tentu saja harus mengacu kepada dasar Negara.
Secara khusus tujuan pengajaran IPS
di sekolah dapat dikelompokkan menjadi :
- Memberikan kepada siswa pengetahuan tentang pengalaman manusia dalam kehidupan bermasyarakat pada masa lalu, sekarang dan masa datang.
- Menolong siswa untuk mengembangkan keterampilan (skill) untuk mencari pekerjaan
- Menolong siswa untuk mengembangkan nilai/sikap (values) demokrasi
- Menyediakan kesempatan kepada siswa untuk mengambil bagian/berperan serta
Keempat
tujuan tersebut tidak terpisahkan atau berdiri sendiri, melainkan merupakan
kesatuan dan saling berhubungan. Keempat tujuan tersebut sesuai dengan
perkembangan pendidikan IPS sampai pada saat sekarang.
Chaping, J.R
Bahan pelajaran IPS bersumber dari
masyarakat dan alam sekeliling kita. Bahan tersebut disusun dalam topik-topik
yang berisikan konsep-konsep dan generalisasi yang harus disajikan kepada
siswa-siswa sesuai dengan perumusan arti IPS. Konsep dan generalisasi berasal
dari berbagai cabang ilmu sosial
Kadiyono Mertodihardjo (1984).
Lingkungan sosial dan alam siswa
perlu pula digunakan berbagai pedoman dalam penyusunan bahan sehingga apa yang
akan disajikan ada kaitannya dengan masyarakat tempat tinggalnya. Namun
perkembangan penduduk yang amat cepat mengakibatkan pertumbuhan kehidupan
masyarakat yang amat kompleks.
Perkembangan teknologi dan ilmu
membawa timbulnya beraneka ragam peralatan sehingga pemilihan dan penyajian
bahan peralatan yang tepat merupakan masalah pula. Jelas sekali bahwa kini
makin banyak pengertian yang harus diketahui oleh siswa. Hal ini tidak akan
terlaksana melalui proses tradisional dengan menghafal dan mengingat meluluh.
Proses penguasaan bahan harus dirombak dengan cara penguasaan konsep dan
generalisasi, karena dengan penguasaan konsep dan generalisasi amat penting dan
dapat memudahkan pemahaman siswa tentang masyarakat.
Berikut akan diuraikan satu persatu
tentang konsep-konsep dasar dari berbagai ilmu-ilmu sosial menurut Mulyono Tj
(1982) adalah seperti berikut:
Konsep
dasar dari ilmu-ilmu sosial adalah (a) sejarah, (b) geografi, (c) ekonomi, (d)
sosiologi, (e) antropologi, (f) politik,dan (g) psykologi sosial. Berikut akan diuraikan lebih rinci tentang pengertian dan
bagian-bagiannya, beserta contoh
Sejarah
adalah
ilmu yang mengkaji kisah perbuatan-perbuatan manusia pada masa lampau dan masa
sekarang. Unsur pokoknya adalah: manusia, ruang dan waktu. Sifat obyek adalah:
perbuatan/peristiwa-peristiwa terpilih yang mempunyai arti bagi manusia.
Sedangkan sumber bahan adalah bahan tertulis dan bahan tidak tertulis. Konsep
pokok atau main Concepts seperti: perubahan, kontinuitas, waktu, dan lain-lain.
Bahan kajiannya adalah kejadian peristiwa manusiawi yang mempunyai impact
terhadap manusia, bangsa dalam gerak perkembangan atau sejarahnya seperti: (1)
usaha/perjuangan usaha manusia mengatasi tantangan alam, (2) kehidupan
bernegara, (3) kegiatan beragama dan berkebudayaan dengan pasang surutnya, (4)
ide-ide dan paham-paham: feodalisme, imperialisme, kapitalisme, nasionalisme,
Internasionalisme dan sebagainya. Semuanya dipertautkan dengan konsep-konsep,
karakteristik sejarah dan disiplin-disiplin yang lain. Sifat-sifat
karakteristik yang perlu diperhatikan dalam sejarah antara lain adalah (1)
kejadian / data itu bersifat hanya sekali saja terjadi dan tak mungkin terjadi
lagi, (2) perkembangan peristiwa/ kejadian histories itu bersifat kausal, (3)
subyektivitas dalam penilaian
Geografi
adalah
suatu studi tentang hubungan keruangan, meliputi aspek- aspek fisik, biotic,
dan sosial, tetapi dapat dibedakan dengan ilmu-ilmu lain karena geografi
memusatkan perhatiannya/studinya pada penyebaran atau distribusi,
gejala/penomena serta hubungan dengan gejala-gejala dengan tempat atau ruang.
Contoh konsep-kosep geografi antara lain: distribusi, ruang, lokasi, wilayah,
bentangan alam, sumber alam, lingkungan hidup, globalisasi, penduduk, sungai,
laut, gunung dan lain sebagainya. Konsep-konsep tersebut dapat terbagi-bagi
lagi kepada konsep yang lebih khusus. Misalnya: bentangan alam dapat berupa
konsep tentang gunung, lembah, sungai dan seterusnya.
a. Distribusi
keruangan (spatial distribution). Untuk dapat melihat distribusi keruangan
diperlukan ,fakta yang cukup banyak. Fakta tersebut memiliki tiga unsur yang
bersamaan ialah waktu, lokasi, dan kesamaan ciri-ciri.
b.
Wilayah
atau region adalah suatu daerah yang ditandai dengan adanya keseragaman atas
satu atau lebih fenomena/kenampakan. Wilayah dapat dibedakan atas: 1) Wilayah
Formal, ialah yang ditandai dengan adanya asosiasi areal, yang dapat berupa
biotik atau physik, 2) Wilayah Fungsional yang ditandai dengan adanya interaksi
ruang misalnya kota sebagai pusat dengan kota-kota satelit yang mengitarinya
yang dihubungkan oleh adanya
c. Asosiasi
areal adalah suatu areal yang memungkinkan terjadi suatu wilayah Formal,
misalnya adanya dataran rendah didaerah pantai, mungkin dapat
d. Intraksi
keruangan yaitu adanya hubungan antara fakta dengan fakta lain di dalam satu
ruang antar ruang dapat berwujud intraksi. Dengan adanya intraksi biasanya akan
timbul fakta baru. Misalnya: karena adanya intraksi antara manusia dengan
lingkungannya terjadilah disuatu tempat, sawah,
Mata Pelajaran Ilmu
Pengetahuan Sosial untuk Sekolah Menengah Atas
A. Latar Belakang
Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS) merupakan salah satu mata pelajaran yang disusun dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi dan diberikan mulai dari SD sampai SMA. Pada
satuan pendidikan SMA mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) memuat
kajian sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah secara terintegrasi dan
terpadu. Melalui mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), peserta didik
diarahkan, dibimbing, dan dibantu untuk menjadi warga negara Indonesia dan
warga dunia yang efektif.
Menjadi
warga negara Indonesia dan warga dunia yang fungsional akan menghadapi
tantangan berat karena kehidupan masyarakat global selalu mengalami perubahan
setiap saat. Oleh karenanya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dirancang untuk
membangun dan membina peserta didik dalam memasuki kehidupan bermasyarakat pada
masa yang akan datang yang selalu berubah dan berkembang secara terus menerus.
Pada
hakikatnya, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menjadi suatu mata pelajaran yang dapat mengantarkan
peserta didik untuk dapat menjawab
masalah-masalah mendasar tentang individu, masyarakat, pranata sosial, problem
sosial, perubahan sosial, dan kehidupan masyarakat berbangsa, dari waktu ke
waktu.
Peserta
didik diharapkan akan dapat menjawab pertanyaan tersebut di atas melalui
substansi Ilmu Pengetahuan Sosial yang telah dirancang secara sistematis dan
komprehensif. Dengan demikian, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) diperlukan bagi
peserta didik dalam proses menuju kedewasaan dan mencapai keberhasilan dalam
kehidupan di masyarakat di kelak kemudian hari. Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)
mengkaji seperangkat peristiwa, fakta, konsep, dan generalisasi yang berkaitan
dengan isu sosial.
B. Tujuan Pembelajaran IPS
Mata
pelajaran IPS bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
- Menginformasikan konsep-konsep dasar sosiologi, geografi, ekonomi, dan sejarah, melalui pendekatan pedagogis dan psikologis
- Mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan sosial
- Membangun komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan kemanusiaan
- Meningkatkan kemampuan bekerja sama dan berkompetisi dalam masyarakat yang majemuk, baik secara lokal nasional maupun global.
C. Ruang LingkupPembelajaran IPS
Ruang
lingkup mata pelajaran IPS meliputi aspek aspek sebagai berikut.
1.
Sistem
Sosial dan Budaya
2.
Manusia,
Tempat, dan Lingkungan
3.
Perilaku
Ekonomi dan Kesejahteraan
4.
Waktu,
Keberlanjutan, dan Perubahan.
D. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SD
E. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMP
F. Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar SMA
Kelas X, Semester 1
|
||||
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|||
1. Memahami kondisi geografis,
permasalahan kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam
pembangunan berkelanjutan
|
1.1
|
Mendeskripsikan
permasalahan kependudukan di Indonesia
|
||
1.2
|
Mendeskripsikan upaya
penanggulangannya. permasalahan kependudukan di Indonesia
|
|||
2. Memahami bentuk-bentuk hubungan antar
kelompok sosial
|
2.1
|
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat.
|
||
2.2
|
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial
|
|||
3. Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan
kegiatan ekonomi masyarakat
|
3.1
|
Mendeskripsikan permasalahan angkatan kerja dan tenaga kerja sebagai
sumber daya dalam kegiatan ekonomi
|
||
3.2
|
Mendeskripsikan peranan pemerintah dalam upaya penanggulangan angkatan
kerja dan tenaga kerja
|
|||
4. Memahami sebab akibat Perang Dunia I dan
II di Indonesia serta usaha persiapan kemerdekaan Indonesia
|
4.1
|
Mengidentifikasi hubungan sebab
akibat Perang Dunia I dengan keadaan politik dan ekonomi di Indonesia
|
||
4.2
|
Mengidentifikasi hubungan sebab
akibat Perang Dunia II dengan keadaan
politik dan ekonomi di Indonesia, serta usaha mempersiapkan kemerdekaan
Indonesia
|
|||
Kelas X, Semester 2
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
5. Memahami kondisi geografis, permasalahan
kependudukan, dan lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan
berkelanjutan
|
5.1
|
Mendeskripsikan permasalahan lingkungan hidup di Indonesia
|
5.2
|
Mendeskripsikan upaya penanggulangannya permasalahan
lingkungan hidup di Indonesia dalam pembangunan berkelanjutan
|
|
6. Memahami bentuk-bentuk hubungan antar
kelompok sosial
|
6.1
|
Mendeskripsikan pranata sosial dalam kehidupan masyarakat
|
6.2
|
Mendeskripsikan peran pranata sosial dalam mengatur hubungan sosial
|
|
7. Mengenali pelaku-pelaku ekonomi dan
kegiatan ekonomi masyarakat
|
7.1
|
Mendeskripsikan pelaku-pelaku ekonomi dalam sistem perekonomian
Indonesia.
|
7.2
|
Mendeskripsikan fungsi pajak dalam perekonomian nasional
|
|
8. Memahami perjalanan bangsa Indonesia
sejak pendudukan Jepang sampai dengan
persiapan kemerdekaan Indonesia
|
8.1
|
Mendeskripsikan
pendudukan militer Jepang di Indonesia dan pengaruhnya terhadap
pergerakan kebangsaan Indonesia
|
8.2
|
Mendeskripsikan
usaha persiapan kemerdekaan Indonesia
|
|
Kelas XI, Semester 1
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
1. Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan
negara maju
|
1.1
|
Mendeskripsikan bentuk dan
pola muka bumi
|
1.2
|
Mendeskripsikan pembagian permukaan bumi atas benua dan samudera.
|
|
2. Memahami
perilaku masyarakat dalam menyikapi perubahan sosial-budaya
|
2.1
|
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
|
2.2
|
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
|
|
3. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap
perekonomian Indonesia
|
3.1
|
Mendeskripsikan uang
|
3.2
|
Mendeskripsikan lembaga keuangan
|
|
4. Memahami
perkembangan kehidupan bangsa Indonesia pada saat sekitar proklamasi
dan usaha mempertahankan kemerdekaan
|
4.1
|
Mendeskripsikan peristiwa
proklamasi dan proses terbentuknya negara kesatuan Republik Indonesia
|
4.2
|
Mengidentifikasi usaha
perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia
|
|
Kelas XI, Semester 2
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
5. Memahami kondisi fisik dan manusia di negara berkembang dan
negara maju
|
5.1
|
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara berkembang
|
5.2
|
Mengidentifikasi kondisi fisik dan manusia di negara maju
|
|
6. Memahami perilaku Masyarakat dalam
menyikapi perubahan sosial-budaya
|
6.1
|
Mendeskripsikan perubahan sosial-budaya pada masyarakat
|
6.2
|
Mendeskripsikan faktor-faktor perubahan sosial budaya
|
|
7. Memahami perdagangan internasional dan dampaknya terhadap
perekonomian Indonesia
|
7.1
|
Mendeskripsikan kebijaksanaan
moneter
|
7.2
|
Mendeskripsikan dampak kebijakan
moneter terhadap perekonomian Indonesia
|
|
8. Memahami perkembangan kehidupan bangsa Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
|
8.1
|
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa
politik Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
|
8.2
|
Mendeskripsikan peristiwa-peristiwa
ekonomi Indonesia pasca pengakuan kedaulatan internasional
|
|
Kelas XII, Semester 1
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
1. Memahami kondisi fisik dan manusia Kawasan
Asia Tenggara
|
1.1
|
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Asia Tenggara
|
1.2
|
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Asia Tenggara
|
|
2. Memahami perilaku masyarakat dalam
menyikapi perubahan sosial-budaya
|
2.1
|
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
|
2.2
|
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
|
|
3. Memahami perdagangan internasional dan
dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
|
3.1
|
Mendeskripsikan perdagangan internasional terhadap perekonomian Indonesia
|
3.2
|
Mendeskripsikan dampak perdagangan internasional terhadap perekonomian
Indonesia
|
|
4. Memahami
perjalanan bangsa Indonesia pada masa kemerdekaan dalam perjuangan pengembalian Irian Barat, sampai dengan G 30 S PKI
|
4.1
|
Mendeskripsikan peristiwa perjuangan pengembalian Irian Barat ke NKRI
|
4.2
|
Mendeskripsikan peristiwa G 30
S PKI
|
|
Kelas XII, Semester 2
Standar Kompetensi
|
Kompetensi Dasar
|
|
5. Memahami kondisi fisik dan manusia kawasan
Ausralia-Oceania
|
5.1
|
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur fisik kawasan Australia-Oceania
|
5.2
|
Mendeskripsikan keterkaitan unsur-unsur manusia kawasan Australia-Oceania
|
|
6. Memahami perilaku masyarakat dalam
menyikapi perubahan sosial-budaya
|
6.1
|
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan sosial
|
6.2
|
Mengidentifikasi perilaku masyarakat dalam perubahan budaya
|
|
7. Memahami perdagangan internasional dan
dampaknya terhadap perekonomian Indonesia
|
7.1
|
Mendeskripsikan kerjasama antar negara di bidang ekonomi dan peran
Indonesia dalam dunia internasional
|
7.2
|
Mendeskripsikan peran Indonesia dalam bidang ekonomi di dunia
internasional
|
|
8. Memahami
perjalanan bangsa Indonesia pada masa Orde Baru dan Era Reformasi serta
bentuk kerjasama Indonesia dengan dunia internasional
|
8.1
|
Mendeskripsikan perkembangan
sosial, ekonomi, politik masa Orde Baru
|
8.2
|
Mendeskripsikan perkembangan
sosial, ekonomi, politik Era Reformasi
|
|
8.3
|
Mengidentifikasi kerjasama antar negara dan peran
Indonesia dalam dunia internasional
|
|
E. Arah Pengembangan Pembelajaran IPS
Standar kompetensi dan
kompetensi dasar menjadi arah dan landasan untuk mengembangkan materi pokok,
kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi untuk penilaian.
Dalam merancang kegiatan pembelajaran dan penilaian perlu memperhatikan Standar
Proses dan Standar Penilaian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar