MODUL
METODE-METODE PEMBELAJARAN IPS
Disusun Oleh:
Moch. Noviadi Nugroho, M.Pd
JURUSAN PENDIDIKAN IPS
FAKULTAS ILMU TARBIYAH KEPENDIDIKAN
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2012
METODE METODE
PEMBELAJARAN
Proses pembelajaran ialah proses
belajar mengajar (PBM) atau proses
komunikasi dan kerjasama guru dan
siswa dalam mencapai sasaran
dan tujuan pendidikan-pengajaran. Pembelajaran juga merupakan proses pengembangan sikap
dan kepribadian siswa melalui
berbagai tahap dan pengalaman. Proses pembelajaran ini berlangsung melalui berbagai metode dan
multi-media sebagai cara dan
alat menjelaskan, menganalisis, menyimpulkan, mengembangkan, menilai dan menguasai (memakai: mengamalkan/aplikasi) pokok bahasan
(thema) sebagai perwujudan pencapaian
sasaran (tujuan).
Metode belajar-mengajar adalah
bagian utuh (terpadu, integral) dari
proses pendidikan-pengajaran. Metode ialah cara guru menjelaskan suatu pokok bahsan (thema,
pokok masalah) sebagai bagian
kurikulum (isi, materi pengajaran), dalam upaya mencapai sasaran dan tujuan pengajaran.
adalah suatu
kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan
pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Selanjutnya, dengan
mengutip pemikiran J. R David, Wina Senjaya (2008) menyebutkan bahwa dalam
strategi pembelajaran terkandung makna perencanaan. Artinya, bahwa strategi
pada dasarnya masih bersifat konseptual tentang keputusan-keputusan yang akan
diambil dalam suatu pelaksanaan pembelajaran. Dilihat dari strateginya,
pembelajaran dapat dikelompokkan ke dalam dua bagian pula, yaitu: (1) exposition-discovery
learning dan (2) group-individual learning (Rowntree dalam Wina
Senjaya, 2008).
dapat diartikan
sebagai cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah
disusun dalam bentuk kegiatan nyata dan praktis untuk mencapai tujuan
pembelajaran. Terdapat beberapa metode pembelajaran yang dapat digunakan untuk
mengimplementasikan strategi pembelajaran, diantaranya: (1) ceramah; (2)
demonstrasi; (3) diskusi; (4) simulasi; (5) laboratorium; (6) pengalaman
lapangan; (7) brainstorming; (8) debat, (9) simposium, dan sebagainya.
dapat diatikan sebagai cara yang
dilakukan seseorang dalam mengimplementasikan suatu metode secara spesifik.
Misalkan, penggunaan metode ceramah pada kelas dengan jumlah siswa yang relatif
banyak membutuhkan teknik tersendiri, yang tentunya secara teknis akan berbeda
dengan penggunaan metode ceramah pada kelas yang jumlah siswanya terbatas.
Demikian pula, dengan penggunaan metode diskusi, perlu digunakan teknik yang
berbeda pada kelas yang siswanya tergolong aktif dengan kelas yang siswanya
tergolong pasif. Dalam hal ini, guru pun dapat berganti-ganti teknik meskipun
dalam koridor metode yang sama.
merupakan gaya seseorang dalam
melaksanakan metode atau teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual.
Misalkan, terdapat dua orang sama-sama menggunakan metode ceramah, tetapi
mungkin akan sangat berbeda dalam taktik yang digunakannya. Dalam penyajiannya,
yang satu cenderung banyak diselingi dengan humor karena memang dia memiliki
sense of humor yang tinggi, sementara yang satunya lagi kurang memiliki sense
of humor, tetapi lebih banyak menggunakan alat bantu elektronik karena dia
memang sangat menguasai bidang itu. Dalam gaya pembelajaran akan tampak
keunikan atau kekhasan dari masing-masing guru, sesuai dengan kemampuan,
pengalaman dan tipe kepribadian dari guru yang bersangkutan.
Macam-macam
pendekatan pembelajaran adalah sebagai berikut :
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
7. Problem Posing
8. Problem Terbuka (POE, Problem Open Ended)
10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
12. SAVI
13. TGT (Teams Games Tournament)
14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
16. TAI (Team Assisted Individualy)
18. NHT (Numbered Head Together)
19. Jigsaw
20. TPS (Think Pairs Share)
21. GI (Group Investigation)
22. MEA (Means-Ends Analysis)
23. CPS (Creative Problem Solving)
Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.
24. TTW (Think Talk Write)
25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
30. KUASAI
31. CRI (Certainly of Response Index)
32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
39. Bermain Peran (Role Playing)
40. Tongkat Berbicara (Talking Stick)
42. Menjelaskan dan memfasilitasi Pelajar (Student Facilitator and Explaining)
43. Review Pembelajaran Gembira (Course Review Horay)
45. Intruksi Eksplisit (Explicit Instruction)
46. Acak Kata (Scramble)
47. Saling Mengecek (Pair Checks)
49. Peta Pikiran (Mind Mapping)
51. Gambar dan Bukan Gambar (Picture and Picture)
52. Skript Kooperatif (Cooperative Script)
53. LAPS-Heuristik
56. Pembelajaran Sirkuit (Circuit Learning)
58. Konsep Kata (Concept Sentence)
61. Superitem
62. Hibrid
64. Kumon
65. Quantum
77. Team recognize (penghargaan kelompok)
1. Pendekatan
kontekstual
2. Pendekatan
konstruktivisme
3. Pendekatan
deduktif dan induktif
4. Pendekatan
konsep dan proses
5.
Pendekatan
sains, teknologi dan masyarakat (STM)
Pada dasarnya merupakan bentuk pembelajaran yang
tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru. Dengan
kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari penerapan
suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Berkenaan dengan model pembelajaran, Bruce Joyce dan Marsha
Weil (Dedi Supriawan dan A. Benyamin Surasega, 1990) mengetengahkan
4
(empat) kelompok model pembelajaran, yaitu:
(1) model interaksi sosial;
(2) model pengolahan informasi;
(3) model personal-humanistik; dan
(4) model modifikasi tingkah laku.
Macam-macam Strategi Belajar
a.
Strategi Mengulang (Rehearsal)
Strategi
mengulang terdiri dari strategi mengulang sederhana (rote rehearsal) dengan
cara mengulang-ulang dan strategi mengulang kompleks dengan cara menggaris
bawahi ide-ide utama (under lining) dan membuat catatan pinggir (marginal
note).
b.
Strategi Elaborasi
Elaborasi
adalah proses penambahan rincian sehingga informasi baru akan menjadi lebih
bermakna, oleh karena itu membuat pengkodean lebih mudah dan lebih memberi
kepastian.(Nur,2000:30). Strategi ini dapat dibedakan menjadi : 1). Notetaking
(pembuatan catatan); pembuatan catatan membantu siswa dalam mempelajari
informasi secara ringkas dan padat untuk menghafal atau pengulangan.
c.
Strategi Organisasi
Strategi organisasi mengidentifikasi ide-ide atau
fakta-fakta kunci dari sekumpulan informasi yang lebih besar. Strategi ini
meliputi :
1).
Pembuatan Kerangka (Outlining);
dalam
pembuatan kerangka garis besar, siswa belajar menghubungkan berbagai macam topik atau ide dengan
beberapa ide utama,
2).
Pemetaan (mapping)
biasa
disebut pemetaan konsep di dalam pembuatannya dilakukan dengan membuat suatu sajian visual atau
suatu diagram tentang bagaimana ide-ide penting
atas suatu topik tertentu dihubungkan satu sama lain,
3)
Mnemonics;
berhubungan
dengan teknik-teknik atau strategi-strategi untuk membantu ingatan dengan membantu membentuk assosiasi
yang secara alamiah tidak ada. Suatu
mnemonics membantu untuk mengorganisasikan informasi yang mencapai memori kerja dalam
pola yang dikenal sedemikian rupa sehingga informasi tersebut lebih mudah dicocokkan dengan pola skema di memori jangka panjang. Contoh mnemonics yaitu : a). Chunking pemotongan) b).
Akronim (singkatan), c). Kata berkait (Link-word) : suatu mnemonics untuk belajar kosa kata bahasa asing.
d.
Strategi Metakognitif
Metakognitif
adalah pengetahuan seseorang tentang pembelajaran diri sendiri atau berfikir tentang kemampuannya untuk menggunakan
strategi-strategi belajar
tertentu dengan benar.(Arends, 1997:260). Metakognitif mempunyai dua komponen yaitu (1) pengetahuan tentang kognitif
yang terdiri dari informasi dan
pemahaman yang dimiliki seorang pebelajar tentang
proses berfikirnya sendiri dan pengetahuan tentang berbagai strategi belajar untuk digunakan dalam
suatu situasi pembelajaran tertentu, (2) mekanisme pengendalian diri
seperti pengendalian dan monitoring
kognitif. (Nur, 2000:41)
METODE PEMBELAJARAN
Berikut ini disajikan beberapa model pembelajaran, untuk
dipilih dan dijadikan alternatif sehingga cocok untuk situasi dan kondisi yang
dihadapi. Akan tetapi sajian yang dikemukakan pengantarnya berupa pengertian
dan rasional serta sintaks (prosedur) yang sifatnya prinsip, modifikasinya
diserahkan kepada guru untuk melakukan penyesuaian
1.
Koperatif (CL, Cooperative Learning).
Pembelajaran
koperatif sesuai dengan fitrah manusia sebagai makhluk sosial yang penuh
ketergantungan dengan orang lain, mempunyai tujuan dan tanggung jawab bersama,
pembagian tugas, dan rasa senasib. Dengan memanfaatkan kenyatan itu, belajar
berkelompok secara koperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi
(sharing) pengetahuan, pengalaman,
tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih
beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena koperatif adalah miniature dari hidup
bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Jadi model pembelajaran koperatif adalah kegiatan pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama saling membantu mengkontruksi konsep, menyelesaikan persoalan, atau inkuiri. Menurut teori dan pengalaman agar kelompok kohesif (kompak-partisipatif), tiap anggota kelompok terdiri dari 4 – 5 orang, siswa heterogen (kemampuan, gender, karekter), ada control dan fasilitasi, dan meminta tanggung jawab hasil kelompok berupa laporan atau presentasi.
Sintaks pembelajaran koperatif adalah informasi, pengarahan-strategi, membentuk kelompok heterogen, kerja kelompok, presentasi hasil kelompok, dan pelaporan.
2. Kontekstual (CTL, Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran
kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab
lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan
siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan
disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan
suasana menjadi kondusif - nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran
kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya
menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu :
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu :
1.
modeling
pemusatan perhatian, motivasi,
penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu
2.
questioning
eksplorasi, membimbing, menuntun,
mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi
3.
learning
community
seluruh siswa partisipatif dalam
belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan
4. inquiry
identifikasi, investigasi,
hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan)
5.
constructivism
membangun pemahaman sendiri,
mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis
6.
reflection
reviu, rangkuman, tindak lanjut
7.
authentic
assessment
penilaian selama proses dan sesudah
pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian
portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan
berbagai cara
3. Realistik (RME, Realistic Mathematics Education)
Realistic
Mathematics Education (RME) dikembangkan oleh Freud di Belanda dengan pola
guided reinvention dalam mengkontruksi konsep-aturan melalui process of
mathematization, yaitu matematika horizontal (tools, fakta, konsep, prinsip,
algoritma, aturan untuk digunakan dalam menyelesaikan persoalan, proses dunia
empirik) dan vertikal (reoorganisasi matematik melalui proses dalam dunia
rasio, pengembangan matematika).
Prinsip RME
adalah aktivitas (doing) konstruksivis, realitas (kebermaknaan
proses-aplikasi), pemahaman (menemukan-informal daam konteks melalui refleksi,
informal ke formal), inter-twinment (keterkaitan-intekoneksi antar konsep),
interaksi (pembelajaran sebagai aktivitas sosial, sharing), dan bimbingan (dari
guru dalam penemuan).
4. Pembelajaran Langsung (DL, Direct Learning)
Pengetahuan
yang bersifat informasi dan prosedural yang menjurus pada keterampilan dasar
akan lebih efektif jika disampaikan dengan cara pembelajaran langsung.
Sintaknya adalah menyiapkan siswa, sajian informasi dan prosedur, latihan
terbimbing, refleksi, latihan mandiri, dan evaluasi. Cara ini sering disebut
dengan metode ceramah atau ekspositori (ceramah bervariasi).
5.
Pembelajaran Berbasis masalah (PBL, Problem Based Learning)
Kehidupan
adalah identik dengan menghadapi masalah. Model pembelajaran ini melatih dan
mengembangkan kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang berorientasi pada
masalah otentik dari kehidupan aktual siswa, untuk merangsang kemampuan
berpikir tingkat tinggi. Kondisi yang tetap hatrus dipelihara adalah suasana
kondusif, terbuka, negosiasi, demokratis, suasana nyaman dan menyenangkan agar
siswa dapat berpikir optimal.
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
Indikator model pembelajaran ini adalah metakognitif, elaborasi (analisis), interpretasi, induksi, identifikasi, investigasi, eksplorasi, konjektur, sintesis, generalisasi, dan inkuiri
6.
Problem Solving
Dalam hal
ini masalah didefinisikan sebagai suatu persoalan yang tidak rutin, belum
dikenal cara penyelesaiannya. Justru problem solving adalah mencari atau
menemukan cara penyelesaian (menemukan pola, aturan, .atau algoritma).
Sintaknya adalah: sajikan permasalahan yang memenuhi kriteria di atas, siswa
berkelompok atau individual mengidentifikasi pola atau aturan yang disajikan,
siswa mengidentifkasi, mengeksplorasi,menginvestigasi, menduga, dan akhirnya
menemukan solusi.
7. Problem Posing
Bentuk lain
dari problem posing adalah problem posing, yaitu pemecahan masalah dengan
melalui elaborasi, yaitu merumuskan kembali masalah menjadi bagian-bagian yang
lebih simple sehingga dipahami. Sintaknya adalah: pemahaman, jalan keluar,
identifikasi kekeliruan, menimalisasi tulisan-hitungan, cari alternative,
menyusun soal-pertanyaan.
8. Problem Terbuka (POE, Problem Open Ended)
Pembelajaran
dengan problem (masalah) terbuka artinya pembelajaran yang menyajikan
permasalahan dengan pemecahan berbagai cara (flexibility) dan solusinya juga
bisa beragam (multi jawab, fluency). Pembelajaran ini melatih dan menumbuhkan
orisinilitas ide, kreativitas, kognitif tinggi, kritis, komunikasi-interaksi,
sharing, keterbukaan, dan sosialisasi. Siswa dituntut untuk berimprovisasi
mengembangkan metode, cara, atau pendekatan yang bervariasi dalam memperoleh
jawaban, jawaban siswa beragam. Selanjutnya siswa juga diminta untuk
menjelaskan proses mencapai jawaban tersebut. Dengan demikian model
pembelajaran ini lebih mementingkan proses daripada produk yang akan membentuk
pola pikir, keterpasuan, keterbukaan, dan ragam berpikir.
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sajian masalah haruslah kontekstual kaya makna secara matematik (gunakan gambar, diagram, table), kembangkan permasalahan sesuai dengan kemampuan berpikir siswa, kaitkan dengan materi selanjutnya, siapkan rencana bimibingan (sedikit demi sedikit dilepas mandiri).
Sinkatnya
adalah menyajikan masalah, pengorganisasian pembelajaran, perhatikan dan catat
respon siswa, bimbingan dan pengarahan, membuat kesimpulan.
9. Probing-prompting
9. Probing-prompting
Teknik
probing-prompting adalah pembelajaran dengan cara guru menyajikan serangkaian
pertanyaan yang sifatnya menuntun dan menggali sehingga terjadi proses berpikir
yang mengaitkan pengetahuan setiap siswa dan pengalamannya dengan pengetahuan
baru yang sedang dipelajari. Selanjutnya siswa mengkonstruksi
konsep-prinsip-aturan menjadi pengetahuan baru, dengan demikian pengetahuan
baru tidak diberitahukan.
Dengan
model pembelajaran ini proses tanya jawab dilakukan dengan menunjuk siswa
secara acak sehingga setiap siswa mau tidak mau harus berpartisipasi aktif,
siswa tidak bisa menghindar dari proses pembelajaran, setiap saat ia bisa
dilibatkan dalam proses tanya jawab. Kemungkinan akan terjadi suasana tegang,
namun demikian bisa dibiasakan. Untuk mengurangi kondisi tersebut, guru
hendaknya serangkaian pertanyaan disertai dengan wajah ramah, suara
menyejukkan, nada lembut. Ada canda, senyum, dan tertawa, sehingga suasana
menjadi nyaman, menyenangkan, dan ceria. Jangan lupa, bahwa jawaban siswa yang
salah harus dihargai karena salah adalah cirinya dia sedang belajar, ia telah
berpartisipasi
10. Pembelajaran Bersiklus (cycle learning)
Ramsey
(1993) mengemukakan bahwa pembelajaran efektif secara bersiklus, mulai dari
eksplorasi (deskripsi), kemudian eksplanasi (empiric), dan diakhiri dengan
aplikasi (aduktif). Eksplorasi berarti menggali pengetahuan prasyarat,
eksplanasi berarti mengenalkan konsep baru dan alternative pemecahan, dan
aplikasi berarti menggunakan konsep dalam konteks yang berbeda.
11.
Reciprocal Learning
Weinstein
& Meyer (1998) mengemukakan bahwa dalam pembelajaran harus memperhatikan
empat hal, yaitu bagaimana siswa belajar, mengingat, berpikir, dan memotivasi
diri. Sedangkan Resnik (1999) mengemukan bahwa belajar efektif dengan cara
membaca bermakna, merangkum, bertanya, representasi, hipotesis.
Untuk
mewujudkan belajar efektif, Donna Meyer (1999) mengemukakan cara pembelajaran
resiprokal, yaitu: informasi, pengarahan, berkelompok mengerjakan LKSD-modul,
membaca-merangkum.
12. SAVI
Pembelajaran
SAVI adalah pembelajaran yang menekankan bahwa belajar haruslah memanfaatkan
semua alat indra yang dimiliki siswa. Istilah SAVI sendiri adalah kependekan
dari:
Somatic
yang bermakna gerakan tubuh (hands-on, aktivitas fisik) di mana
belajar dengan mengalami dan melakukan;
Auditory
yang bermakna bahwa belajar
haruslah dengan melaluui mendengarkan, menyimak, berbicara, presentasi,
argumentasi, mengemukakan penndepat, dan menanggapi;
Visualization
yang bermakna belajar haruslah menggunakan
indra mata melalui mengamati, menggambar, mendemonstrasikan, membaca,
menggunakan media dan alat peraga; dan
Intellectualy
yang bermakna bahwa
belajar haruslah menggunakan kemampuan berpikir (minds-on) belajar haruslah
dengan konsentrasi pikiran dan berlatih menggunakannya melalui bernalar,
menyelidiki, mengidentifikasi, menemukan, mencipta, mengkonstruksi, memecahkan
masalah, dan menerapkan.
13. TGT (Teams Games Tournament)
Penerapan
model ini dengan cara mengelompokkan siswa heterogen, tugas tiap kelompok bisa
sama bisa berbeda. Setelah memperoleh tugas, setiap kelompok bekerja sama dalam
bentuk kerja individual dan diskusi. Usahakan dinamika kelompok kohesif dan
kompak serta tumbuh rasa kompetisi antar kelompok, suasana diskusi nyaman dan
menyenangkan seperti dalam kondisi permainan (games) yaitu dengan cara guru
bersikap terbuka, ramah , lembut, santun, dan ada sajian bodoran. Setelah
selesai kerja kelompok sajikan hasil kelompok sehingga terjadi diskusi kelas.
14. VAK (Visualization, Auditory, Kinestetic)
Model
pembelajaran ini menganggap bahwa pembelajaran akan efektif dengan
memperhatikan ketiga hal tersebut di atas, dengan perkataan lain manfaatkanlah
potensi siwa yang telah dimilikinya dengan melatih, mengembangkannya. Istilah
tersebut sama halnya dengan istilah pada SAVI, dengan somatic ekuivalen dengan
kinesthetic.
15. AIR (Auditory, Intellectualy, Repetition)
Model
pembelajaran ini mirip dengan SAVI dan VAK, bedanya hanyalah pada Repetisi
yaitu pengulangan yang bermakna pendalaman, perluasan, pemantapan dengan cara
siswa dilatih melalui pemberian tugas atau quis.
16. TAI (Team Assisted Individualy)
Terjemahan
bebas dari istilah di atas adalah Bantuan Individual dalam Kelompok (BidaK)
dengan karateristirk bahwa (Driver, 1980) tanggung jawab belajar adalah pada siswa.
Oleh karena itu siswa harus membangun pengetahuan tidak menerima bentuk jadi
dari guru. Pola komunikasi guru-siswa adalah negosiasi dan bukan
imposisi-intruksi.
Menurut
Slavin (1985) adalah: (1) buat kelompok heterogen dan berikan bahan ajar
berupak modul, (2) siswa belajar kelompok dengan dibantu oleh siswa pandai
anggota kelompok secara individual, saling tukar jawaban, saling berbagi
sehingga terjadi diskusi, (3) penghargaan kelompok dan refleksi serta tes
formatif.
17. STAD (Student Teams Achievement Division)
17. STAD (Student Teams Achievement Division)
STAD adalah
salah satu model pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat
kelompok heterogen (4-5 orang), diskusikan bahan belajar-LKS-modul secara
kolabratif, sajian-presentasi kelompok sehingga terjadi diskusi kelas, kuis
individual dan buat skor perkembangan tiap siswa atau kelompok, umumkan rekor
tim dan individual dan berikan reward.
18. NHT (Numbered Head Together)
NHT adalah
salah satu tipe dari pembelajaran koperatif dengan sintaks: pengarahan, buat
kelompok heterogen dan tiap siswa memiliki nomor tertentu, berikan persoalan
materi bahan ajar (untuk tiap kelompok sama tapi untuk tiap siswa tidak sama
sesuai dengan nomor siswa, tiap siswa dengan nomor sama mendapat tugas yang
sama) kemudian bekerja kelompok, presentasi kelompok dengan nomor siswa yang
sama sesuai tugas masing-masing sehingga terjadi diskusi kelas, kuis individual
dan buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis dan beri reward.
19. Jigsaw
Model
pembelajaran ini termasuk pembelajaran koperatif dengan sintaks seperti berikut
ini. Pengarahan, informasi bahan ajar, buat kelompok heterogen, berikan bahan
ajar (LKS) yang terdiri dari beberapa bagian sesuai dengan banyak siswa dalam
kelompok, tiap anggota kelompok bertugas membahas bagian tertentu, tiap kelompok
bahan belajar sama, buat kelompok ahli sesuai bagian bahan ajar yang sama
sehingga terjadi kerja sama dan diskusi, kembali ke kelompok asal, pelaksanaan
tutorial pada kelompok asal oleh anggota kelompok ahli, penyimpulan dan
evaluasi, refleksi.
20. TPS (Think Pairs Share)
Model
pembelajaran ini tergolong tipe koperatif dengan sintaks: Guru menyajikan
materi klasikal, berikan persoalan kepada siswa dan siswa bekerja kelompok
dengan cara berpasangan sebangku-sebangku (think-pairs), presentasi kelompok
(share), kuis individual, buat skor perkembangan tiap siswa, umumkan hasil kuis
dan berikan reward.
21. GI (Group Investigation)
Model
koperatif tipe GI dengan sintaks: Pengarahan, buat kelompok heterogen dengan
orientasi tugas, rencanakan pelaksanaan investigasi, tiap kelompok
menginvestigasi proyek tertentu (bisa di luar kelas, misal mengukur tinggi
pohon, mendata banyak dan jenis kendaraan di dalam sekolah, jenis dagangan dan
keuntungan di kantin sekolah, banyak guru dan staf sekolah), pengolahan data
penyajian data hasil investigasi, presentasi, kuis individual, buat skor
perkembangan siswa, umumkan hasil kuis dan berikan reward.
22. MEA (Means-Ends Analysis)
Model
pembelajaran ini adalah variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah
dengan sintaks: sajikan materi dengan pendekatan pemecahan masalah berbasis
heuristic, elaborasi menjadi sub-sub masalah yang lebih sederhana, identifikasi
perbedaan, susun sub-sub masalah sehingga terjadi koneksivitas, pilih strategi
solusi.
23. CPS (Creative Problem Solving)
Ini juga merupakan variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah melalui teknik sistematik dalam mengorganisasikan gagasan kreatif untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Sintaksnya adalah: mulai dari fakta aktual sesuai dengan materi bahan ajar melalui tanya jawab lisan, identifikasi permasalahan dan fokus-pilih, mengolah pikiran sehingga muncul gagasan orisinil untuk menentukan solusi, presentasi dan diskusi.
24. TTW (Think Talk Write)
Pembelajaran
ini dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan
alternative solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi,
diskusi, dan kemudian buat laporan hasil presentasi. Sintaknya adalah:
informasi, kelompok (membaca-mencatatat-menandai), presentasi, diskusi,
melaporkan.
25. TS-TS (Two Stay – Two Stray)
Pembelajaran
model ini adalah dengan cara siswa berbagi pengetahuan dan pengalaman dengan
kelompok lain. Sintaknya adalah kerja kelompok, dua siswa bertamu ke kelompok
lain dan dua siswa lainnya tetap di kelompoknya untuk menerima dua orang dari
kelompok lain, kerja kelompok, kembali ke kelompok asal, kerja kelompok,
laporan kelompok.
26. CORE (Connecting, Organizing, Refleting, Extending)
Sintaknya
adalah (C) koneksi informasi lama-baru dan antar konsep, (0) organisasi ide
untuk memahami materi, (R) memikirkan kembali, mendalami, dan menggali, (E)
mengembangkan, memperluas, menggunakan, dan menemukan.
27.
SQ3R (Survey, Question, Read, Recite, Review)
Pembelajaran
ini adalah strategi membaca yang dapat mengembangkan meta kognitif siswa, yaitu
dengan menugaskan siswa untuk membaca bahan belajar secara seksama-cermat,
dengan sintaks: Survey dengan mencermati teks bacaan dan mencatat-menandai kata
kunci, Question dengan membuat pertanyaan (mengapa-bagaimana, darimana) tentang
bahan bacaan (materi bahan ajar), Read dengan membaca teks dan cari jawabanya,
Recite dengan pertimbangkan jawaban yang diberikan (catat-bahas bersama), dan
Review dengan cara meninjau ulang menyeluruh
28.
SQ4R (Survey, Question, Read, Reflect, Recite, Review)
SQ4R adalah
pengembangan dari SQ3R dengan menambahkan unsur Reflect, yaitu aktivitas
memberikan contoh dari bahan bacaan dan membayangkan konteks aktual yang
relevan.
29. MID (Meaningful Instructionnal Design)
Model ini
adalah pembelajaran yang mengutamakan kebermaknaan belajar dan efektifivitas
dengan cara membuat kerangka kerja-aktivitas secara konseptual
kognitif-konstruktivis. Sintaknya adalah (1) lead-in dengan melakukan kegiatan
yang terkait dengan pengalaman, analisis pengalaman, dan konsep-ide; (2)
reconstruction melakukan fasilitasi pengalaman belajar; (3) production melalui
ekspresi-apresiasi konsep
30. KUASAI
Pembelajaran
akan efektif dengan melibatkan enam tahap berikut ini, Kerangka pikir untuk
sukses, Uraikan fakta sesuai dengan gaya belajar, Ambil pemaknaan
(mengetahui-memahami-menggunakan-memaknai), Sertakan ingatan dan hafalkan kata
kunci serta koneksinya, Ajukan pengujian pemahaman, dan Introspeksi melalui
refleksi diri tentang gaya belajar.
31. CRI (Certainly of Response Index)
CRI
digunakan untuk mengobservasi proses pembelajaran yang berkenaan dengan tingkat
keyakinan siswa tentang kemampuan yang dimilkinya untuk memilih dan menggunakan
pengetahuan yang telah dimilikinya. Hutnal (2002) mengemukakan bahwa CRI
menggunakan rubric dengan penskoran 0 untuk totally guested answer, 1 untuk
amost guest, 2 untuk not sure, 3 untuk sure, 4 untuk almost certain, dn 5 untuk
certain.
32. DLPS (Double Loop Problem Solving)
DPLS adalah
variasi dari pembelajaran dengan pemecahan masalah dengan penekanan pada
pencarian kausal (penyebab) utama daritimbulnya masalah, jadi berkenaan dengan
jawaban untuk pertanyaan mengapa. menyelesaikan masalah dengan cara
menghilangkan gap yang menyebabkan munculnya masalah tersebut.
Sintaknya
adalah: identifkasi, deteksi kausal, solusi tentative, pertimbangan solusi,
analisis kausal, deteksi kausal lain, dan rencana solusi yang terpilih. Langkah
penyelesaian masalah sebagai berikut: menuliskan pernyataan masalah awal,
mengelompokkan gejala, menuliskan pernyataan masalah yang telah direvisi,
mengidentifikasi kausal, implementasi solusi, identifikasi kausal utama,
menemukan pilihan solusi utama, dan implementasi solusi utama.
33. DMR (Diskursus Multy Reprecentacy)
DMR adalah
pembelajaran yang berorientasi pada pembentukan, penggunaan, dan pemanfaatan
berbagai representasi dengan setting kelas dan kerja kelompok. Sintaksnya
adalah: persiapan, pendahuluan, pengembangan, penerapan, dan penutup.
34. CIRC (Cooperative, Integrated, Reading, and Composition)
Terjemahan
bebas dari CIRC adalah komposisi terpadu membaca dan menulis secara koperatif
–kelompok. Sintaksnya adalah: membentuk kelompok heterogen 4 orang, guru
memberikan wacana bahan bacaan sesuai dengan materi bahan ajar, siswa bekerja
sama (membaca bergantian, menemukan kata kunci, memberikan tanggapan) terhadap
wacana kemudian menuliskan hasil kolaboratifnya, presentasi hasil kelompok,
refleksi.
35.
IOC (Inside Outside Circle)
IOC adalah
model pembelajaran dengan sistim lingkaran kecil dan lingkaran besar (Spencer
Kagan, 1993) di mana siswa saling membagi informasi pada saat yang bersamaan
dengan pasangan yang berbeda dengan singkat dan teratur. Sintaksnya adalah:
Separuh dari jumlah siswa membentuk lingkaran kecil menghadap keluar, separuhnya
lagi membentuk lingkaran besar menghadap ke dalam, siswa yang berhadapan
berbagi informasi secara bersamaan, siswa yang berada di lingkaran luar
berputar kemudian berbagi informasi kepada teman (baru) di depannya, dan
seterusnya.
36.
Tari Bambu (Bamboo Dancing)
Model pembelajaran
ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berbagi informasi pada saat yang
bersamaan dengan pasangan yang berbeda secara teratur. Strategi ini cocok untuk
bahan ajar yang memerlukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan antar siswa.
Sintaksnya : Sebagian siswa berdiri berjajar di depan kelas atau di sela
bangku-meja dan sebagian siswa lainnya berdiri berhadapan dengan kelompok siswa
pertama, siswa yang berhadapan berbagi pengalaman dan pengetahuan, siswa yang
berdiri di ujung salah satu jajaran pindah ke ujung lainnya pada jajarannya,
dan kembali berbagai informasi.
37.
Artikulasi (Articulate)
Artikulasi
adlah model pembelajaran dengan sintaks: penyampaian kompetensi, sajian materi,
bentuk kelompok berpasangan sebangku, salah satu siswa menyampaikan materi yang
baru diterima kepada pasangannya kemudian bergantian, presentasi di depan hasil
diskusinya, guru membimbing siswa untuk menyimpulkan.
38. Debat (Debate)
38. Debat (Debate)
Debat adalah model pembalajaran dengan sisntaks: siswa
menjadi 2 kelompok kemudian duduk berhadapan, siswa membaca materi bahan ajar
untuk dicermati oleh masing-masing kelompok, sajian presentasi hasil bacaan
oleh perwakilan salah satu kelompok kemudian ditanggapi oleh kelompok lainnya
begitu seterusnya secara bergantian, guru membimbing membuat kesimpulan dan
menambahkannya biola perlu.
39. Bermain Peran (Role Playing)
Sintak dari
model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan skenario pembelajaran, menunjuk
beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa,
penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah
dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon,
presentasi hasil kelompok, bimbingan kesimpulan dan refleksi.
40. Tongkat Berbicara (Talking Stick)
Sintak
pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan tongkat, sajian materi pokok, siswa
membaca materi lengkap pada wacana, guru mengambil tongkat dan memberikan
tongkat kepada siswa dan siswa yang kebagian tongkat menjawab pertanyaan dari
guru, tongkat diberikan kepada siswa lain dan guru memberikan pertanyaan lagi
dan seterusnya, guru membimbing kesimpulan-refleksi-evaluasi.
41. Lempar Bola Salju (Snowball Throwing)
41. Lempar Bola Salju (Snowball Throwing)
Sintaknya
adalah: Informasi materi secara umum, membentuk kelompok, pemanggilan ketua dan
diberi tugas membahas materi tertentu di kelompok, bekerja kelompok, tiap kelompok
menuliskan pertanyaan dan diberikan kepada kelompok lain, kelompok lain
menjawab secara bergantian, penyimpulan, refleksi dan evaluasi.
42. Menjelaskan dan memfasilitasi Pelajar (Student Facilitator and Explaining)
Langkah-langkahnya
adalah: informasi kompetensi, sajian materi, siswa mengembangkannya dan
menjelaskan lagi ke siswa lainnya, kesimpulan dan evaluasi, refleksi.
43. Review Pembelajaran Gembira (Course Review Horay)
Langkah-langkahnya:
informasi kompetensi, sajian materi, tanya jawab untuk pemantapan, siswa atau
kelompok menuliskan nomor sembarang dan dimasukkan ke dalam kotak, guru
membacakan soal yang nomornya dipilih acak, siswa yang punya nomor sama dengan
nomor soal yang dibacakan guru berhak menjawab jika jawaban benar diberi skor
dan siswa menyambutnya dengan yel hore atau yang lainnya, pemberian reward,
penyimpulan dan evaluasi, refleksi.
44. Demonstrasi (Demostration)
44. Demonstrasi (Demostration)
Pembelajaran
ini khusus untuk materi yang memerlukan peragaan media atau eksperimen.
Langkahnya adalah: informasi kompetensi, sajian gambaran umum materi bahan
ajar, membagi tugas pembahasan materi untuk tiap kelompok, menunjuk siswa atau
kelompok untuk mendemonstrasikan bagiannya, dikusi kelas, penyimpulan dan
evaluasi, refleksi.
45. Intruksi Eksplisit (Explicit Instruction)
Pembelajaran
ini cocok untuk menyampaikan materi yang sifatnya algoritma-prosedural, langkah
demi langkah bertahap. Sintaknya adalah: sajian informasi kompetensi,
mendemontrasikan pengetahuan dan ketrampilan prosedural, membimbing
pelatihan-penerapan, mengecek pemahaman dan balikan, penyimpulan dan evaluasi,
refleksi.
46. Acak Kata (Scramble)
Sintaknya
adalah: buatlah kartu soal sesuai marteri bahan ajar, buat kartu jawaban dengan
diacak nomornya, sajikan materi, membagikan kartu soal pada kelompok dan kartu
jawaban, siswa berkelompok mengerjakan soal dan mencari kartu soal untuk
jawaban yang cocok.
47. Saling Mengecek (Pair Checks)
Siswa
berkelompok berpasangan sebangku, salah seorang menyajikan persoalan dan
temannya mengerjakan, pengecekan kebenaran jawaban, bertukar peran, penyimpulan
dan evaluasi, refleksi.
48.
Mencocokan (Make-A Match)
Guru
menyiapkan kartu yang berisi persoalan-permasalahan dan kartu yang berisi
jawabannya, setiap siswa mencari dan mendapatkan sebuah kartu soal dan berusaha
menjawabnya, setiap siswa mencari kartu jawaban yang cocok dengan persoalannya
siswa yang benar mendapat nilai-reward, kartu dikumpul lagi dan dikocok, untuk
babak berikutnya pembelajaran seperti babak pertama, penyimpulan dan evaluasi,
refleksi.
49. Peta Pikiran (Mind Mapping)
Pembelajaran
ini sangat cocok untuk mereview pengetahuan awal siswa. Sintaknya adalah:
informasi kompetensi, sajian permasalahan terbuka, siswa berkelompok untuk
menanggapi dan membuat berbagai alternatif jawaban, presentasi hasil diskusi
kelompok, siswa membuat kesimpulan dari hasil setiap kelompok, evaluasi dan
refleksi.
50.
Contoh dan Bukan Contoh (Examples Non Examples)
Persiapkan
gambar, diagram, atau tabel sesuai materi bahan ajar dan kompetensi, sajikan
gambar ditempel atau pakai OHP, dengan petunjuk guru siswa mencermati sajian,
diskusi kelompok tentang sajian gambar tadi, presentasi hasil kelompok,
bimbingan penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
51. Gambar dan Bukan Gambar (Picture and Picture)
Sajian
informasi kompetensi, sajian materi, perlihatkan gambar kegiatan berkaitan
dengan materi, siswa (wakil) mengurutkan gambar sehingga sistematik, guru
mengkonfirmasi urutan gambar tersebut, guru menanamkan konsep sesuai materi bahan
ajar, penyimpulan, evaluasi dan refleksi.
52. Skript Kooperatif (Cooperative Script)
Buat
kelompok berpasangan sebangku, bagikan wacana materi bahan ajar, siswa
mempelajari wacana dan membuat rangkuman, sajian hasil diskusi oleh salah
seorang dan yang lain menanggapi, bertukar peran, penyimpulan, evaluasi dan
refleksi.
53. LAPS-Heuristik
Heuristik
adalah rangkaian pertanyaan yang bersifat tuntunan dalam rangka solusi masalah.
LAPS (Logan Avenue Problem Solving) dengan kata Tanya apa masalahnya, adakah
alternative, apakah bermanfaat, apakah solusinya, dan bagaimana sebaiknya
mengerjakannya. Sintaks: pemahaman masalah, rencana, solusi, dan pengecekan.
54.
Improve
Improve
singkatan dari Introducing new concept, Metakognitive questioning, Practicing,
Reviewing and reducing difficulty, Obtaining mastery, Verivication, Enrichment.
Sintaknya adalah sajian pertanyaan untuk mengantarkan konsep, siswa latihan dan
bertanya, balikan-perbaikan-pengayaan-interaksi.
55. Generatif
55. Generatif
Basis
generatif adalah konstruksivisme dengan sintaks orintasi-motivasi, pengungkapan
ide-konsep awal, tantangan dan restrukturisasi sajian konsep, aplikasi,
rangkuman, evaluasi, dan refleksi
56. Pembelajaran Sirkuit (Circuit Learning)
Pembelajaran
ini adalah dengan memaksimalkan pemberdayaan pikiran dan perasaan dengan pola bertambah
dan mengulang. Sintaknya adalah kondisikan situasi belajar kondusif dan fokus,
siswa membuat catatan kreatif sesuai dengan pola pikirnya-peta konsep-bahasa
khusus, Tanya jawab dan refleksi
57. Melengkapi Kata (Complette Sentence)
57. Melengkapi Kata (Complette Sentence)
Pembelajaran
dengan model melengkapi kalimat adalah dengan sintaks: sisapkan blanko isian
berupa paragraf yang kalimatnya belum lengkap, sampaikan kompetensi, siswa
ditugaskan membaca wacana, guru membentuk kelompok, LKS dibagikan berupa
paragraph yang kaliatnya belum lengkap, siswa berkelompok melengkapi,
presentasi.
58. Konsep Kata (Concept Sentence)
Prosedurnya
adalah penyampaian kompetensi, sajian materi, membentuk kelompok heterogen,
guru menyiapkan kata kunci sesuai materi bahan ajar, tiap kelompok membuat
kalimat berdasarkan kata kunci, presentasi.
59.
Mencuri Waktu (Time Token)
Model ini
digunakan (Arebds, 1998) untuk melatih dan mengembangkan keterampilan sosial
agar siswa tidak mendominasi pembicaraan atau diam sama sekali. Langkahnya
adalah kondisikan kelas untuk melaksanakan diskusi, tiap siswa diberi kupon
bahan pembicaraan (1 menit), siswa berbicara (pidato-tidak membaca) berdasarkan
bahan pada kupon, setelah selesai kupon dikembalikan.
60.
Memberi dan Menerima (Take and Give)
Model
pembelajaran menerima dan memberi adalah dengan sintaks, siapkan kartu dengan
yang berisi nama siswa - bahan belajar - dan nama yang diberi, informasikan
kompetensi, sajian materi, pada tahap pemantapan tiap siswa disuruh berdiri dan
mencari teman dan saling informasi tentang materi atau pendalaman-perluasannya
kepada siswa lain kemudian mencatatnya pada kartu, dan seterusnya dengan siswa
lain secara bergantian, evaluasi dan refleksi
61. Superitem
Pembelajaran
ini dengan cara memberikan tugas kepada siswa secara bertingkat-bertahap dari
simpel ke kompleks, berupa pemecahan masalah. Sintaksnya adalah ilustrasikan
konsep konkret dan gunakan analogi, berikan latihan soal bertingkat, berikan
soal tes bentuk super item, yaitu mulai dari mengolah informasi-koneksi
informasi, integrasi, dan hipotesis.
62. Hibrid
Model
hibrid adalah gabungan dari beberapa metode yang berkenaan dengan cara siswa
mengadopsi konsep. Sintaknya adalah pembelajaran ekspositori,
koperatif-inkuiri-solusi-workshop, virtual workshop menggunakan
computer-internet.
63. Treffinger
63. Treffinger
Pembelajaran
kreatif dengan basis kematangan dan pengetahuan siap. Sintaks:
keterbukaan-urutan ide-penguatan, penggunaan ide kreatif-konflik
internal-skill, proses rasa-pikir kreatif dalam pemecahan masalah secara
mandiri melalui pemanasan-minat-kuriositi-tanya, kelompok-kerjasama,
kebebasan-terbuka, reward.
64. Kumon
Pembelajaran
dengan mengaitkan antar konsep, ketrampilan, kerja individual, dan menjaga
suasana nyaman-menyenangkan. Sintaksnya adalah: sajian konsep, latihan, tiap
siswa selesai tugas langsung diperiksa-dinilai, jika keliru langsung dikembalikan
untuk diperbaiki dan diperiksa lagi, lima kali salah guru membimbing.
65. Quantum
Memandang
pelaksanaan pembelajaran seperti permainan musik orkestra-simfoni. Guru harus
menciptakan suasana kondusif, kohesif, dinamis, interaktif, partisipatif, dan
saling menghargai. Prinsip quantum adalah semua berbicara-bermakna, semua
mempunyai tujuan, konsep harus dialami, tiap usaha siswa diberi reward.
Strategi quantum adalah tumbuhkan minat dengan AMBak, alami-dengan dunia
realitas siswa, namai-buat generalisasi sampai konsep, demonstrasikan melalui
presentasi-komunikasi, ulangi dengan Tanya jawab-latihan-rangkuman, dan rayakan
dengan reward dengan senyum-tawa-ramah-sejuk-nilai-harapan.(muhfida.com)
66. Uji Praktek Mengajar (Lesson Study)
Lesson
Study adalah suatu metode yang dikembangkan
di Jepang yang dalam bahasa Jepangnya disebut Jugyokenkyuu. Istilah lesson
study sendiri diciptakan oleh Makoto Yoshida. Lesson Study merupakan suatu proses dalam mengembangkan
profesionalitas guru-guru di Jepang dengan jalan menyelidiki/ menguji praktik
mengajar mereka agar menjadi lebih efektif.
67. Metode
ceramah (lecturer)
Metode ceramah adalah penyajian
pelajaran oleh guru dengan cara memberikan penjelasan secara lisan kepada
siswa. Penggunaan metode ceramah sangat tergantung pada kemampuan guru. Hal ini
karena metode ceramah mudah disajikan dan tidak banyak memerlukan media.
68. Metode Tukar Pendapat (Brainstorming)
Metode tanya jawab adalah cara
penyampaian suatu pelajaran melalui interaksi dua arah dari guru kepada siswa
atau dari siswa kepada guru agar diperoleh jawaban kepastian materi melalui
jawaban lisan guru atau siswa. Dalam metode tanya jawab, guru dan siswa
sama-sama aktif. Siswa dituntut untuk aktif agar mereka tidak tergantung pada
keaktifan guru.
Metode diskusi adalah cara memecahkan
masalah yang dipelajari melalui urun pendapat dalam diskusi kelompok. Dalam
pembelajaran dengan metode diskusi ini makin lebih memberi peluang pada siswa
untuk terlibat secara aktif dalam pembelajaran walaupun guru masih menjadi
kendali utama.
69. Metode Karya wisata (study Tour/Field
Tripp)
Metode Karya wisata adalah metode pembelajaran yang dilakukan untuk
mempelajari materi pelajaran dengan cara mengunjungi secara langsung tempat
dimana materi pelajaran itu berada
70. Metode
Penemuan (discovery Learning)
Metode
Penemuan adalah
prosedur pembelajaran yang mementingkan pembelajaran perorangan, manipulasi
objek, dan percobaan sebelum sampai kepada generalisasi. Setiap metode
pembelajaran dibahas menurut pengertian, tujuan, alasan penggunaan, kekuatan
dan kelemahannya, cara mengatasi kelemahan, dan langkah-langkah pelaksanaan
pembelajaran.
71. Metode Eksperimen
Metode
Eksperimen adalah prosedur pembelajaran yang memungkinkan siswa melakukan
percobaan untuk membuktikan sendiri sesuatu pertanyaan atau hipotesis yang
dipelajari.
72. Metode Pembelajaran
Unit
Metode
Pembelajaran Unit adalah prosedur pembelajaran dimana siswa dan guru mengarahkan
segala kegiatannya pada pemecahan suatu masalah yang dipelajarinya melalui
berbagai segi yang berhubungan sehingga pemecahannya secara keseluruhan dan
bermakna.
73. Metode
Pembelajaran dengan Modul
Metode
Pembelajaran dengan Modul adalah prosedur pembelajaran yang
dilakukan dengan menyiapkan suatu paket belajar yang berisi satu satuan konsep
tunggal bahan pembelajaran untuk dipelajari sendiri oleh siswa dan jika ia
telah menguasainya baru boleh pindah ke satuan paket belajar berikutnya.
74. Permainan (Games)
Game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan yang dirancang untuk menguji pengetahuan
yang didapat siswa dari penyajian kelas dan belajar kelompok. Kebanyakan game
terdiri dari pertanyaan-pertanyaan sederhana bernomor. Siswa memilih kartu
bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu. Siswa
yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya
dikumpulkan siswa untuk turnamen mingguan.
75. Turnamen
Biasanya turnamen dilakukan pada
akhir minggu atau pada setiap unit setelah guru melakukan presentasi kelas dan
kelompok sudah mengerjakan lembar kerja. Turnamen pertama guru membagi siswa ke
dalam beberapa meja turnamen. Tiga siswa tertinggi prestasinya dikelompokkan
pada meja I, tiga siswa selanjutnya pada meja II dan seterusnya.
77. Team recognize (penghargaan kelompok)
Guru kemudian mengumumkan kelompok
yang menang, masing-masing team akan mendapat sertifikat atau hadiah apabila
rata-rata skor memenuhi kriteria yang ditentukan. Team mendapat julukan “Super Team” jika rata-rata skor 45 atau
lebih, “Great Team” apabila rata-rata
mencapai 40-45 dan “Good Team”
apabila rata-ratanya 30-40.
PRAKTIK PEMBELAJARAN
DENGAN MENGGUNAKAN ANEKA MODEL, STRATEGI, DAN METODE
- Metode Debat
- Metode Role Playing
- Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)
- Metode Ceramah
- Metode Inkuiri
- Metode Tanya jawab
- Metode Demonstrasi
- Metode Diskusi
- Metode Simulasi
- Metode Pemberian tugas
- Metode Kerja kelompok
- Metode Karya Wisata
- Metode Penemuan
- Metode Eksperimen
- Metode Pembelajaran Unit
- Metode Pembelajaran dengan Modul
- Pembelajaran Kontekstual
- Pembelajaran Tematik
- Strategi Pembelajaran Ekspositorik
- Strategi Pembelajaran Heuristik
- Strategi Pembelajaran Deduktif
- Strategi Pembelajaran Induktif
- Strategi Pembelajaran Tertutup
- Strategi Pembelajaran Terbuka
- Strategi Pembelajaran Individual
- Strategi Pembelajaran Kelompok Kecil
- Strategi Pembelajaran Klasikal
- Pembelajaran Berdasarkan Masalah
- Cooperative Script
- Picture and Picture
- Numbered Heads Together
- Kepala Bernomor Struktur
- Artikulasi
- Mind Mapping
- Make a match (mencari pasangan)
- Think Pair and Share
- Talking Stick (tongkat Bicara)
- Bertukar Pasangan
- Snowball throwing
- Student facilitator and explaining
- Course Review Horay
- Explisit instruction
- Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
- Inside – Outside Circle (Lingkaran Kecil – Lingkaran Besar)
- Tebak Kata
- Word Square
- Scramble
- Take and Give
- Concept Sentence
- Complete Sentence
- Time Token
- Keliling Kelompok
- Tari Bambu
- Dua Tinggal Dua Tamu (Two Stay Two Stray)
- Metode Investigasi Kelompok (Group Investigation)
- Metode Jigsaw
- Metode Team Games Tournament (TGT)
- Model Student Teams Achievement Divisions (STAD)
- Model Examples Non Examples
- Model Lesson Study
- Superitem
- Hibrid
- Treeffinger
- Kumon
- Quantum
TEORI-TEORI
PEMBELAJARAN
A.
Teori-Teori Belajar
Psikologi Kognitif
1.
Teory Belajar Gestalst
Psikologi kognitif mulai berkembang dengan lahirnya
teory belajar Gestalt. Peletak dasar psikologi Gestalt adalah Mex
Wertheimer (1880-1943) yang meneliti tentang pengamatan dan problem solving.
Wertheimer (1945) menjadi seorang Gestaltis yang mula-mula menghubungkan
pekerjaannya dengan proses belajar di kelas. Menyesalkan penggunaan metode
menghafal di sekolah dan menghendaki agar murid belajar dengan pengertian,
bukan hafalan akademis.
Menurut pandangan Gestalt, semua kegiatan
belajar menggunakan instinght atau pemahaman terhadap hubungan-hubungan terutama
hubungan-hubungan antara bagian dan keseluruhan. Menurut psikologi Gestalt,
tingkat kejelasan dan keberartian dari apa yang diamati dalam situasi belajar
adalah lebih meningkatkan belajar seseorang daripada dengan hukum dan ganjaran.
2.
Teory Belajar Cognitive-Field dari Lewin
Bertolak dari penemuan Gestalt Psychology,
Kurn Lewin (1892-1947) mengembangkan suatu teori belajar cognitivefield dengan
menaruh perhatian kepada kepribadian dan psikologi sosial. Lewin berpendapat
bahwa tingkah laku merupakan hasil interaksi antar kekuatan-kekuatan, baik yang
dari dalam individu seperti tujuan, kebutuhan, tekanan jiwa, maupun dari luar
individu seperti tantangan dan permasalahan.
Menurur Lewin, belajar berlangsung sebagai
akibat dari perubahan dalam unsur kognitif. Perubahan struktur kognitif itu
adalah hasil dari dua macam kekuatan, satu dari struktur medan kognisi itu sendiri, yang lainnya dari
kebutuhan dan motivasi internal individu. Lewin memberikan peranan yang lebih
penting dari pada motivasi dari reward.[1]
3.
Teory Belajar Cognitive Developmental dari Piaget
Dalam teorinya, Piaget memandang
bahwa proses berpikir sebagai aktivitas gradual dari fungsi intelektual dari
kongkret menuju abstak. Menurut Piaget, pertumbuhan kapasitas mental memberikan
kemampuan-kemampuan mental baru yang sebelumnya tidak ada. Pertumbuhan
intelektual adalah tidak kuantitatif, melainkan kualitatif. pertumbuhan
struktur yang memungkinkan individu mengalami penyesuaian diri dengan
lingkungan, penyesuaian/adaptasi manusia serta meneliti perkembangan
intelektual atau kognisi berdasarkan dalil bahwa struktur intelektual terbentuk
di dalam individu akibat interaksinya dengan lingkungan.[2]
B. Teori Gaya Pembelajaran
Setiap individu
memiliki gaya
pembelajaran yang berbeda. Demikian
juga,para pendidik memiliki pandangan yang
berbeda tentang gaya
pembelajaran.
Menurut Dunn (1980), gaya pembelajaran adalah cara seseorang
pelajar memproses serta mempertahankan informasi baru. Gaya pembelajaran tergantung ke perkembangan
kepribadian seseorang dan ia dipengaruhi oleh lingkungan, emosi, pengaruh
sosial serta perasaan individu. Akibatnya,
sesuatu pengajaran dapat efektif bagi seorang
mahasiswa namun tidak efektif bagi siswa yang lain karena gaya pembelajaran mereka berbeda.
Renzulli and Smith (1978),
mendefinisikan gaya
pembelajaran sebagai satu bidang strategi pengajaran yang mana siswa mencoba
menuntut pembelajaran. Mereka berpendapat bahwa siswa dapat belajar dengan
lebih efektif jika pengajaran guru sejalan dengan gaya pembelajaran pelajar.
Kolb (1985),
dapat menggambarkan empat model pembelajaran yang dasar hasil dari kombinasi
pengalaman siswa dan kebutuhan lingkungan. Ia berpendapat bahwa dalam proses pembelajaran, semua siswa yang efektif
perlu mampu segi pengalaman beton (concrete experience), pengamatan reflektif
(Reflective jenis), konseptualisasi abstrak (abstract conceptualization) dan
eksperimentasi aktif (active experimentation).
Keefe (1987), berpendapat bahwa gaya pembelajaran
mencakup tiga aspek, yaitu kognitif, afektif dan kejiwaan. Gaya kognitif melibatkan pememprosesan
informasi, gaya
afektif melibatkan reaksi yang berdasarkan motivasi sedangkan gaya kejiwaan bersifat tabiat yang
berhubungan dengan unsur-unsur seks, kesehatan dan lingkungan. Ia
mendefinisikan pembelajaran sebagai satu proses
internal dan berpendapat bahwa pembelajaran hanya berlaku apabila ada perubahan
tabiat baik secara permanen atau sementara bagi seseorang individu
C. Teori Konstruktivisme
Teori konstruktivisme berasumsi bahwa siswa belajar sedikit demi sedikit
dari konteks yang terbatas kemudian siswa mengkonstruksi sendiri pemahamannya
dan pemahaman tersebut diperoleh dari pengalaman belajar yang bermakna.
(rmakoe,2009)
Pendekatan konstruktivisme adalah
salah satu pandangan tentang proses pembelajaran yang menyatakan bahwa proses belajar diawali dengan terjadinya
konflik kognitif (Sitanto,2009)
Pendekatan konstruktivisme dalam pembelajaran merupakan pendekatan
pembelajaran dimana pengetahuan baru tidak diberikan dalam bentuk jadi (final),
tetapi siswa membentuk sendiri pengetahuannya melalui interaksi dengan
lingkungannya dalam proses asimilasi dan akomodasi. (Kusuma,2003)
D. Teori Pendekatan Deduktif
dan Iinduktif
Pendekatan deduktif merupakan pendekatan yang mengutamakan penalaran
dari umum ke khusus. Langkah-langkah
yang dapat ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan deduktif
dijelaskan sebagai berikut (1) guru memilih konsep, prinsip,aturan yang akan
disajikan, (2) guru menyajikan aturan, prinsip yang berifat umum,lengkap dengan
definisi dan contoh-contohnya, (3) guru menyajikan contoh-contohkhusus agar
siswa dapat menyusun hubungan antara keadaan khusus dengan aturanprinsip umum
yang didukung oleh media yang cocok, (4) guru menyajikan bukti-buktiuntuk
menunjang atau menolak kesimpulan bahwa keadaan umum itu merupakan gambaran
dari keadaan khusus.
Pendekatan
induktif dikembangkan oleh filosof Perancis Bacon yang menghendaki penarikan
kesimpulan didasarkan atas fakta-fakta yang kongkrit banyak mungkin. (Inisiasi
PKn)
Langkah-langkah yang
harus ditempuh dalam model pembelajaran dengan pendekatan induktif yaitu: (1)
guru memilih konsep, prinsip, aturan yang akan disajikan dengan pendekatan
induktif (2) guru menyajikan contoh-contoh khusus, prinsip, atau aturan
yang memungkinkan siswa memperkirakan sifat umum yang terkandung dalam contoh,
(3) guru menyajikan bukti yang berupa contoh tambahan untuk menunjang atau
mengangkat perkiraan, (4) menyimpulkan, memberi penegasan dari beberapa contoh
kemudian disimpulkan dari contoh tersebut serta tindak lanjut.
E. Teori Pendekatan Konsep dan
Proses
Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan di mana siswa dibimbing
memahami suatu bahasan dengan memahami konsep-konsep yang terkandung
didalamnya. (Amiruddin,2009) Dalam proses pembelajaran tersebut penguasaan
konsep dan subkonsep yang menjadi sasaran utama pembelajaran. Pendekatan ini kurang
memperhatikan aspek student centre. Guru terlalu dominan dan siswa
membimbing untuk memahami konsep. Pendekatan konsep adalah suatu pendekatan
yang menekankan pada perolehan dan pemahaman fakta dan prinsip. Sedangkan
pendekatan proses atau dikenal dengan pendekatan keterampilan proses menekankan
pada bagaimana bahan pelajaran itu diajarkan dan dipelajari. (Zaifbio,2009)
Pendekatan proses
adalah suatu pendekatan yang mempunyai tujuan utama pembelajaran adalah
mengembangkan kemampuan siswa dalam keterampilan proses atau langkah-langkah
ilmiah seperti melakukan pengamatan, menafsirkan data, dan mengkomunikasikan
hasil pengamatan. (Amiruddin,2009)
F. Teori Pendekatan
Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM)
Pendekatan sains,
teknologi dan masyarakat (STM) atau biasa juga di Indonesia disebut dengan
Salingtemas (sains-lingkungan-teknologi-masyarakat) mulai berkembang pada
dasarwarsa 70-an, sebagai reaksi dari pola pengajaran sains post-Sputnik.
(Sumintono,2008)
Pendekatan sains teknologi dan masyarakat yang di dalam bahasa Inggris
disebut "Science Technology and Society" merupakan suatu pendekatan
terpadu antara sains, teknologi, dan issu teknologi yang ada di
masyarakat.(Astuti,2001) Dengan pendekatan ini, peserta didik dikondisikan agar
mau dan mampu menerapkan prinsip sains untuk menghasilkan karya teknologi
sederhana yang diikuti dengan pemikiran untuk mengatasi dampak negatif yang
mungkin timbul dari munculnya produk teknologi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar